Newest Post
Archive for 2015
PART2
dia terus menari dan mendekat sampai kahirnya aku mampu melihat wajahnya.
***********************
Kepalanya miring dengan garis yang tidak wajar dan matany melotot menghadap langit, dengan senym yang lebar dan mengerikan tersungging di wajahnya, senyum yang hanya kan kau lihat di film kartun. tatapan liar dan senyumnya yang tidak masuk akal sudah membuatku ketakutan dan segera menyebrang jalan untuk menjauh darinya. aku tidak berhenti memperhatiknnya. Saat sampai di sebrang jalan dan menghentikan langkahku. dia tak lagi menari dan kini dia berdiri dengan salah satu kakinya dan menghadapku namun tetap melihat keatas. tentu dengan senyum aneh yang masih merekah lebar.
***********************
Saat itu aku sudah sangat gugup,aku mulai berjalan namun tetap enggan untukmelepaskan pandanganku darinya.
saat itu aku telah mencapai jarak setengah blok, aku menoleh kedepan untuk beberapa saat, hanya untuk memastikan bahwa jalanan dan trotoar di hadapanku benar-benar lenggang. masih dalam keadaan gugup , aku berbalik kembali ke arah pria tadi berdiri dan mendapati dirinya telah lenyap.
***********************
Aku sempat lega untuk berberapa saat..... sampai kau melihatnya lagi, kali ini dia sudah ikut menyebrang, aku tak dapat melihatnya dengan jelas , karena jarak kami sekarang sudah cukup jauh dan pekatnya gelap malam menutupi sosok orang aneh itu. tapi aku sangat yakin dia sedang menatapku. tak lebih dari 10 detik aku mengalihkan pandanganku darinya, jadi sudah pasti dengan cepat.
***********************
Aku begitu terkejut saat itu hingga tak dapat bergerak, ketika dia mulai berjalan menuju kearahku lagi, dia mengambil langkah-langkah besar, seperti seseorang sedang berjinjit, namun dengan kecepatan tinggi. aku harus bilang bahwa semestinya aku kabur waktu itu, atau mengambil ponselku dan mulai menghubungi seseorang tapi tidak. aku hanya diam membeku menyaksikannya berjingkat ke arahku.
This story particular to friend in Kalimantan named sri-yanti ;)Awalnya ku kira dia sedang mabuk, jadi aku melangkah kepinggir terotoar, memberinya cukup ruang untuk melewatiku, tapi dia semakin mendekat dan aku makin menydarai sosoknya ynag sungguh aneh, tubuhnya begitu kurus dan tinggi semampai, serta mengenakan setelan yang ketingglan zaman.
dia terus menari dan mendekat sampai kahirnya aku mampu melihat wajahnya.
***********************
Kepalanya miring dengan garis yang tidak wajar dan matany melotot menghadap langit, dengan senym yang lebar dan mengerikan tersungging di wajahnya, senyum yang hanya kan kau lihat di film kartun. tatapan liar dan senyumnya yang tidak masuk akal sudah membuatku ketakutan dan segera menyebrang jalan untuk menjauh darinya. aku tidak berhenti memperhatiknnya. Saat sampai di sebrang jalan dan menghentikan langkahku. dia tak lagi menari dan kini dia berdiri dengan salah satu kakinya dan menghadapku namun tetap melihat keatas. tentu dengan senyum aneh yang masih merekah lebar.
***********************
Saat itu aku sudah sangat gugup,aku mulai berjalan namun tetap enggan untukmelepaskan pandanganku darinya.
saat itu aku telah mencapai jarak setengah blok, aku menoleh kedepan untuk beberapa saat, hanya untuk memastikan bahwa jalanan dan trotoar di hadapanku benar-benar lenggang. masih dalam keadaan gugup , aku berbalik kembali ke arah pria tadi berdiri dan mendapati dirinya telah lenyap.
***********************
Aku sempat lega untuk berberapa saat..... sampai kau melihatnya lagi, kali ini dia sudah ikut menyebrang, aku tak dapat melihatnya dengan jelas , karena jarak kami sekarang sudah cukup jauh dan pekatnya gelap malam menutupi sosok orang aneh itu. tapi aku sangat yakin dia sedang menatapku. tak lebih dari 10 detik aku mengalihkan pandanganku darinya, jadi sudah pasti dengan cepat.
***********************
Aku begitu terkejut saat itu hingga tak dapat bergerak, ketika dia mulai berjalan menuju kearahku lagi, dia mengambil langkah-langkah besar, seperti seseorang sedang berjinjit, namun dengan kecepatan tinggi. aku harus bilang bahwa semestinya aku kabur waktu itu, atau mengambil ponselku dan mulai menghubungi seseorang tapi tidak. aku hanya diam membeku menyaksikannya berjingkat ke arahku.
Tag :// CREEPYPASTA
SALAM HOOOOHAAAA
bagai mana puasa kalian lancar???untuk menemani puasa para reader saya buatkan cerita horor heheheh.
SELAMAT MENIKMATI CERITA
**************************
Hal ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu saat aku masih tinggal di sebuah apartemen di kota besar,aku adalah seorang pengidap insomnia akut, jadi saat teman kamarku sudah tidur, aku sering pergi keluar untuk menghabiskan waktu. aku berjalan sendirian dalam kegelapan malam, aku tidak punya alasan untuk merasa takut,sampai malam itu,malam yang mengubah hidupku untuk selamanya.
**************************
Saat itu hari rabu, sekitar jam satu atau dua tengah malam, aku sedang berjalan menyusuri taman yang jaraknya lumayan jauh dari apartemen, malam begitu sunyi, tidak ada satupun kendaraan yang berlalu lalang. jalanan benar-benar kosong. aku berbalik dan berjalan di atas trotoar, hendak kembali ke apartemenku, saat itulah pertama kali aku melihatnya di ujung jalan.
**************************
Aku melihat siluet seorang pria, dan dia sedang menari. itu adalah tarian yang aneh, mungkin mirip waltz, dan dia mengakhiri setiap gerakan dengan sebuah hentakan kedepan, kurasa kau boleh membayangkan bahwa dia menari sambil berjalan, dan menuju tepat ke arahaku.

bagai mana puasa kalian lancar???untuk menemani puasa para reader saya buatkan cerita horor heheheh.
SELAMAT MENIKMATI CERITA
This story particular to friend in Kalimantan named sri-yanti ;)
**************************
Hal ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu saat aku masih tinggal di sebuah apartemen di kota besar,aku adalah seorang pengidap insomnia akut, jadi saat teman kamarku sudah tidur, aku sering pergi keluar untuk menghabiskan waktu. aku berjalan sendirian dalam kegelapan malam, aku tidak punya alasan untuk merasa takut,sampai malam itu,malam yang mengubah hidupku untuk selamanya.
**************************
Saat itu hari rabu, sekitar jam satu atau dua tengah malam, aku sedang berjalan menyusuri taman yang jaraknya lumayan jauh dari apartemen, malam begitu sunyi, tidak ada satupun kendaraan yang berlalu lalang. jalanan benar-benar kosong. aku berbalik dan berjalan di atas trotoar, hendak kembali ke apartemenku, saat itulah pertama kali aku melihatnya di ujung jalan.
**************************
Aku melihat siluet seorang pria, dan dia sedang menari. itu adalah tarian yang aneh, mungkin mirip waltz, dan dia mengakhiri setiap gerakan dengan sebuah hentakan kedepan, kurasa kau boleh membayangkan bahwa dia menari sambil berjalan, dan menuju tepat ke arahaku.
Tag :// CREEPYPASTA
- Kembar - Part 4
Terdengar langkah terburu-buru milik seorang wanita setengah baya. Ia berjalan seorang diri menuju suatu tempat yang tak pernah orang lain ketahui dan jarang sekali di kunjungi. Tanpa Ia sadari ternyata sebuah pasang memperhatikannya dari arah kejauhan, pemilik mata itu mengikutinya dari belakang karena curiga wanita itu akan melakukan apa yang di katakannya waktu itu. Dan benar saja perempuan itu berhenti pada sebuah tempat yang sepi, hanya dikelilingi pohon-pohon besar yang sangat tinggi hingga menyebabkan menghalangi sinar matahari siang itu. Menimbulkan suasana yang agak gelap dan cukup mencekam, apalagi kalau malam hari. Wanita itu mendongakkan kepalanya melihat ke segela penjuru sambil berputar.
“Aku tau kau pasti ada disini. Aku ingin menawarkan sesuatu padamu.”
Lelaki yang tadi mengikutinya pun bersembunyi tak jauh dari tempat tersebut. Ia mengerutkan kening dan nampak gelisah.
“Ternyata dia benar-benar melakukannya. Aku harus mencegahnya sebelum terlambat dan segalanya akan fatal.” Gumamnya
Laki-laki itu keluar dari persembunyiannya dan segera meraih tangan wanita itu lalu menariknya dan membawa pergi dengan langkah cepat.
“Hey, lepaskan tanganku.” Ucapnya sambil berusaha melepaskan tangannya. Pria itu tidak mendengarkannya dan tetap memegang tangannya untuk dibawa pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah pria itu baru melepaskan tangan perempuan tersebut.
“Kau sungguh tidak waras!” Ucapnya setengah membentak
“Mengapa kau menggagalkan rencanaku?”
“Aku tidak akan membiarkanmu memberikan darah daging kita kepada iblis itu!”
“Dia hanya membawa sial dan mengganggu Laura!”
“Dia tidak mengganggu Laura, itu hanya opinimu karena kau membencinya.”
“Terserah, aku tak perduli. Pokoknya aku akan tetap melakukannya.”
“Sampai hati kau lakukan, aku tidak akan segan membunuhmu!”
“Aku yakin kau tidak akan tega seperti itu kepadaku, sayang.”
“Tapi bukan hal yang sulit jika kau benar melakukannya, istriku.”
***
Sementara itu nampaknya Laura lupa akan buku harian yang hendak dibacanya waktu itu, bahkan Ia sendiri lupa dimana meletakkannya. Dan kini Ia mencari-carinya
“Kemana buku itu? Seingatku ada di meja waktu terakhir kali aku hendak membacanya. Tapi kenapa sekarang tidak ada?” Ujarnya bertanya-tanya
“Ah, sudahlah. Nanti juga ketemu sendiri.”
Kemudian Ia berlalu pergi meninggalkan kamarnya dan menutup pintu. Lalu pergi berangkat sekolah.
“Laura..” Terdengar suara bisikan lembut seorang perempuan.
“Hey, aku disini.”
Ia mencari asal suara itu.
“Tarrrraaa..!!”
“Aaaaaaaaaaaaaakk..!”
“Hahahaha”
“Marsha, kau ini! Senang sekali berlaku seperti itu.”
“Hehehe, kau mau ke sekolah ya?”
“Iya, kenapa?”
“Boleh aku ikut?”
“Eh? Memangnya kamu tidak sekolah?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau.”
“Hah?”
“Sudahlah, ayo. Nanti kita terlambat.”
“Tunggu, apa kau mau kesekolah dengan pakaian seperti ini?”
“Tenang saja, mereka tidak akan ngeh.”
“Hah?”
Laura mengerutkan kening sambil memperhatikan pakaian yang dipakai Marsha. Gadis itu menggunakan dress putih sampai lutut dan flatshoes berwarna putih juga. Sungguh Ia tidak yakin akan pergi sekolah dengan baju Marsha yang seperti itu.
“Tak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Marsha meraih tangan Laura dan berjalan mendahului. Laura tampak kebingungan melihat langkah Marsha yang mendahuluinya sambil berpikir apakah dia tau dimana sekolah Marsha.
“Tenang saja, aku tau kok sekolahmu.”
“Eh?”
Laura terkejut Marsha mengetahui apa yang ada dipikirannya.
“Kenapa? Pasti terkejut aku dapat membaca pikiranmu ya?”
“Hehehe”
“Nah, ini sekolahmu kan?”
Keduanya sampai di depan gerbang sekolah dan mulai memasuki gerbang melangkah menuju kelas.
“Kau juga ikut ke kelas denganku?”
“Tentu saja, hari ini aku akan mengikutimu terus.”
“Walaupun guru datang dan pelajaran telah di mulai?”
“Iya, Laura.”
“Tapi bagaimana dengan...........................................”
“Sudah ku katakan tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Laura makin kebingungan. Dan benar saja saat bel sekolah sudah mulai berbunyi menandakan waktuny kelas di mulai, Ia melihat Marsha masih ada di kelas. Duduk di sebelah Ayu seketaris kelasnya. Kebetulan saat ini Isti teman sebangkunya tidak masuk, izin katanya. Laura sendiri tidak tahu apakah itu benar atau hanya supaya alfa di absennya tidak semakin bertambah mengetahui Isti memang jarang masuk entah untuk alasan apa. Marsha tampak asyik mengikuti pelajaran saat Laura memperhatikannya dari kejauhan, hanya berjarak 2 bangku darinya.
Akhirnya pelajaran kelas pun berakhir, semua murid berhamburan keluar kelas. Marsha benar-benar membuktikan perkataannya untuk mengikutinya terus. Kini mereka melangkah keluar gerbang.
“Laura, ada tempat yang ingin ku tunjukan padamu.’
“Dimanakah itu?”
“Ikut saja.”
“Tapi aku harus bilang pada ibuku dulu.”
“Tidak perlu.”
“Nanti kalau mencariku bagaimana?”
Marsha hanya tersenyum dan berjalan terus. Laura mengikutinya dan mensejajarkan langkahnya dengan Marsha.
“Memangnya kita mau kemana?”
“Suatu tempat.”
“Namanya?”
“Hhm.. Apa ya?” Marsha tampak berpikir.
“Kau ingin mengajakku ke suatu tempat tapi kau tidak tahu namanya? Mencurigakan sekali.”
“Hahaha, apa aku terlihat seperti akan menculikmu?”
“Kurasa begitu. Hahahaha”
“Itu memang benar.”
“Hah? Apanya benar?”
“Benar aku ingin menculikmu.”
“Kalau begitu apa aku harus berteriak minta tolong seperti adegan sinetron di televisi?”
“Hahahahaha. Terserah kau.”
Mereka sampai disebuah tempat yang sejuk dimana sekelilingnya terdapat pohon-pohon rindang banyak terdapat bunga seperti di taman. Suasana disekitar tempat tersebut menyenangkan dan membuat Laura betah hingga lupa akan kedua orang tuanya dan segalanya. Yang Ia tau saat ini Ia sedang bersama Marsha menikmati keadaan sekelilingnya.
***
Sudah hampir malam tapi Laura juga belum pulang ke rumah semenjak tadi pagi saat berangkat sekolah. Ibunya khawatir dan sejak tadi hanya mondar mandir menanti kehadiran anaknya pulang. Sampai suaminya datang dan melihat istrinya tengah kebingungan, cemas, serta gelisah.
“Sayang, ada apa denganmu sejak tadi terlihat risau?”
“Laura.. Laura.”
“Ada apa dengan Laura?”
“Dia belum pulang.”
“Belum pulang? Kemana dia?” Tanya suaminya yang juga mulai terlihat panik.
“Aku tidak tahu.”
“Apa kau sudah menghubungi temannya? Atau pihak sekolah?”
“Sudah.”
“Lalu apa katanya?”
“Mereka bilang, Laura sudah pulang semenjak siang saat bubaran sekolah. Bagaimana ini? Kemana kita harus mencari Laura?”
“Kita tunggu saja lagi, mungkin dia sedang belajar kelompok. Kalau sampai besok belum juga pulang baru kita lapor polisi.”
“Baiklah.” Ucapnya terlihat pasrah.
***
Sebulan berlalu, tapi Laura juga belum pulang dan di temukan. Kedua orang tuanya sudah lapor polisi dan polisi sedang mencarinya. Sedangkan ibunya Laura terlihat lesu dan terlihat agak kurus, sering tidur mengigau dan memanggil-manggil Laura. Suaminya kasihan melihat keadaan istrinya, Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Pria itu beranjak dari tempatnya menuju kamar Laura yang sudah 30 hari ini kosong karena Laura belum juga kembali sejak hilang. Ia melihat sebuah buku tergeletak di meja belajar dalam keadaan tertutup. Sesaat kemudian tiba-tiba buku itu terbuka, lelaki itu terkejut dan berjalan mendekati meja. Perlahan-lahan beberapa kalimat mulai tertulis lalu pria itu membacanya.
Catatan terakhir:
Ayah, maafkan aku telah membuat kalian resah mencari-cari Laura. Sebenarnya aku lah yang membawanya pergi dan mengajaknya ke tempatku, lalu mempengaruhinya untuk hanya memikirkan apa yang dilakukan disini dan membuatnya melupakan urusan dunia termasuk ayah juga ibu. Sekali ayah, ibu.. Maafkan aku. Aku hanya ingin bersama dan bermain dengan saudara kandungku sendiri. Maaf juga, karena aku mengambilnya dari kalian. Kalau saja dahulu ibu tidak melakukannya dan berkata kejam seperti itu aku masih dapat bisa menerimanya. Salam cinta, Marsha..
Lelaki itu diam terpaku, kini Ia mengerti dan tahu kemana anaknya hilang selama ini. Ia pun tidak dapat berbuat apa-apa selain pasrah menerimanya dan membiarkannya bersama, mungkin Tuhan pun memang menakdirkan mereka bersama meski dengan cara seperti yang Marsha lakukan.
Ia melangkah keluar meninggalkan kamar Laura, dan menguncinya rapat-rapat dan tidak berniat membukanya lagi. Sekarang Ia tengah memikirkan bagaimana cara memberitahukan hal ini kepada istrinya. Kini, ada 2 ruangan kosong dirumahnya..
Sementara itu di tempat Marsha dan Laura, keduanya terlihat bahagia bersama. Laura sama sekali tidak tahu kalau Marsha telah membawanya pergi dari kedua orangtuanya untuk selama-lamanya, Ia juga tidak tahu siapa sebenarnya Alura yang seringkali Marsha ceritakan dan juga apa isi buku harian yang hendak Ia baca waktu itu.
Dan Marsha, kini Ia dapat bersama Laura dengan selamanya tentu.
to be continue..
Note: maafkan kan part 4 yang amberegul ini. Salam sungkem.
Terdengar langkah terburu-buru milik seorang wanita setengah baya. Ia berjalan seorang diri menuju suatu tempat yang tak pernah orang lain ketahui dan jarang sekali di kunjungi. Tanpa Ia sadari ternyata sebuah pasang memperhatikannya dari arah kejauhan, pemilik mata itu mengikutinya dari belakang karena curiga wanita itu akan melakukan apa yang di katakannya waktu itu. Dan benar saja perempuan itu berhenti pada sebuah tempat yang sepi, hanya dikelilingi pohon-pohon besar yang sangat tinggi hingga menyebabkan menghalangi sinar matahari siang itu. Menimbulkan suasana yang agak gelap dan cukup mencekam, apalagi kalau malam hari. Wanita itu mendongakkan kepalanya melihat ke segela penjuru sambil berputar.
“Aku tau kau pasti ada disini. Aku ingin menawarkan sesuatu padamu.”
Lelaki yang tadi mengikutinya pun bersembunyi tak jauh dari tempat tersebut. Ia mengerutkan kening dan nampak gelisah.
“Ternyata dia benar-benar melakukannya. Aku harus mencegahnya sebelum terlambat dan segalanya akan fatal.” Gumamnya
Laki-laki itu keluar dari persembunyiannya dan segera meraih tangan wanita itu lalu menariknya dan membawa pergi dengan langkah cepat.
“Hey, lepaskan tanganku.” Ucapnya sambil berusaha melepaskan tangannya. Pria itu tidak mendengarkannya dan tetap memegang tangannya untuk dibawa pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah pria itu baru melepaskan tangan perempuan tersebut.
“Kau sungguh tidak waras!” Ucapnya setengah membentak
“Mengapa kau menggagalkan rencanaku?”
“Aku tidak akan membiarkanmu memberikan darah daging kita kepada iblis itu!”
“Dia hanya membawa sial dan mengganggu Laura!”
“Dia tidak mengganggu Laura, itu hanya opinimu karena kau membencinya.”
“Terserah, aku tak perduli. Pokoknya aku akan tetap melakukannya.”
“Sampai hati kau lakukan, aku tidak akan segan membunuhmu!”
“Aku yakin kau tidak akan tega seperti itu kepadaku, sayang.”
“Tapi bukan hal yang sulit jika kau benar melakukannya, istriku.”
***
Sementara itu nampaknya Laura lupa akan buku harian yang hendak dibacanya waktu itu, bahkan Ia sendiri lupa dimana meletakkannya. Dan kini Ia mencari-carinya
“Kemana buku itu? Seingatku ada di meja waktu terakhir kali aku hendak membacanya. Tapi kenapa sekarang tidak ada?” Ujarnya bertanya-tanya
“Ah, sudahlah. Nanti juga ketemu sendiri.”
Kemudian Ia berlalu pergi meninggalkan kamarnya dan menutup pintu. Lalu pergi berangkat sekolah.
“Laura..” Terdengar suara bisikan lembut seorang perempuan.
“Hey, aku disini.”
Ia mencari asal suara itu.
“Tarrrraaa..!!”
“Aaaaaaaaaaaaaakk..!”
“Hahahaha”
“Marsha, kau ini! Senang sekali berlaku seperti itu.”
“Hehehe, kau mau ke sekolah ya?”
“Iya, kenapa?”
“Boleh aku ikut?”
“Eh? Memangnya kamu tidak sekolah?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau.”
“Hah?”
“Sudahlah, ayo. Nanti kita terlambat.”
“Tunggu, apa kau mau kesekolah dengan pakaian seperti ini?”
“Tenang saja, mereka tidak akan ngeh.”
“Hah?”
Laura mengerutkan kening sambil memperhatikan pakaian yang dipakai Marsha. Gadis itu menggunakan dress putih sampai lutut dan flatshoes berwarna putih juga. Sungguh Ia tidak yakin akan pergi sekolah dengan baju Marsha yang seperti itu.
“Tak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Marsha meraih tangan Laura dan berjalan mendahului. Laura tampak kebingungan melihat langkah Marsha yang mendahuluinya sambil berpikir apakah dia tau dimana sekolah Marsha.
“Tenang saja, aku tau kok sekolahmu.”
“Eh?”
Laura terkejut Marsha mengetahui apa yang ada dipikirannya.
“Kenapa? Pasti terkejut aku dapat membaca pikiranmu ya?”
“Hehehe”
“Nah, ini sekolahmu kan?”
Keduanya sampai di depan gerbang sekolah dan mulai memasuki gerbang melangkah menuju kelas.
“Kau juga ikut ke kelas denganku?”
“Tentu saja, hari ini aku akan mengikutimu terus.”
“Walaupun guru datang dan pelajaran telah di mulai?”
“Iya, Laura.”
“Tapi bagaimana dengan...........................................”
“Sudah ku katakan tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Laura makin kebingungan. Dan benar saja saat bel sekolah sudah mulai berbunyi menandakan waktuny kelas di mulai, Ia melihat Marsha masih ada di kelas. Duduk di sebelah Ayu seketaris kelasnya. Kebetulan saat ini Isti teman sebangkunya tidak masuk, izin katanya. Laura sendiri tidak tahu apakah itu benar atau hanya supaya alfa di absennya tidak semakin bertambah mengetahui Isti memang jarang masuk entah untuk alasan apa. Marsha tampak asyik mengikuti pelajaran saat Laura memperhatikannya dari kejauhan, hanya berjarak 2 bangku darinya.
Akhirnya pelajaran kelas pun berakhir, semua murid berhamburan keluar kelas. Marsha benar-benar membuktikan perkataannya untuk mengikutinya terus. Kini mereka melangkah keluar gerbang.
“Laura, ada tempat yang ingin ku tunjukan padamu.’
“Dimanakah itu?”
“Ikut saja.”
“Tapi aku harus bilang pada ibuku dulu.”
“Tidak perlu.”
“Nanti kalau mencariku bagaimana?”
Marsha hanya tersenyum dan berjalan terus. Laura mengikutinya dan mensejajarkan langkahnya dengan Marsha.
“Memangnya kita mau kemana?”
“Suatu tempat.”
“Namanya?”
“Hhm.. Apa ya?” Marsha tampak berpikir.
“Kau ingin mengajakku ke suatu tempat tapi kau tidak tahu namanya? Mencurigakan sekali.”
“Hahaha, apa aku terlihat seperti akan menculikmu?”
“Kurasa begitu. Hahahaha”
“Itu memang benar.”
“Hah? Apanya benar?”
“Benar aku ingin menculikmu.”
“Kalau begitu apa aku harus berteriak minta tolong seperti adegan sinetron di televisi?”
“Hahahahaha. Terserah kau.”
Mereka sampai disebuah tempat yang sejuk dimana sekelilingnya terdapat pohon-pohon rindang banyak terdapat bunga seperti di taman. Suasana disekitar tempat tersebut menyenangkan dan membuat Laura betah hingga lupa akan kedua orang tuanya dan segalanya. Yang Ia tau saat ini Ia sedang bersama Marsha menikmati keadaan sekelilingnya.
***
Sudah hampir malam tapi Laura juga belum pulang ke rumah semenjak tadi pagi saat berangkat sekolah. Ibunya khawatir dan sejak tadi hanya mondar mandir menanti kehadiran anaknya pulang. Sampai suaminya datang dan melihat istrinya tengah kebingungan, cemas, serta gelisah.
“Sayang, ada apa denganmu sejak tadi terlihat risau?”
“Laura.. Laura.”
“Ada apa dengan Laura?”
“Dia belum pulang.”
“Belum pulang? Kemana dia?” Tanya suaminya yang juga mulai terlihat panik.
“Aku tidak tahu.”
“Apa kau sudah menghubungi temannya? Atau pihak sekolah?”
“Sudah.”
“Lalu apa katanya?”
“Mereka bilang, Laura sudah pulang semenjak siang saat bubaran sekolah. Bagaimana ini? Kemana kita harus mencari Laura?”
“Kita tunggu saja lagi, mungkin dia sedang belajar kelompok. Kalau sampai besok belum juga pulang baru kita lapor polisi.”
“Baiklah.” Ucapnya terlihat pasrah.
***
Sebulan berlalu, tapi Laura juga belum pulang dan di temukan. Kedua orang tuanya sudah lapor polisi dan polisi sedang mencarinya. Sedangkan ibunya Laura terlihat lesu dan terlihat agak kurus, sering tidur mengigau dan memanggil-manggil Laura. Suaminya kasihan melihat keadaan istrinya, Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Pria itu beranjak dari tempatnya menuju kamar Laura yang sudah 30 hari ini kosong karena Laura belum juga kembali sejak hilang. Ia melihat sebuah buku tergeletak di meja belajar dalam keadaan tertutup. Sesaat kemudian tiba-tiba buku itu terbuka, lelaki itu terkejut dan berjalan mendekati meja. Perlahan-lahan beberapa kalimat mulai tertulis lalu pria itu membacanya.
Catatan terakhir:
Ayah, maafkan aku telah membuat kalian resah mencari-cari Laura. Sebenarnya aku lah yang membawanya pergi dan mengajaknya ke tempatku, lalu mempengaruhinya untuk hanya memikirkan apa yang dilakukan disini dan membuatnya melupakan urusan dunia termasuk ayah juga ibu. Sekali ayah, ibu.. Maafkan aku. Aku hanya ingin bersama dan bermain dengan saudara kandungku sendiri. Maaf juga, karena aku mengambilnya dari kalian. Kalau saja dahulu ibu tidak melakukannya dan berkata kejam seperti itu aku masih dapat bisa menerimanya. Salam cinta, Marsha..
Lelaki itu diam terpaku, kini Ia mengerti dan tahu kemana anaknya hilang selama ini. Ia pun tidak dapat berbuat apa-apa selain pasrah menerimanya dan membiarkannya bersama, mungkin Tuhan pun memang menakdirkan mereka bersama meski dengan cara seperti yang Marsha lakukan.
Ia melangkah keluar meninggalkan kamar Laura, dan menguncinya rapat-rapat dan tidak berniat membukanya lagi. Sekarang Ia tengah memikirkan bagaimana cara memberitahukan hal ini kepada istrinya. Kini, ada 2 ruangan kosong dirumahnya..
Sementara itu di tempat Marsha dan Laura, keduanya terlihat bahagia bersama. Laura sama sekali tidak tahu kalau Marsha telah membawanya pergi dari kedua orangtuanya untuk selama-lamanya, Ia juga tidak tahu siapa sebenarnya Alura yang seringkali Marsha ceritakan dan juga apa isi buku harian yang hendak Ia baca waktu itu.
Dan Marsha, kini Ia dapat bersama Laura dengan selamanya tentu.
to be continue..
Note: maafkan kan part 4 yang amberegul ini. Salam sungkem.
Tag :// CREEPYPASTA
Kembar (Part 3)
Seorang gadis sedang duduk seorang diri pada bangku taman yang berada di tengah komplek, tampak dari kelihatannya Ia sedang menunggu seseorang datang dan telah membuat janji temu di tempat tersebut. 15 meter tak jauh dari tempat tersebut terlihat seorang perempuan yang rupanya mirip dengan gadis di bangku taman berjalan seperti ke arah perempuan yang sedang duduk. Setelah keduanya berdekatan, mereka pun bertegur sapa dan mulai berbincang.
“Hai, Marsha.”
“Hai, rupanya kau sudah terlebih dahulu datang. Maaf membuatmu lama menunggu ya.”
“Tidak apa.” Ujarnya tersenyum manis
“Bagaimana sekolahmu hari ini?”
“Ya begitulah, belajar, tugas, ulangan dadakan, guru marah-marah dan lain sebagainya.”
“Keliatannya menyenangkan ya?”
“Apanya yang menyenangkan dengan semua kegiatan seperti itu yang kau lakukan setiap hari? Aneh sekali kau ini.”
“Tentu saja menyenangkan, kau dapat bertemu temanmu setiap hari.”
“Ah biasa aja.”
“Oiya, Laura.”
“Ya, ada apa?”
“Boleh aku ceritakan sesuatu kepadamu?”
“Tentang?”
“Diriku.”
“Tentu saja, aku akan senang mendengarkannya.”
“Sungguh?”
Laura pun menanggukkan kepala menandakan persetujuannya.
“Aku punya orang tua yang sangat pilih kasih, mereka lebih menyayangi saudaraku ketimbang aku, terlihat dari cara mereka memperlakukan Alura.”
“Alura?”
“Ya, dia saudara kembarku.”
“Bukankah waktu pertama kali bertemu kau bilang aku saudara kembarmu?”
“Dan kau percaya itu?” Tanyanya setengah meledek
“Ngg.. Aku tak yakin.”
“Hahaha kau ini ada-ada saja, waktu itu aku hanya bercanda Laura.”
“Oh, pantas. Nah, lanjutkan ceritamu.”
“Mereka membiarkan ku terkurung di dalam kamar, tidak mengizinkanku bermain dengan siapapun bahkan dengan Alura sekalipun. Kau tau Laura bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu?”
“Bosan, jenuh, iri, merasa tidak adil.....”
“Dan dendam.” Ucap Marsha memotong
“Jadi, kau dendam terhadap saudaramu?”
“Bukan, tapi pada Ibu.”
“Tapi Marsha, bukankah dia yang melahirkanmu?”
“Memang dia yang melahirkanku dan membuangku.”
“Membuangmu? Apa maksudnya?”
“Ah, tidak.”
“Kau ini, penuh misteri sekali.”
“Sepertinya hari sudah mulai gelap, sebaiknya kita pulang.”
“Mari kita pulang bersama.”
“Tidak bisa Laura, kamar kita kan berbeda.”
“Kamar?”
“Ah, maksudku rumah.”
“Jadi?”
“:Kita berjalan bersama sampai ujung sana lalu berpisah di pertigaan jalan. Kau ke kiri dan aku ke kanan.”
“Bagaimana kau tau aku akan mengambil jalan ke kiri?”
“Aku sering menguntitmu!”
“Hey, kau ingin menakutiku?”
“Hahahahaha, hanya bercanda.”
“Tapi kalau memang itu benar, berarti aku punya pengagum rahasia.”
“Percaya diri sekali kau ini, memangnya kau pikir dirimu cantik?”
“Tentu saja.”
Lalu keduanya tertawa dan berjalan bergandengan tangan sampai ujung jalan lalu mengambil jalan terpisah. Tanpa Laura ketahui sebenarnya tujuan mereka sampai sama, hanya saja salah satunya mengambil jalan yang berbeda.
Hari-hari berikutnya Marsha semakin akrab dengan Laura mereka seringkali bertemu, baik itu hanya untuk sekedar bermain atau untuk mendengarkan cerita Marsha. Perlahan-lahan Laura mulai mengenal dan mengetahui siapa Marsha dari semua cerita yang dituturkan olehnya. Sebenarnya Laura kasihan pada Marsha yang diperlakukan tidak adil oleh Ibunya sendiri dan Ia sangat ingin bertemu dengan Ibunya Marsha serta melihat sendiri perlakuan Ibunya terhadap Marsha untuk membuktikan kebenaran cerita yang di dengarnya namun sayangnya Ia selalu lupa mengatakan hal tersebut pada Marsha.
***
“Sudah berulang kali ku katakan padamu jangan coba kau menampakkan diri tapi mengapa tetap kau lakukan?!”
“Aku hanya ingin punya teman dan bermain bu.”
“Bermain lah dengan yang lain, tapi jangan Laura!”
“Tapi dia saudara kembarku Bu!”
“Kau telah melanggar perjanjian yang kau buat, aku sudah mengizinkanmu tinggal disini. Tapi kau meminta lebih.”
“Beri aku kesempatan sekali lagi untuk bermain dengannya dan membawanya pergi.”
“Apa?! Sampai benar kau melakukannya, kan kuberikan kau pada Iblis untuk dinikahkan dengan anaknya.”
“Itu tak akan terjadi.”
“Tentu saja bisa, Marsha.”
to be continue..
Note: Maaf kalo ada yang keselip gak ke tag. Makasiiih
Seorang gadis sedang duduk seorang diri pada bangku taman yang berada di tengah komplek, tampak dari kelihatannya Ia sedang menunggu seseorang datang dan telah membuat janji temu di tempat tersebut. 15 meter tak jauh dari tempat tersebut terlihat seorang perempuan yang rupanya mirip dengan gadis di bangku taman berjalan seperti ke arah perempuan yang sedang duduk. Setelah keduanya berdekatan, mereka pun bertegur sapa dan mulai berbincang.
“Hai, Marsha.”
“Hai, rupanya kau sudah terlebih dahulu datang. Maaf membuatmu lama menunggu ya.”
“Tidak apa.” Ujarnya tersenyum manis
“Bagaimana sekolahmu hari ini?”
“Ya begitulah, belajar, tugas, ulangan dadakan, guru marah-marah dan lain sebagainya.”
“Keliatannya menyenangkan ya?”
“Apanya yang menyenangkan dengan semua kegiatan seperti itu yang kau lakukan setiap hari? Aneh sekali kau ini.”
“Tentu saja menyenangkan, kau dapat bertemu temanmu setiap hari.”
“Ah biasa aja.”
“Oiya, Laura.”
“Ya, ada apa?”
“Boleh aku ceritakan sesuatu kepadamu?”
“Tentang?”
“Diriku.”
“Tentu saja, aku akan senang mendengarkannya.”
“Sungguh?”
Laura pun menanggukkan kepala menandakan persetujuannya.
“Aku punya orang tua yang sangat pilih kasih, mereka lebih menyayangi saudaraku ketimbang aku, terlihat dari cara mereka memperlakukan Alura.”
“Alura?”
“Ya, dia saudara kembarku.”
“Bukankah waktu pertama kali bertemu kau bilang aku saudara kembarmu?”
“Dan kau percaya itu?” Tanyanya setengah meledek
“Ngg.. Aku tak yakin.”
“Hahaha kau ini ada-ada saja, waktu itu aku hanya bercanda Laura.”
“Oh, pantas. Nah, lanjutkan ceritamu.”
“Mereka membiarkan ku terkurung di dalam kamar, tidak mengizinkanku bermain dengan siapapun bahkan dengan Alura sekalipun. Kau tau Laura bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu?”
“Bosan, jenuh, iri, merasa tidak adil.....”
“Dan dendam.” Ucap Marsha memotong
“Jadi, kau dendam terhadap saudaramu?”
“Bukan, tapi pada Ibu.”
“Tapi Marsha, bukankah dia yang melahirkanmu?”
“Memang dia yang melahirkanku dan membuangku.”
“Membuangmu? Apa maksudnya?”
“Ah, tidak.”
“Kau ini, penuh misteri sekali.”
“Sepertinya hari sudah mulai gelap, sebaiknya kita pulang.”
“Mari kita pulang bersama.”
“Tidak bisa Laura, kamar kita kan berbeda.”
“Kamar?”
“Ah, maksudku rumah.”
“Jadi?”
“:Kita berjalan bersama sampai ujung sana lalu berpisah di pertigaan jalan. Kau ke kiri dan aku ke kanan.”
“Bagaimana kau tau aku akan mengambil jalan ke kiri?”
“Aku sering menguntitmu!”
“Hey, kau ingin menakutiku?”
“Hahahahaha, hanya bercanda.”
“Tapi kalau memang itu benar, berarti aku punya pengagum rahasia.”
“Percaya diri sekali kau ini, memangnya kau pikir dirimu cantik?”
“Tentu saja.”
Lalu keduanya tertawa dan berjalan bergandengan tangan sampai ujung jalan lalu mengambil jalan terpisah. Tanpa Laura ketahui sebenarnya tujuan mereka sampai sama, hanya saja salah satunya mengambil jalan yang berbeda.
Hari-hari berikutnya Marsha semakin akrab dengan Laura mereka seringkali bertemu, baik itu hanya untuk sekedar bermain atau untuk mendengarkan cerita Marsha. Perlahan-lahan Laura mulai mengenal dan mengetahui siapa Marsha dari semua cerita yang dituturkan olehnya. Sebenarnya Laura kasihan pada Marsha yang diperlakukan tidak adil oleh Ibunya sendiri dan Ia sangat ingin bertemu dengan Ibunya Marsha serta melihat sendiri perlakuan Ibunya terhadap Marsha untuk membuktikan kebenaran cerita yang di dengarnya namun sayangnya Ia selalu lupa mengatakan hal tersebut pada Marsha.
***
“Sudah berulang kali ku katakan padamu jangan coba kau menampakkan diri tapi mengapa tetap kau lakukan?!”
“Aku hanya ingin punya teman dan bermain bu.”
“Bermain lah dengan yang lain, tapi jangan Laura!”
“Tapi dia saudara kembarku Bu!”
“Kau telah melanggar perjanjian yang kau buat, aku sudah mengizinkanmu tinggal disini. Tapi kau meminta lebih.”
“Beri aku kesempatan sekali lagi untuk bermain dengannya dan membawanya pergi.”
“Apa?! Sampai benar kau melakukannya, kan kuberikan kau pada Iblis untuk dinikahkan dengan anaknya.”
“Itu tak akan terjadi.”
“Tentu saja bisa, Marsha.”
to be continue..
Note: Maaf kalo ada yang keselip gak ke tag. Makasiiih
Tag :// CREEPYPASTA
Part 2
TOUR IN ANOTHER WORLD
Semua yang didalam bus berharap penuh dengan denni,sun,arief,anggun dan bimo,mereka antara percaya dan tidak dengan kemampuan sundari dan anggun,tiba-tiba Ari mengajukan diri sebagai Pengganti Anggun.
“hey supir,bagaimana jika anggun aku saja yang menggantikan,ini terlalu berat untuk dia”kata ari
“dan aku akan menggantikan sun,aku takut dia terjadi apa-apa?”kata made ikut menawarkan diri
“Tidak,salah kalian kenapa kalian tidak bilang dari awal !!!” bentak sang supir
lalu sang supir menjelaskan rule dari tour ini
“baiklah,khusus untuk kalian berlima dengarkan baik-baik,di setiap dimensi kalian harus menyelamatkan teman kalian atau mungkin teman kalian yang menjadi musuh kalian dan kalian harus ingat,apapun yang terjadi,kalian ber 5 harus selamat dan di setiap dimensi kalian harus menyelamatkan nyawa minimal 2 orang,dan nyawa yang selamat jiwanya akan kembali ke bus ini untuk sementara dan sedangkan untuk yang mati,nyawanya akan mengambang tidak jelas di dimensi ini dan cara menyelamatkan nyawa mereka agar kembali adalah kalian lah yang harus bertahan sampai tour ini selesai,dan juga akan banyak hal diluar nalar kalian yang akan terjadi disini,bisa kalian mengerti?” jelas si supir
“YA!!!”kata mereka berlima
“sekarang kalian mendekat”kata si supir lalu memberikan sebuah kertas dan menyuruh mereka untuk menyontengnya
ketika dibaca ternyata ada sebuah daftar senjata dan mereka pun harus memilih salah satu senjata,setelah selesai sang supir pun mengambil lagi tasnya
“apa sih maksudnya tadi,untuk apa senjata itu”kata anggun
lalu sang supir menyuruh mereka turun dari bus,dan mereka menuruti perintah si supir
“apakah pertualangan kita akan segera dimulai?”tanya arief sambil meneguk liur
ketika mereka menoleh kebelakang untuk melihat bus ternyata bus nya telah hilang,padahal belum 1 menit mereka turun dari bus itu
“kemana bis nya?”tanya denni
“sial,sepertinya kita benar-benar harus mencari sendiri tempat yang akan kita tuju”kata sun
lalu mereka berjalan menyusuri jalan raya di kelilingi hutan liar yang cuacanya mendung dan sedikit berkabut,hampir setengah jam mereka berjalan namun tidak menemukan apa-apa
“jangan-jangan kita tersesat?”kata bimo
“sejak awal kita memang telah tersesat bodoh,ini bukan dunia kita”kata denni setengah emosi
lalu mereka melihat sebuah gubuk dan mereka masuk kedalamnya..
“tempat apa ini,kosong tak ada apa-apa”kata arief
“hey lihat apa itu?”kata anggun sambil menunjuk ke arah sebuah kotak peti
lalu mereka mendekati peti dan membuka isi nya
“hey,ini kan senjata yang ku conteng tadi,ambil senjata yang telah kalian pilih”kata denni
Denni: shotgun
arief: tongkat bassball baja
bimo: samurai
Anggun : se tas bom
sun : Ak47
“hey bodoh,apa yang kau pikirkan,kita ini sedang dalam bahaya,kenapa kau pilih tongkat bassball”kata denni membentak arief
“aku tadi asal conteng”kata arief yang sedikit menyesal dengan pilihannya
setelah selesai mempersiapkan senjata,mereka keluar dari gubuk dan mereka melihat di ujung jalan ada seseorang bertudung sambil mengendong bayi,lalu mereka mendekatinya
“hey,siapa kau?”kata arief
lalu orang itu menoleh dan mereka terkejut melihat wajah orang bertudung itu hancur seperti mayat hidup dan melihat bayinya sedang menyedot ibu jari orang dewasa layaknya susu..
“Hantuu!!!!” teriak anggun
“bodoh,itu zombie,sepertinya game telah dimulai”kata denni mengarahkan moncong shotgun nya ke arah kepala zombie....
dorrr....
kepala zombie itu terpecah berkeping-keping....
“kalian harus waspada,lihat lingkungan sekitar,sebaiknya kita harus menyusun strategi”kata arief
“apa rencanamu?”kata denni
“den,kau berjalan paling depan karena senjata mu yang paling kuat diantara kami,lalu aku di baris kedua yang akan mengkomandoi jika tiba-tiba terjadi sesuatu,lalu baris ketiga,anggun,kau wanita dan juga senjatamu bom,jadi kau bisa melempar ke arah manapun untuk melindungi kami ber 4,dibelakangnya sun,senjatamu ak47,kau bisa melindungi bagian depanmu karena senjatamu bersifat jarak jauh dan dibelakangmu,kau hanya perlu melindungi bimo seorang,dan bimo kau di belakang mengawasi dua wanita didepanmu dan gunakan samuraimu semampumu,aku tidak tau posisimu di strategi ini,jadi kau cukup dibelakang!!!”jelas arief
“sial,aku seperti tak berguna”gerutu bimo
“hey rif,tapi bagaimana jika keadaannya seperti itu?”kata denni menunjuk gerombolan zombie yang jumlahnya mungkin 100 orang yang jaraknya hanya 30 meter dari mereka
Bersambung.....
TOUR IN ANOTHER WORLD
Semua yang didalam bus berharap penuh dengan denni,sun,arief,anggun dan bimo,mereka antara percaya dan tidak dengan kemampuan sundari dan anggun,tiba-tiba Ari mengajukan diri sebagai Pengganti Anggun.
“hey supir,bagaimana jika anggun aku saja yang menggantikan,ini terlalu berat untuk dia”kata ari
“dan aku akan menggantikan sun,aku takut dia terjadi apa-apa?”kata made ikut menawarkan diri
“Tidak,salah kalian kenapa kalian tidak bilang dari awal !!!” bentak sang supir
lalu sang supir menjelaskan rule dari tour ini
“baiklah,khusus untuk kalian berlima dengarkan baik-baik,di setiap dimensi kalian harus menyelamatkan teman kalian atau mungkin teman kalian yang menjadi musuh kalian dan kalian harus ingat,apapun yang terjadi,kalian ber 5 harus selamat dan di setiap dimensi kalian harus menyelamatkan nyawa minimal 2 orang,dan nyawa yang selamat jiwanya akan kembali ke bus ini untuk sementara dan sedangkan untuk yang mati,nyawanya akan mengambang tidak jelas di dimensi ini dan cara menyelamatkan nyawa mereka agar kembali adalah kalian lah yang harus bertahan sampai tour ini selesai,dan juga akan banyak hal diluar nalar kalian yang akan terjadi disini,bisa kalian mengerti?” jelas si supir
“YA!!!”kata mereka berlima
“sekarang kalian mendekat”kata si supir lalu memberikan sebuah kertas dan menyuruh mereka untuk menyontengnya
ketika dibaca ternyata ada sebuah daftar senjata dan mereka pun harus memilih salah satu senjata,setelah selesai sang supir pun mengambil lagi tasnya
“apa sih maksudnya tadi,untuk apa senjata itu”kata anggun
lalu sang supir menyuruh mereka turun dari bus,dan mereka menuruti perintah si supir
“apakah pertualangan kita akan segera dimulai?”tanya arief sambil meneguk liur
ketika mereka menoleh kebelakang untuk melihat bus ternyata bus nya telah hilang,padahal belum 1 menit mereka turun dari bus itu
“kemana bis nya?”tanya denni
“sial,sepertinya kita benar-benar harus mencari sendiri tempat yang akan kita tuju”kata sun
lalu mereka berjalan menyusuri jalan raya di kelilingi hutan liar yang cuacanya mendung dan sedikit berkabut,hampir setengah jam mereka berjalan namun tidak menemukan apa-apa
“jangan-jangan kita tersesat?”kata bimo
“sejak awal kita memang telah tersesat bodoh,ini bukan dunia kita”kata denni setengah emosi
lalu mereka melihat sebuah gubuk dan mereka masuk kedalamnya..
“tempat apa ini,kosong tak ada apa-apa”kata arief
“hey lihat apa itu?”kata anggun sambil menunjuk ke arah sebuah kotak peti
lalu mereka mendekati peti dan membuka isi nya
“hey,ini kan senjata yang ku conteng tadi,ambil senjata yang telah kalian pilih”kata denni
Denni: shotgun
arief: tongkat bassball baja
bimo: samurai
Anggun : se tas bom
sun : Ak47
“hey bodoh,apa yang kau pikirkan,kita ini sedang dalam bahaya,kenapa kau pilih tongkat bassball”kata denni membentak arief
“aku tadi asal conteng”kata arief yang sedikit menyesal dengan pilihannya
setelah selesai mempersiapkan senjata,mereka keluar dari gubuk dan mereka melihat di ujung jalan ada seseorang bertudung sambil mengendong bayi,lalu mereka mendekatinya
“hey,siapa kau?”kata arief
lalu orang itu menoleh dan mereka terkejut melihat wajah orang bertudung itu hancur seperti mayat hidup dan melihat bayinya sedang menyedot ibu jari orang dewasa layaknya susu..
“Hantuu!!!!” teriak anggun
“bodoh,itu zombie,sepertinya game telah dimulai”kata denni mengarahkan moncong shotgun nya ke arah kepala zombie....
dorrr....
kepala zombie itu terpecah berkeping-keping....
“kalian harus waspada,lihat lingkungan sekitar,sebaiknya kita harus menyusun strategi”kata arief
“apa rencanamu?”kata denni
“den,kau berjalan paling depan karena senjata mu yang paling kuat diantara kami,lalu aku di baris kedua yang akan mengkomandoi jika tiba-tiba terjadi sesuatu,lalu baris ketiga,anggun,kau wanita dan juga senjatamu bom,jadi kau bisa melempar ke arah manapun untuk melindungi kami ber 4,dibelakangnya sun,senjatamu ak47,kau bisa melindungi bagian depanmu karena senjatamu bersifat jarak jauh dan dibelakangmu,kau hanya perlu melindungi bimo seorang,dan bimo kau di belakang mengawasi dua wanita didepanmu dan gunakan samuraimu semampumu,aku tidak tau posisimu di strategi ini,jadi kau cukup dibelakang!!!”jelas arief
“sial,aku seperti tak berguna”gerutu bimo
“hey rif,tapi bagaimana jika keadaannya seperti itu?”kata denni menunjuk gerombolan zombie yang jumlahnya mungkin 100 orang yang jaraknya hanya 30 meter dari mereka
Bersambung.....
Tag :// CREEPYPASTA
OUR IN ANOTHER WORLD eps 1
Setelah ujian nasional,anak-anak kelas IX B ingin mengadakan tour selama seminggu ke suatu tempat dan akhirnya diadakan rapat yang di pimpin langsung oleh ketua kelas kami arief dan setelah rapat,arief sundari dan denni mencari situs di internet tentang tmpat penyewaan sebuah bus,kami menemukan sebuah situs tentang penyewaan bus yang murah dan tempat-tempat yang akan dikunjungi juga menarik,lalu denni,arief dan sundari sepakat untuk menghubungi kantor untuk menyewa bus itu...
lalu sundari pun menelpon kantor penyewaan bus itu....
“halo”kata sundari memulai pembicaraan
“halo,selamat siang,ada yang bisa kami bantu?”
“betul ini nomor tempat penyewaan bus?”
“ya betul”
bla bla bla bla bla,,,setelah sekian cukup lama bercakap-cakap akhirnya mereka sepakat bahwa mereka akan melakukan tour 3 hari lagi...
hari yang di tentukan telah tiba.kami semua berkumpul di depan sekolah kami,pukul 8 pagi kami memulai perjalanan kami,sudah sekitar 2 jam perjalanan yang kami tempuh menuju lokasi,kami bercanda ria di dalam mobil dan menikmati perjalanan,namun ketika mulai masuk area gunung tiba-tiba ada asap kabut yang menghalangi pemandangan dan menutup semuanya,kami semua yang di dalam bus merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus kami lakukan...
“hey pak supir,bisa kau hentikan bus nya,ini berbahaya,bisa-bisa kita menabrak sesuatu atau masuk jurang” kata arief
beberapa cewek mulai berteriak ketakutan
“tenang,memang ini jalannya,kalian cukup duduk diam”kata supir sambil tersenyum,denni ,merasa aneh dengan tingkah supir itu
5 menit kemudian kabut pun mulai memudar dan kami terkejut karena melihat lingkungan sekitar kami sudah berubah.....
“dimana ini,apa yang terjadi,pulangkan kami ke tempat semula pak”teriak diny salah satu cewek di kelasku sambil marah-marah
“SELAMAT DATANG DI TOUR KAMI”tiba-tiba sang supir berdiri dan menghadap ke arah bangku penumpang
“apa maksudnya ini? Ini bukan seperti di perjanjian”kata sundari
“kalian sekarang berada di dunia lain,dimensi lain dan kalian akan melakukan sebuah perjalanan yang panjang dan akan mempertaruhkan nyawa kalian”kata sang supir
lalu naufal salah satu temanku berdiri dan ingin memukul wajah sang supir tetapi tiba-tiba naufal merasakan sakit yang amat sangat di dadanya
“arrrrgggghhhhhhhh,sakittt”teriak naufal tertidur kesakitan sambil memegang dadanya
“itu resikonya kalau melawanku,ini dunia kami,kalian hanya peserta yang akan menyelesaikan tour ini ,jika kalian tidak bisa menyelesaikannya,kalian tidak akan kembali ke dunia kalian,HAHAHAHHAHAHA”kata sang supir
“tenang,jika kita tidak kembali dan kita semua hilang,pasti orang tua kita dan polisi akan mencari kita”kata denni menenangkan semua teman-temannya
“hah apa yang kau bilang bocah,yang terbawa ke dimensi ini hanya jiwa kalian,sedangkan raga kalian masih di dunia nyata dan diisi oleh jiwa-jiwa kosong dari alam ini,mereka bisa meniru persis semua tingkah laku orang yang didiaminya jadi raga kalian itu terlihat seperti tidak terjadi apa-apa dan jika kalian mati di sini,tidak ada yang tau kalian mati disini dan jiwa-jiwa itu akan sepenuhnya dan selamanya memiliki ragamu”
semua nya terdiam bahkan sudah hampir setengah isi bus itu menangis ketakutan
“bimo,denni,arief bagaimana ini,aku ingin pulang,aku takut”kata evi mendekati kami sambil menangis
“hey,jika kita bunuh supir ini mungkin kita bisa bebas dari dunia aneh ini”kata bimo berbisik kepada denni
“yaa,mungkin” kata denni sambil menunduk dan mengambil pisau kecil yang terselip di kaus kaki nya
brakkkkkkkkkk
denni pun terpental keujung bus karena tendangan si supir
‘apa itu??????,itu terlalu kuat untuk tenaga manusia dan juga apa yang dilakukannya terhadap naufal tadi’batin bimo yang tercengang melihat kejadian barusan
“HAHAHAHAHAHAHAHAH,kalian tidak bisa macam-macam dengan ku,disini aku sebagai kuncinya,aku yang mengatur tour atau bisa ku bilang game ini,aku bukan musuh kalian dan aku bukan teman kalian disini,aku hanya tourguide yang memimbing,memberi petunjuk dan aku tidak akan membantu kalian ataupun melukai kalian,aku tidak memihak siapa pun dan jika memang kalian bisa membunuhku,jiwa kalian akan selamanya terperangkap disini”sang supir tersenyum menyeringai kepada mereka semua
“Sial,jadi apa yang harus kami lakukan?”kata bimo
“play this game”kata si supir
“Baiklah,dengan kami yang berjumlah 30 orang kami pasti bisa menaklukan semua permainan yang kau buat ini”kata bimo dengan yakin
“30 orang? HAHAHAHAHAHHAHAH,bodoh,tokoh utama di permainan ini hanya 5 orang dan apabila semua tokoh utama mati,kalian semua SELESAI”kata si supir
mereka yang di bus hanya bisa meneguk liur mendengar kata-kata sang supir
“siapa yang bersedia menjadi tokoh utama silahkan angkat tangan”kata si supir
semua terdiam dan saling melihat satu sama lain
“tidak ada,akan kuhitung sampai 5,jika tetap tidak ada yang bersedia,kalian semua SELESAI” kata si supir mengulang kata-kata yang biasa di ucapkan tapi menurut mereka itu adalah kalimat-kalimat yang sangat mengerikan
“aku” terlihat dari bangku belakang salah satu teman cewek kami anggun mengangkat tangannya
‘APA???bodoh,apa yang kau pikirkan,ini berbahaya’batin denni sambil menahan sakit akibat tendangan si supir tadi
“WAWWW,ternyata seorang wanita yang pertama kali,si 4 orang lagi?”tanya si supir
“aku” sundari mengangkat tangannya
“semua ini salahku yang menyewa pelayanan bus ini jadi aku bertanggung jawab atas nyawa kalian”lanjut sundari
“wah,wah,sepertinya 12 laki-laki di kelasmu pengecut” kata si supir kepada sundari
“aku”arief megangkat tangannya
“oh,sang ketua kelas ternyata,siapa selanjutnya?”
“aku,akan ku selesaikan tour ini dalam waktu singkat”bimo berteriak dengan lantang
“dan,jika ada bimo,pasti ada salah satu yang akan membantunya menghabisi semua tantangan di tour ini,AKU...Denni” kata denni sambil berdiri di belakang bus
“HAHAHAHAHAHAHAHH,sudah di tetapkan,arief denni bimo sundari dan anggung akan menjadi tokoh utama di game ini,nyawa kalian semua bergntung kepada 5 teman kalian ini,dan sekarang.....
“LET’S BEGIN THIS GAME”
BERSAMBUNG.......
Setelah ujian nasional,anak-anak kelas IX B ingin mengadakan tour selama seminggu ke suatu tempat dan akhirnya diadakan rapat yang di pimpin langsung oleh ketua kelas kami arief dan setelah rapat,arief sundari dan denni mencari situs di internet tentang tmpat penyewaan sebuah bus,kami menemukan sebuah situs tentang penyewaan bus yang murah dan tempat-tempat yang akan dikunjungi juga menarik,lalu denni,arief dan sundari sepakat untuk menghubungi kantor untuk menyewa bus itu...
lalu sundari pun menelpon kantor penyewaan bus itu....
“halo”kata sundari memulai pembicaraan
“halo,selamat siang,ada yang bisa kami bantu?”
“betul ini nomor tempat penyewaan bus?”
“ya betul”
bla bla bla bla bla,,,setelah sekian cukup lama bercakap-cakap akhirnya mereka sepakat bahwa mereka akan melakukan tour 3 hari lagi...
hari yang di tentukan telah tiba.kami semua berkumpul di depan sekolah kami,pukul 8 pagi kami memulai perjalanan kami,sudah sekitar 2 jam perjalanan yang kami tempuh menuju lokasi,kami bercanda ria di dalam mobil dan menikmati perjalanan,namun ketika mulai masuk area gunung tiba-tiba ada asap kabut yang menghalangi pemandangan dan menutup semuanya,kami semua yang di dalam bus merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus kami lakukan...
“hey pak supir,bisa kau hentikan bus nya,ini berbahaya,bisa-bisa kita menabrak sesuatu atau masuk jurang” kata arief
beberapa cewek mulai berteriak ketakutan
“tenang,memang ini jalannya,kalian cukup duduk diam”kata supir sambil tersenyum,denni ,merasa aneh dengan tingkah supir itu
5 menit kemudian kabut pun mulai memudar dan kami terkejut karena melihat lingkungan sekitar kami sudah berubah.....
“dimana ini,apa yang terjadi,pulangkan kami ke tempat semula pak”teriak diny salah satu cewek di kelasku sambil marah-marah
“SELAMAT DATANG DI TOUR KAMI”tiba-tiba sang supir berdiri dan menghadap ke arah bangku penumpang
“apa maksudnya ini? Ini bukan seperti di perjanjian”kata sundari
“kalian sekarang berada di dunia lain,dimensi lain dan kalian akan melakukan sebuah perjalanan yang panjang dan akan mempertaruhkan nyawa kalian”kata sang supir
lalu naufal salah satu temanku berdiri dan ingin memukul wajah sang supir tetapi tiba-tiba naufal merasakan sakit yang amat sangat di dadanya
“arrrrgggghhhhhhhh,sakittt”teriak naufal tertidur kesakitan sambil memegang dadanya
“itu resikonya kalau melawanku,ini dunia kami,kalian hanya peserta yang akan menyelesaikan tour ini ,jika kalian tidak bisa menyelesaikannya,kalian tidak akan kembali ke dunia kalian,HAHAHAHHAHAHA”kata sang supir
“tenang,jika kita tidak kembali dan kita semua hilang,pasti orang tua kita dan polisi akan mencari kita”kata denni menenangkan semua teman-temannya
“hah apa yang kau bilang bocah,yang terbawa ke dimensi ini hanya jiwa kalian,sedangkan raga kalian masih di dunia nyata dan diisi oleh jiwa-jiwa kosong dari alam ini,mereka bisa meniru persis semua tingkah laku orang yang didiaminya jadi raga kalian itu terlihat seperti tidak terjadi apa-apa dan jika kalian mati di sini,tidak ada yang tau kalian mati disini dan jiwa-jiwa itu akan sepenuhnya dan selamanya memiliki ragamu”
semua nya terdiam bahkan sudah hampir setengah isi bus itu menangis ketakutan
“bimo,denni,arief bagaimana ini,aku ingin pulang,aku takut”kata evi mendekati kami sambil menangis
“hey,jika kita bunuh supir ini mungkin kita bisa bebas dari dunia aneh ini”kata bimo berbisik kepada denni
“yaa,mungkin” kata denni sambil menunduk dan mengambil pisau kecil yang terselip di kaus kaki nya
brakkkkkkkkkk
denni pun terpental keujung bus karena tendangan si supir
‘apa itu??????,itu terlalu kuat untuk tenaga manusia dan juga apa yang dilakukannya terhadap naufal tadi’batin bimo yang tercengang melihat kejadian barusan
“HAHAHAHAHAHAHAHAH,kalian tidak bisa macam-macam dengan ku,disini aku sebagai kuncinya,aku yang mengatur tour atau bisa ku bilang game ini,aku bukan musuh kalian dan aku bukan teman kalian disini,aku hanya tourguide yang memimbing,memberi petunjuk dan aku tidak akan membantu kalian ataupun melukai kalian,aku tidak memihak siapa pun dan jika memang kalian bisa membunuhku,jiwa kalian akan selamanya terperangkap disini”sang supir tersenyum menyeringai kepada mereka semua
“Sial,jadi apa yang harus kami lakukan?”kata bimo
“play this game”kata si supir
“Baiklah,dengan kami yang berjumlah 30 orang kami pasti bisa menaklukan semua permainan yang kau buat ini”kata bimo dengan yakin
“30 orang? HAHAHAHAHAHHAHAH,bodoh,tokoh utama di permainan ini hanya 5 orang dan apabila semua tokoh utama mati,kalian semua SELESAI”kata si supir
mereka yang di bus hanya bisa meneguk liur mendengar kata-kata sang supir
“siapa yang bersedia menjadi tokoh utama silahkan angkat tangan”kata si supir
semua terdiam dan saling melihat satu sama lain
“tidak ada,akan kuhitung sampai 5,jika tetap tidak ada yang bersedia,kalian semua SELESAI” kata si supir mengulang kata-kata yang biasa di ucapkan tapi menurut mereka itu adalah kalimat-kalimat yang sangat mengerikan
“aku” terlihat dari bangku belakang salah satu teman cewek kami anggun mengangkat tangannya
‘APA???bodoh,apa yang kau pikirkan,ini berbahaya’batin denni sambil menahan sakit akibat tendangan si supir tadi
“WAWWW,ternyata seorang wanita yang pertama kali,si 4 orang lagi?”tanya si supir
“aku” sundari mengangkat tangannya
“semua ini salahku yang menyewa pelayanan bus ini jadi aku bertanggung jawab atas nyawa kalian”lanjut sundari
“wah,wah,sepertinya 12 laki-laki di kelasmu pengecut” kata si supir kepada sundari
“aku”arief megangkat tangannya
“oh,sang ketua kelas ternyata,siapa selanjutnya?”
“aku,akan ku selesaikan tour ini dalam waktu singkat”bimo berteriak dengan lantang
“dan,jika ada bimo,pasti ada salah satu yang akan membantunya menghabisi semua tantangan di tour ini,AKU...Denni” kata denni sambil berdiri di belakang bus
“HAHAHAHAHAHAHAHH,sudah di tetapkan,arief denni bimo sundari dan anggung akan menjadi tokoh utama di game ini,nyawa kalian semua bergntung kepada 5 teman kalian ini,dan sekarang.....
“LET’S BEGIN THIS GAME”
BERSAMBUNG.......
Tag :// CREEPYPASTA
Kembar - (Part 2)
Sebuah buku dengan halaman terbuka tergeletak di meja, terdapat beberapa kalimat yang berisi tentang catatan harian seseorang.
Catatan 1 :
Kemarin lusa ada yang mengetuk ruangan ini, aku senang sekali karena selama 17 tahun baru saat ini ada yang mencoba mengetuknya. Dan yang sudah jelas ku tahu itu bukanlah Ayah atau Ibu karena mereka tidah pernah mengetuk pintu bahkan untuk sekalipun, biasanya mereka langsung membuka pintu lalu mewanti-wanti agar aku tidak pernah menunjukkan diri pada siapa pun. Namun kini pesan Ibu telah ku langgar dan aku tidak perduli apa yang akan terjadi setelah Ibu mengetahuinya.
Catatan 2 :
Malam ini ku dengar Dia membicarakan ku, tapi sesaat kemudian aku kecewa karena Ibu berusaha mengalihkan pembicaraan dengan dalih menyuruh gadis itu belajar. Menyebalkan.
Catatan 3 :
Benar saja dugaanku, perempuan itu memarahiku. Ia berkata
“Apa yang telah coba kau lalukan?!” Begitu katanya setengah membentak
Aku hanya diam tak menghiraukan apa-apa yang dikatakan. Dia pikir aku betah bersembunyi selama ini? Yang benar saja. Sesaat setelahnya lagi-lagi Ia memperingatkanku.
“Jangan pernah lagi kau coba menunjukkan dirimu pada siapapun, bahkan kepada Laura.”
***
“Bagaimana? Apa kau sudah memberinya peringatan?”
“Baru saja selesai ku lakukan.”
“Lalu, apa yang dikatakannya?”
“Dia tidak mengatakan apa-apa.”
“Apakah menurutmu dia menyetujuinya, sayang?”
“Setuju atau tidak Dia harus tetap melakukannya.”
“Kau ini, suka sekali memaksakan kehendak.”
“Bukan memaksakan kehendak, ini untuk kebaikannya dan putri tercinta kita Laura.”
“Pintar sekali kau menjawab.”
Wanita itu hanya tertawa lalu di kecupnya keningnya oleh lelaki dihadapannya.
“Sudah, mari kita tidur. Selamat malam sayang.”
Kemudian sepasang insan manusia tersebut merebahkan diri di kasur lalu tertidur lelap hingga menjelang pagi.
***
Aku melangkah kan kaki menuju sekolah seperti biasanya, rutinitas yang membosankan menurutku.
“Laura!”
Aku menoleh, mencari asal suara namun tak kulihat siapapun sampai ada yang mencolek pundak kananku.
“Hai..”
Aku terpana, kulihat seorang gadis yang sangat mirip denganku. Rambutnya sama panjang sebahu seperti rambut yang ku miliki. Ku selusuri pandangan mataku keujung rambut sampai ujung kakinya.
“Kau siapa?”
Gadis itu hanya tersenyum, dan senyumannya amat manis terlihat dari kedua lesung pipinya saat Ia menyunggingkan senyum. Bahkan Ia pun juga memiliki dua lesung pipi.
“Mengapa kau sangat mirip denganku?”
“Karena aku saudaramu.”
“Saudaraku? Aku tidak memiliki saudara. Apa kau mungkin sepupuku?”
“Bukan, kita sekandung.”
“Maksudmu kita kembar?”
“Bisa di bilang seperti itu.”
“Tidak mungkin, aku anak tunggal.”
“Mungkin saja, Laura.”
“Wow, kau bahkan tahu namaku. Baiklah siapa namamu?”
“Aku tidak tahu namaku.”
“Bagaimana jika aku yang memberimu nama?”
“Kedengarannya menarik.”
“Hmm.. Marsha? Bagaimana menurutmu?”
“Nama yang bagus. Baiklah aku setuju!”
Aku melirik arloji di pergelangan tanganku, “Astaga hampir setengah 7! Marsha aku harus segera pergi sudah hampir telat. Dah..”
***
Sepulang sekolah saat makan siang, aku berniat menceritakan mengenai teman baru kepada Ibuku, akan tetapi saat aku mencarinya Ibu ternyata tidak ada di rumah.
Kemana dia pergi? Gumamku, mungkin lebih baik aku tidur siang saja. Ulangan matematika tadi membuat kepalaku penat ditambah asal usul Marsha yang tidak ku ketahui dan bahkan mengaku saudara kembarku.
Saat melangkahkan kaki menuju kamar kulihat pintu itu terbuka, pintu yang ruangannya selama ini selalu tertutup. Rasa penasaran yang sempat terlupa olehku mengenai ruangan itu kini muncul lagi, kudekati ruangan tersebut dengan langkah perlahan mewaspadai mungkin ada bahaya yang tiba-tiba datang seperti kejadian di beberapa film yang pernah ku tonton.
Kini aku sudah berada di dalam ruangan, ku perhatikan sekeliling. Terdapat tempat tidur meja belajar, lemari dan segala benda yang sama isinya seperti kamarku. Di meja belajar ku lihat sebuah buku tergeletak, sampulnya bukunya bergambar daun kering. Diperhatikan lebih seksama ini tampak seperti buku harian. Ku raih buku harian tersebut dan segera ku bawa, tak lupa pintu tersebut ku tutup agar tidak menimbulkan curiga.
Setiba di kamar aku kembali memikirkan mengenai ruangan tersebut, Marsha, dan tentunya buku harian ini. Karena yang aku tahu di rumah ini tak seorang pun yang senang menuliskan sesuatu ke dalam buku baik aku atau pun Ibu, maka kecil kemungkinan ada yang memiliki buku harian. Terbesit di otak ku untuk menanyakan hal ini kepada Ibu, tapi lalu kuurungkan niat.
Ah, lebih baik ku baca saja buku ini. Mungkin akan dapat ku temukan jawaban dari beberapa pertanyaanku. Sedetik saat ku buka sampul buku rasa kantuk menyerang dan reflek aku tertidur di meja belajar tepat diatas buku harian yang sampul halamannya sudah terbuka.
to be continue..
Sebuah buku dengan halaman terbuka tergeletak di meja, terdapat beberapa kalimat yang berisi tentang catatan harian seseorang.
Catatan 1 :
Kemarin lusa ada yang mengetuk ruangan ini, aku senang sekali karena selama 17 tahun baru saat ini ada yang mencoba mengetuknya. Dan yang sudah jelas ku tahu itu bukanlah Ayah atau Ibu karena mereka tidah pernah mengetuk pintu bahkan untuk sekalipun, biasanya mereka langsung membuka pintu lalu mewanti-wanti agar aku tidak pernah menunjukkan diri pada siapa pun. Namun kini pesan Ibu telah ku langgar dan aku tidak perduli apa yang akan terjadi setelah Ibu mengetahuinya.
Catatan 2 :
Malam ini ku dengar Dia membicarakan ku, tapi sesaat kemudian aku kecewa karena Ibu berusaha mengalihkan pembicaraan dengan dalih menyuruh gadis itu belajar. Menyebalkan.
Catatan 3 :
Benar saja dugaanku, perempuan itu memarahiku. Ia berkata
“Apa yang telah coba kau lalukan?!” Begitu katanya setengah membentak
Aku hanya diam tak menghiraukan apa-apa yang dikatakan. Dia pikir aku betah bersembunyi selama ini? Yang benar saja. Sesaat setelahnya lagi-lagi Ia memperingatkanku.
“Jangan pernah lagi kau coba menunjukkan dirimu pada siapapun, bahkan kepada Laura.”
***
“Bagaimana? Apa kau sudah memberinya peringatan?”
“Baru saja selesai ku lakukan.”
“Lalu, apa yang dikatakannya?”
“Dia tidak mengatakan apa-apa.”
“Apakah menurutmu dia menyetujuinya, sayang?”
“Setuju atau tidak Dia harus tetap melakukannya.”
“Kau ini, suka sekali memaksakan kehendak.”
“Bukan memaksakan kehendak, ini untuk kebaikannya dan putri tercinta kita Laura.”
“Pintar sekali kau menjawab.”
Wanita itu hanya tertawa lalu di kecupnya keningnya oleh lelaki dihadapannya.
“Sudah, mari kita tidur. Selamat malam sayang.”
Kemudian sepasang insan manusia tersebut merebahkan diri di kasur lalu tertidur lelap hingga menjelang pagi.
***
Aku melangkah kan kaki menuju sekolah seperti biasanya, rutinitas yang membosankan menurutku.
“Laura!”
Aku menoleh, mencari asal suara namun tak kulihat siapapun sampai ada yang mencolek pundak kananku.
“Hai..”
Aku terpana, kulihat seorang gadis yang sangat mirip denganku. Rambutnya sama panjang sebahu seperti rambut yang ku miliki. Ku selusuri pandangan mataku keujung rambut sampai ujung kakinya.
“Kau siapa?”
Gadis itu hanya tersenyum, dan senyumannya amat manis terlihat dari kedua lesung pipinya saat Ia menyunggingkan senyum. Bahkan Ia pun juga memiliki dua lesung pipi.
“Mengapa kau sangat mirip denganku?”
“Karena aku saudaramu.”
“Saudaraku? Aku tidak memiliki saudara. Apa kau mungkin sepupuku?”
“Bukan, kita sekandung.”
“Maksudmu kita kembar?”
“Bisa di bilang seperti itu.”
“Tidak mungkin, aku anak tunggal.”
“Mungkin saja, Laura.”
“Wow, kau bahkan tahu namaku. Baiklah siapa namamu?”
“Aku tidak tahu namaku.”
“Bagaimana jika aku yang memberimu nama?”
“Kedengarannya menarik.”
“Hmm.. Marsha? Bagaimana menurutmu?”
“Nama yang bagus. Baiklah aku setuju!”
Aku melirik arloji di pergelangan tanganku, “Astaga hampir setengah 7! Marsha aku harus segera pergi sudah hampir telat. Dah..”
***
Sepulang sekolah saat makan siang, aku berniat menceritakan mengenai teman baru kepada Ibuku, akan tetapi saat aku mencarinya Ibu ternyata tidak ada di rumah.
Kemana dia pergi? Gumamku, mungkin lebih baik aku tidur siang saja. Ulangan matematika tadi membuat kepalaku penat ditambah asal usul Marsha yang tidak ku ketahui dan bahkan mengaku saudara kembarku.
Saat melangkahkan kaki menuju kamar kulihat pintu itu terbuka, pintu yang ruangannya selama ini selalu tertutup. Rasa penasaran yang sempat terlupa olehku mengenai ruangan itu kini muncul lagi, kudekati ruangan tersebut dengan langkah perlahan mewaspadai mungkin ada bahaya yang tiba-tiba datang seperti kejadian di beberapa film yang pernah ku tonton.
Kini aku sudah berada di dalam ruangan, ku perhatikan sekeliling. Terdapat tempat tidur meja belajar, lemari dan segala benda yang sama isinya seperti kamarku. Di meja belajar ku lihat sebuah buku tergeletak, sampulnya bukunya bergambar daun kering. Diperhatikan lebih seksama ini tampak seperti buku harian. Ku raih buku harian tersebut dan segera ku bawa, tak lupa pintu tersebut ku tutup agar tidak menimbulkan curiga.
Setiba di kamar aku kembali memikirkan mengenai ruangan tersebut, Marsha, dan tentunya buku harian ini. Karena yang aku tahu di rumah ini tak seorang pun yang senang menuliskan sesuatu ke dalam buku baik aku atau pun Ibu, maka kecil kemungkinan ada yang memiliki buku harian. Terbesit di otak ku untuk menanyakan hal ini kepada Ibu, tapi lalu kuurungkan niat.
Ah, lebih baik ku baca saja buku ini. Mungkin akan dapat ku temukan jawaban dari beberapa pertanyaanku. Sedetik saat ku buka sampul buku rasa kantuk menyerang dan reflek aku tertidur di meja belajar tepat diatas buku harian yang sampul halamannya sudah terbuka.
to be continue..
Tag :// CREEPYPASTA
Salam HOO HAA!
Khusus bagi yg UN, bagaimana UN hari kedua kalian guys?
Apa kalian berhasil membunuh soal matematika atau membunuh pengawas kalian? pacman emotikon
Khusus bagi yg UN, bagaimana UN hari kedua kalian guys?
Apa kalian berhasil membunuh soal matematika atau membunuh pengawas kalian? pacman emotikon
- Kembar -
Aku seorang perempuan, yang ku tahu. Aku adalah satu-satunya di keluarga ini. Karna tidak ada orang lain selain ayah ibu dan aku tentunya.
Hidupku sangat berkecukupan, apapun yang ku inginkan pasti dengan mudah aku dapatkan.
Hidupku sangat berkecukupan, apapun yang ku inginkan pasti dengan mudah aku dapatkan.
Di dalam rumahku ada sebuah kamar yang selalu terkunci rapat, dan tampaknya jarang sekali di buka atau bahkan mungkin tidak pernah.
Saat ku tanyakan pada ayahku tempat apakah itu beliau menjawab
Saat ku tanyakan pada ayahku tempat apakah itu beliau menjawab
"Ah, itu hanya ruangan tak terpakai, tak perlu kau pikirkan." begitu katanya
Suatu ketika saat aku sedang sendirian dirumah dan bosan aku mendekati ruangan yang pintunya selalu tertutup rapat itu. Lalu ku ketuk pintunya perlahan.
Tok. Tok. Tok
Tak ada jawaban sama sekali, kemudian dengan acuhnya aku berlalu pergi, tetapi sebuah suara menghentikanku.
"Masuklah, temani aku bermain."
Dahiku mengkerut, suara siapa gerangan? Pikir ku.
"Tak perlu ragu, aku sangat mengenalmu."
Mengenalku? Memangnya dia siapa? Tanya ku seorang diri.
"Tentu saja aku mengenalmu, bukankah kita satu saudara?"
Satu saudara? Bukankah aku hanya ada 3 orang di rumah ini? Ah sudahlah mungkin itu hanya ilusi.
***
Malam harinya saat kami sedang makan malam, kutanyakan hal tersebut pada ibuku.
Malam harinya saat kami sedang makan malam, kutanyakan hal tersebut pada ibuku.
"Bu, apakah aku anak kau satu-satunya?"
"Tentu saja sayang, mengapa kau bertanya hal seperti itu?"
"Seseorang bilang, aku memiliki saudara sekandung dan dia sangat mengenalku."
"Siapa yang mengatakan itu padamu?"
"Sesuatu di dalam sana."
"Dimana?"
"Ruangan yang selalu tertutup rapat itu."
Ku lihat ekspresi kedua orang tua nampak berubah, terlihat dari air muka mereka namun mereka terlihat berusaha seolah biasa saja dan tidak terjadi apapa. Lalu seraya tersenyum beliau berkata
"Setelah makan malam ini, jangan lupa kau belajar ya nak."
***
"Sayang, bagaimana ini? Nampaknya dia mulai bosan bersembunyi."
"Sayang, bagaimana ini? Nampaknya dia mulai bosan bersembunyi."
"Aku juga tidak tahu."
"Lalu dimana buku harian itu?"
"Sudah ku simpan dengan baik."
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja."
to be continue..
Tag :// CREEPYPASTA
Gatau, asal bikin, gak jelas. Jangan baca, ntar kecewa.
Aku sangat menyukai es krim. Aku selalu menikmati setiap inci rasa manis dan lembutnya es krim.
Semua rasa es krim sudah kucoba, mulai dari cokelat, vanila, dan rasa standar lainnya sampai rasa yang mungkin kau belum pernah mendengarnya. Rasa pizza, spageti, bakso, dan bahkan es krim dengan rasa sangat pahit yang melebihi obat.
Hari ini aku berburu es krim lagi, sudah jadi kewajiban aku harus memakan es krim tiap harinya. Aku mulai bosan karena tidak ada lagi rasa es krim yang baru, mungkin karena aku terlalu terobsesi--tapi ah itulah yang namanya cinta, kau takkan pernah bosan walaupun menunya itu-itu saja. Aku memutuskan untuk pulang lebih awal untuk memakan es krim yang sudah kusiapkan di dalam lemari pendingin. Aku pun berjalan--setengah berlari dengan rasa tidak sabar.
Ketika aku sampai di persimpangan jalan, aku melihat kedai es krim.
'Kedai es krim? Sejak kapan?'
Dengan rasa penasaran, aku pun ke kedai itu.
"Hei bagaimana kalau menu ini saja?"
"Ah aku sudah bosan, bagaimana kalau yang ini? Ini sepertinya enak."
"Emm, baiklah. Pelayan, aku pesan yang ini dua ya."
'Cukup ramai untuk kedai yang baru buka', batinku.
Aku segera duduk di kursi yang kosong di bagian pojok ruangan. Aku penasaran apa mereka punya menu yang berbe--
"Permisi tuan, tuan ingin memesan apa?" kata pelayan mengagetkanku.
"Ah eh--ini ehm.." kataku gugup.
"Ya..?"
"Aku ingin memesan dark ice cream ini." kataku sambil menunjuk pada menu.
"Dark ice cream. Ada yang lain?"
"Tidak, itu saja."
"Baiklah, harap tunggu sebentar."
Aku masih tidak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Kronologisnya pun masih saja kulamunkan, aku masuk ke kedai es krim baru yang cukup ramai, lalu tiba-tiba memesan es--
"Permisi.. Silahkan tuan. Dark Ice Cream yang anda pesan."
"Oh ya terimakasih."
'Pelayan ini--selalu mengagetkanku.'
Mungkin ini hanya perasaanku saja atau memang benar atmosfer di dalam kedai ini tiba-tiba saja berubah drastis. Aku merasa ada yang tak beres.
'Sebaiknya aku segera menghabiskan es krim ini, bayar, lalu pulang secepatnya.'
Aku pun memakan es krim ini dengan lahap. Es krim ini lebih manis dari yang aku duga. Oh ya aku sudah terbiasa dengan rasa dinginnya, jadi aku bisa menghabiskannya lebih cepat dari orang normal.
Setelah beberapa lama, es krim itu akhirnya habis. Aku segera merogoh kantongku untuk mengambil dompet, lalu tiba-tiba pandangan--pandanganku memburam, aku tidak bisa merasakan jari-jemariku atau pun kakiku, degup jantungku jadi terdengar lebih keras, kemudian aku jatuh tersungkur.
Sebelum pandanganku gelap, aku melihat pengunjung-pengunjung itu melihat ke arahku dengan kulit putih pucat dengan banyak garis hitam diseluruh kulit, dan mata hitam kelam. Lalu aku mendengar suara..
"Selamat datang di kedai es krim terkutuk, anak muda."
Semua rasa es krim sudah kucoba, mulai dari cokelat, vanila, dan rasa standar lainnya sampai rasa yang mungkin kau belum pernah mendengarnya. Rasa pizza, spageti, bakso, dan bahkan es krim dengan rasa sangat pahit yang melebihi obat.
Hari ini aku berburu es krim lagi, sudah jadi kewajiban aku harus memakan es krim tiap harinya. Aku mulai bosan karena tidak ada lagi rasa es krim yang baru, mungkin karena aku terlalu terobsesi--tapi ah itulah yang namanya cinta, kau takkan pernah bosan walaupun menunya itu-itu saja. Aku memutuskan untuk pulang lebih awal untuk memakan es krim yang sudah kusiapkan di dalam lemari pendingin. Aku pun berjalan--setengah berlari dengan rasa tidak sabar.
Ketika aku sampai di persimpangan jalan, aku melihat kedai es krim.
'Kedai es krim? Sejak kapan?'
Dengan rasa penasaran, aku pun ke kedai itu.
"Hei bagaimana kalau menu ini saja?"
"Ah aku sudah bosan, bagaimana kalau yang ini? Ini sepertinya enak."
"Emm, baiklah. Pelayan, aku pesan yang ini dua ya."
'Cukup ramai untuk kedai yang baru buka', batinku.
Aku segera duduk di kursi yang kosong di bagian pojok ruangan. Aku penasaran apa mereka punya menu yang berbe--
"Permisi tuan, tuan ingin memesan apa?" kata pelayan mengagetkanku.
"Ah eh--ini ehm.." kataku gugup.
"Ya..?"
"Aku ingin memesan dark ice cream ini." kataku sambil menunjuk pada menu.
"Dark ice cream. Ada yang lain?"
"Tidak, itu saja."
"Baiklah, harap tunggu sebentar."
Aku masih tidak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Kronologisnya pun masih saja kulamunkan, aku masuk ke kedai es krim baru yang cukup ramai, lalu tiba-tiba memesan es--
"Permisi.. Silahkan tuan. Dark Ice Cream yang anda pesan."
"Oh ya terimakasih."
'Pelayan ini--selalu mengagetkanku.'
Mungkin ini hanya perasaanku saja atau memang benar atmosfer di dalam kedai ini tiba-tiba saja berubah drastis. Aku merasa ada yang tak beres.
'Sebaiknya aku segera menghabiskan es krim ini, bayar, lalu pulang secepatnya.'
Aku pun memakan es krim ini dengan lahap. Es krim ini lebih manis dari yang aku duga. Oh ya aku sudah terbiasa dengan rasa dinginnya, jadi aku bisa menghabiskannya lebih cepat dari orang normal.
Setelah beberapa lama, es krim itu akhirnya habis. Aku segera merogoh kantongku untuk mengambil dompet, lalu tiba-tiba pandangan--pandanganku memburam, aku tidak bisa merasakan jari-jemariku atau pun kakiku, degup jantungku jadi terdengar lebih keras, kemudian aku jatuh tersungkur.
Sebelum pandanganku gelap, aku melihat pengunjung-pengunjung itu melihat ke arahku dengan kulit putih pucat dengan banyak garis hitam diseluruh kulit, dan mata hitam kelam. Lalu aku mendengar suara..
"Selamat datang di kedai es krim terkutuk, anak muda."
Tag :// CREEPYPASTA
ang punya penyakit jantung nggak usah baca
Silahkan menikmati cerita ini.
Judul: Entah Siapa
Oleh: kuhaku
"Ugh!" ucapku melenguh.
Kurenggangkan otot-ototku, menekuri buku selama berjam-jam membuat seluruh tubuhku terasa kaku. Kukucek perlahan mataku yang memerah karena lelah, keadaanku benar-benar kacau. 00:37, itulah angka jam yang tertera di layar ponselku. Sial! sudah lewat tengah malam dan aku belum rampung mengerjakan semua tugasku. Ya ampun! tugas-tugas yang susah ini membuat kepalaku terasa pecah, kenapa pula harus dikumpulkan besok sih?!
Ah, aku menyerah.
Kucampakkan buku-buku tugas yang ada di meja belajarku, otakku sudah panas memikirkan semua itu. Gelap, tentu saja, lampu kamarky sudah kumatikan. Kulangkahkan kakiku menuju kasur tipis di kamar, tanpa menunggu lama tubuhku sudah berbaring nyaman di sana. Ah! ini lebih nyaman daripada harus duduk selama berjam-jam di kursi kayu yang keras.
Kutarik selimut hingga batas dada, lalu memeluk guling usang yang sudah menemani tidurku selama beberapa tahun. Kumiringkan tubuhku, membuat pandanganku langsung terarah ke tembok bercat putih.
Perlahan namun pasti, kupejamkan mata coklatku, bersiap-siap berseluncur ke alam bawah sadar. Dapat kupastikan, kantung hitam akan bertengger di pelupuk mataku, serta rasa pusing yang mendera saat aku terbangun subuh nanti. Ah, biarlah. Tak akan jadi masalah besar, bukan?
Dunia mimpi, aku datang!
Kriet!
Itu seperti suara lemariku saat terbuka, mana mungkin aku lupa suara engsel lemari yang sudah berkarat itu. Tapi siapa yang membukanya? Entah, mungkin hanya halusinasiku saja. Mungkin.
Kukosongkan lagi pikiranku agar segera tertidur. Tapi, entah kenapa aku merasa seperti diawasi seseorang, entah siapa.
Tok! Tok! Tok!
Kali ini seperti suara jendelaku yang diketuk. Oh, ayolah! aku perlu beristirahat sekarang. Mungkin otakku terlalu panas sehingga terus berhalusinasi seperti ini--lagi.
Sret! Sret! Sret!
Suara langkah kaki seseorang tertangkap indra pendengaranku. Oh tidak! ini bukan halusinasi. Ini nyata.
Keringat dingin meluncur dari pelipisku. Dapat kurasakan jantungku yang berpacu cepat di rongga dadaku. Badanku pun gemetar ketakutan. Kuharap itu bukan perampok yang akan mencuri di rumah ini, kuharap juga bukan psikopat yang menyelinap masuk. Tapi, kurasa semua pintu dan jendela sudah kututup rapat, atau aku lupa?
Oh tidak! Aku sendirian di rumah, orang tuaku sedang pergi untuk sebuah acara keluarga di luar kota. Jika aku berteriak, mungkin para tetangga hanya akan menemukanku terkapar dan bersimbah darah.
Sret! Sret!
Suara itu kembali terdengar, lebih jelas dan tentu saja lebih dekat. Tunggu dulu! jika itu perampok ataupun psikopat, apa mungkin mereka mengetuk jendela untuk memberi tahukan pemilik rumah bahwa mereka datang? Jawabannya, tidak mungkin.
Napas hangat membelai tengkukku, membuat bulu romaku berdiri. Bau anyir yang busuk membuat perutku bergejolak. Entah siapa yang berbaring di belakangku, tapi dia jelas-jelas membuatku takut sekaligus mual.
"El- Elisa." Nada kebencian dan kemarahan mengalir satu dalam suara itu, begitu mengancam.
Aku mengenal suara berat yang begitu familiar di telingaku, terekam jelas di memori otakku. Itu suara Alvi, kekasihku.
Tapi ... bukankah Alvin sudah kumutilasi? Apakah dia ...?
TAMAT
Kamis, 05 Maret 2015.
Silahkan menikmati cerita ini.
Judul: Entah Siapa
Oleh: kuhaku
"Ugh!" ucapku melenguh.
Kurenggangkan otot-ototku, menekuri buku selama berjam-jam membuat seluruh tubuhku terasa kaku. Kukucek perlahan mataku yang memerah karena lelah, keadaanku benar-benar kacau. 00:37, itulah angka jam yang tertera di layar ponselku. Sial! sudah lewat tengah malam dan aku belum rampung mengerjakan semua tugasku. Ya ampun! tugas-tugas yang susah ini membuat kepalaku terasa pecah, kenapa pula harus dikumpulkan besok sih?!
Ah, aku menyerah.
Kucampakkan buku-buku tugas yang ada di meja belajarku, otakku sudah panas memikirkan semua itu. Gelap, tentu saja, lampu kamarky sudah kumatikan. Kulangkahkan kakiku menuju kasur tipis di kamar, tanpa menunggu lama tubuhku sudah berbaring nyaman di sana. Ah! ini lebih nyaman daripada harus duduk selama berjam-jam di kursi kayu yang keras.
Kutarik selimut hingga batas dada, lalu memeluk guling usang yang sudah menemani tidurku selama beberapa tahun. Kumiringkan tubuhku, membuat pandanganku langsung terarah ke tembok bercat putih.
Perlahan namun pasti, kupejamkan mata coklatku, bersiap-siap berseluncur ke alam bawah sadar. Dapat kupastikan, kantung hitam akan bertengger di pelupuk mataku, serta rasa pusing yang mendera saat aku terbangun subuh nanti. Ah, biarlah. Tak akan jadi masalah besar, bukan?
Dunia mimpi, aku datang!
Kriet!
Itu seperti suara lemariku saat terbuka, mana mungkin aku lupa suara engsel lemari yang sudah berkarat itu. Tapi siapa yang membukanya? Entah, mungkin hanya halusinasiku saja. Mungkin.
Kukosongkan lagi pikiranku agar segera tertidur. Tapi, entah kenapa aku merasa seperti diawasi seseorang, entah siapa.
Tok! Tok! Tok!
Kali ini seperti suara jendelaku yang diketuk. Oh, ayolah! aku perlu beristirahat sekarang. Mungkin otakku terlalu panas sehingga terus berhalusinasi seperti ini--lagi.
Sret! Sret! Sret!
Suara langkah kaki seseorang tertangkap indra pendengaranku. Oh tidak! ini bukan halusinasi. Ini nyata.
Keringat dingin meluncur dari pelipisku. Dapat kurasakan jantungku yang berpacu cepat di rongga dadaku. Badanku pun gemetar ketakutan. Kuharap itu bukan perampok yang akan mencuri di rumah ini, kuharap juga bukan psikopat yang menyelinap masuk. Tapi, kurasa semua pintu dan jendela sudah kututup rapat, atau aku lupa?
Oh tidak! Aku sendirian di rumah, orang tuaku sedang pergi untuk sebuah acara keluarga di luar kota. Jika aku berteriak, mungkin para tetangga hanya akan menemukanku terkapar dan bersimbah darah.
Sret! Sret!
Suara itu kembali terdengar, lebih jelas dan tentu saja lebih dekat. Tunggu dulu! jika itu perampok ataupun psikopat, apa mungkin mereka mengetuk jendela untuk memberi tahukan pemilik rumah bahwa mereka datang? Jawabannya, tidak mungkin.
Napas hangat membelai tengkukku, membuat bulu romaku berdiri. Bau anyir yang busuk membuat perutku bergejolak. Entah siapa yang berbaring di belakangku, tapi dia jelas-jelas membuatku takut sekaligus mual.
"El- Elisa." Nada kebencian dan kemarahan mengalir satu dalam suara itu, begitu mengancam.
Aku mengenal suara berat yang begitu familiar di telingaku, terekam jelas di memori otakku. Itu suara Alvi, kekasihku.
Tapi ... bukankah Alvin sudah kumutilasi? Apakah dia ...?
TAMAT
Kamis, 05 Maret 2015.
Tag :// CREEPYPASTA
eps.1
dulu, ada sebuah restoran bernama freddy fasbear pizzeria.
restoran tersebut terkenal karena ada 5 animatronic yang siap menghibur anak anak. diantaranya foxy,chica,bonnie,freddy,dan golden freddy.
hanya saja, foxy dan golden freddy tidaklah berusia panjang. mereka tidak dipakai lagi dikarenakan rusak.hingga suatu hari, mulai banyak
terjadi tragedi. mulai dari hilangnya 5 anak, sampai gigitan 1987. ada yang mengatakan kalau hilangnya 5 anak merupakan ulah orang yang mengenakan kemeja ungu yang memakai kostum golden freddy.
banyak orang yang mengatakan kalau di sekitar mulut dan mata para animatronic mengeluarkan cairan seperti darah. bahkan ada yang mengaku saat melewati jendela freddy fasbear pizzeria saat malam hari, kalau dia melihat chica,freddy,bonnie,dan foxy tampak sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam karung bernoda darah. dan sangat dipastikan kalau itu adalah anak yang berhasil mereka tangkap.
dan muncullah rumor kalau bahan utama dalam pizzanya adalah daging manusia. sejak itulah perlahan lahan restoran tersebut mulai agak sepi. hanya pendatang lah yang datang tersebut. itupun kalau mereka tidak tau yang terjadi sebenarnya. aku tau, kalau aku bekerja disitu, resikonya terlalu besar. namun apa daya, aku butuh uang. aku harus bekerja disitu apapun resikonya.maka, besok adalah hari dimana aku memulai sebuah pekerjaan yang beresiko besar. semoga aku selamat......
Bersambung
ditunggu yak
dulu, ada sebuah restoran bernama freddy fasbear pizzeria.
restoran tersebut terkenal karena ada 5 animatronic yang siap menghibur anak anak. diantaranya foxy,chica,bonnie,freddy,dan golden freddy.
hanya saja, foxy dan golden freddy tidaklah berusia panjang. mereka tidak dipakai lagi dikarenakan rusak.hingga suatu hari, mulai banyak
terjadi tragedi. mulai dari hilangnya 5 anak, sampai gigitan 1987. ada yang mengatakan kalau hilangnya 5 anak merupakan ulah orang yang mengenakan kemeja ungu yang memakai kostum golden freddy.
banyak orang yang mengatakan kalau di sekitar mulut dan mata para animatronic mengeluarkan cairan seperti darah. bahkan ada yang mengaku saat melewati jendela freddy fasbear pizzeria saat malam hari, kalau dia melihat chica,freddy,bonnie,dan foxy tampak sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam karung bernoda darah. dan sangat dipastikan kalau itu adalah anak yang berhasil mereka tangkap.
dan muncullah rumor kalau bahan utama dalam pizzanya adalah daging manusia. sejak itulah perlahan lahan restoran tersebut mulai agak sepi. hanya pendatang lah yang datang tersebut. itupun kalau mereka tidak tau yang terjadi sebenarnya. aku tau, kalau aku bekerja disitu, resikonya terlalu besar. namun apa daya, aku butuh uang. aku harus bekerja disitu apapun resikonya.maka, besok adalah hari dimana aku memulai sebuah pekerjaan yang beresiko besar. semoga aku selamat......
Bersambung
ditunggu yak
Tag :// CREEPYPASTA
HEARTBEAT
Memang benar! Aku gelisah, sangat-sangat
gelisah pada waktu itu -- sekarang pun
masih. Namun, mengapa kalian
menyebutku gila? Rasa sakit menajamkan
inderaku, bukan melemahkannya. Apalagi,
membuatnya tumpul. Dibanding indera
lainnya, indera pendengaranku paling
tajam. Aku mendengar semua hal di langit
dan di bumi. Aku mendengar suara di
neraka. Bagaimana bisa aku disebut gila?
Dengarlah! Kalian akan tahu betapa
warasnya aku. Betapa tenangnya aku. Akan
kuceritakan kepada kalian seluruh detail
kejadiannya.
***
Sulit menceritakan bagaimana mula-mula
pikiran itu menyusup dalam benakku.
Namun, begitu masuk, pikiran memburuku
siang malam. Tak ada niat dan aku tak ada
dendam padanya. Aku mencintai orang tua
itu. Ia tak pernah berbuat salah kepadaku.
Juga tak pernah melukai hatiku. Emasnya
pun tak kuinginkan. Kupikir yang menjadi
persoalan adalah matanya. Hmm, ya,
matanya! Salah satu bola matanya
menyerupai mata burung pemangsa –
mata yang biru dan berselaput. Setiap kali
mata itu menatapku, darahku terasa beku.
Dan sedikit demi sedikit -- secara
berangsur-angsur -- aku membulatkan hati
untuk membunuhnya. Sehingga, terbebas
selamanya dari sergapan mata burung
pemangsa itu.
Di sinilah pangkal soalnya. Kau akan
menganggapku gila. Semua orang gila
pasti tidak tahu apa-apa. Namun kau akan
melihat bagaimana aku melakukannya. Kau
akan melihat betapa cerdiknya aku
menyelesaikan pekerjaanku -- begitu rapi,
terencana. Kemudian, berpura-pura tidak
tahu apa-apa. Aku menjadi lebih manis
kepada oang tua itu pada seminggu
terakhir sebelum aku membunuhnya.
Setiap malam, menjelang tengah malam,
aku memutar gagang pintu kamarnya dan
membukanya -- hmm, begitu hati-hati.
Dan kemudian ketika pintu kamar itu
terkuak dan cukup bagiku untuk
memasukkan kepala, kumasukkan lentera
berkatup yang kurapatkan semua
lempengan katupnya. Sehingga, tidak ada
sinar yang menerobos keluar dari lentera
itu. Lalu, kusorongkan kepalaku ke dalam.
Oh, kau pasti terkejut melihat betapa
cerdiknya aku menyusupkan kepala.
Semua kulakukan pelan-pelan, sangat-
sangat pelan. Sehingga, tidak
mengganggu tidur orang tua itu.
Kuperlukan satu jam untuk menempatkan
posisi kepala sebaik-baiknya di celah
pintu. Sehingga, aku bisa leluasa melihat
orang tua itu berbaring di ranjangnya. Nah,
bisakah orang gila melakukan pekerjaan
secerdik ini? Dan ketika kepalaku sudah
leluasa, aku membuka katup penutup
lentera dengan hati-hati -- begitu hati-hati
-- jangan sampai engsel katupnya berderit.
Aku membuka seperlunya saja, cukup agar
seberkas tipis cahaya bisa menerangi mata
burung pemangsa itu. Dan pekerjaan
seperti ini kulakukan selama tujuh malam
berturut-turut, tiap datang tengah malam.
Namun, selalu kujumpai mata itu tertutup.
Dalam keadaan seperti itu tentu mustahil
melanjutkan rencanaku. Karena, bukan
orang tua itu yang membangkitkan
marahku. Tapi, mata itu! Pagi harinya, di
saat fajar, sengaja kudatangi kamarnya.
Kuajak ia bercakap-cakap, kusapa
namanya penuh semangat. Kutanya pula
apa tidurnya nyenyak semalam. Dengan
demikian, kau tahu, diperlukan kecerdasan
tertentu pada si tua itu untuk menduga
bahwa setiap malam, tepat pukul dua
belas, aku selalu mengamatinya ketika ia
tidur.
Pada malam ke delapan aku membuka
pintu lebih hati-hati ketimbang malam-
malam sebelumnya. Jarum menit jam
dinding, bahkan lebih cepat ketimbang
gerakan tanganku. Baru pada malam itu
aku merasakan begitu besarnya
kekuatanku -- begitu cerdiknya akalku.
Hampir aku tidak bisa menahan luapan
perasaan menangku. Membayangkan diriku
sendiri sedang menguakkan pintu, sedikit
demi sedikit, dan orang tua itu bahkan
tidak pernah berkhayal tentang apa yang
kulakukan dan apa yang kupikirkan. Aku
tergeletak dengan lintasan pikiran ini.
Mungkin, ia mendengar suaraku. Karena,
tiba-tiba, ia menggerakkan tubuhnya
seperti orang terkejut. Sekarang kau pasti
berpikir bahwa aku akan mundur. Tidak!
Kamarnya gelap pekat, jendelanya tertutup
rapat. Karena itu, aku tahu bahwa ia tidak
melihat pintu kamarnya terkuak, dan aku
terus saja mendorong daun pintu itu
sedikit demi sedikit.
Aku menyusupkan kepalaku ke celah pintu
dan sedang membuka katup lentera, ketika
jempolku tiba-tiba selip dan mengetuk
lempengan penutup, dan si tua itu bangkit
dari ranjangnya.
"Siapa itu?" teriaknya.
Aku mematung di tempatku dan tak
mengeluarkan sepatah kata pun. Dalam
satu jam aku sama sekali tak bergerak.
Selama itu, pula aku tak mendengar ia
merebahkan tubuhnya lagi. Ia tetap duduk
di ranjangnya dan mendengarkan. Seperti
aku, malam demi malam. Mendengar detak
jam kematian di dinding.
Tiba-tiba kudengar erangan kecil, dan aku
tahu itulah erangan yang muncul. Karena,
teror kematian. Bukan erangan, karena sakit
atau dukacita. Sama sekali bukan. Itu
suara lemah orang tercekik. Suara yang
muncul dari dasar jiwa yang diteror
kengerian. Aku kenal sekali dengan suara
itu. Beberapa malam, tepat tengah malam,
di saat dunia terlelap, suara itu bangkit
dari dadaku, menusuk-nusuk. Gaungnya
mengerikan. Sebuah teror yang
menggelisahkan. Kubilang aku kenal betul
suara itu. Aku tahu apa yang dirasakan
orang tua itu, dan turut berduka atas
kemalangannya, meskipun dalam hati aku
ketawa. Aku tahu bahwa matanya tak
pernah lagi terpejam, sejak ia dikejutkan
oleh suara yang membangunkannya. Rasa
takutnya tumbuh semakin besar. Ia coba
menenangkan diri, tapi tidak bisa. Ia
yakinkan dirinya sendiri, "Tidak ada
apapun, hanya angin di cerobong asap –
hanya tikus yang merayap," atau "hanya
jangkrik yang mengerik." Ya, ia mencoba
menenangkan diri dengan dugaan-dugaan
seperti itu, tapi sia-sia. Sia-sia; sebab
maut yang menguntitnya diam-diam kini
telah mengepung korbannya dengan
bayang-bayang hitam. Dan efek muram
bayang-bayang yang tak tampak itulah
yang menyebabkan ia merasakan -- bukan
mendengar atau melihat. Namun
merasakan -- kehadiran kepalaku di
kamarnya.
Setelah cukup lama menunggu, dengan
sangat sabar, tanpa mendengar ia
membaringkan kembali tubuhnya, maka
kubuka sedikit -- sedikit sekali -- katup
lentera untuk membuka celah kecil. Kau
takkan bisa membayangkan betapa hati-
hatinya aku membuka katup itu. Sehingga,
akhirnya seutas cahaya, setipis sulur
benang laba-laba, memancar dari celah
lentera dan jatuh tepat di mata burung
pemangsa itu.
Mata itu terbuka, begitu lebar. Amarahku
bangkit ketika melihat mata itu terbuka.
Jelas sekali kulihat -- mata biru berkabut,
dengan selaput yang mengerikan, yang
menusukkan hawa dingin di sumsum
tulangku. Namun, sama sekali tak kulihat
wajah orang tua itu: sebab seolah
dibimbing oleh naluriku, cahaya lentera
kuarahkan tepat pada bulatan mata keparat
itu.
Jadi, bukanlah yang kau sebut gila itu
sesungguhnya adalah inderaku yang
begitu tajam? Sekarang aku mendengar
suara lemah, samar-samar, berdetak dalam
tempo cepat seperti detak jam yang
terbungkus kain. Aku kenal betul suara itu.
Ialah bunyi detak jantung orang tua itu.
Kemarahanku memuncak, sebagaimana
keberanian seorang serdadu naik, karena
pukulan genderang.
Kendati demikian aku masih menahan diri.
Kutahan napasku. Kujaga lentera di
tanganku. Kujaga agar sinarnya tetap jatuh
ke matanya. Sementara detak jantung
terkutuk itu temponya semakin meningkat.
Makin lama makin cepat, dan makin keras.
Ketakutan si tua itu, pastilah luar biasa!
Suara itu makin keras, kubilang, bertambah
keras setiap saat. Kau catatkah
omonganku baik-baik? Telah kukatakan
kepadamu bahwa aku gelisah: begitulah
yang kurasakan. Dan sekarang pada jam
kematian malam itu, di tengah kebisuan
yang mencekam di rumah tua itu, dentam
aneh itu menyiksaku layaknya sebuah teror
yang tak tertanggungkan. Aku masih
menahan diri beberapa menit dan tetap tak
beraksi. Namun, dentam itu makin
memekakkan. Kupikir jantungnya pasti
segera meledak. Dan sekarang aku
merasakan kecemasan baru -- para
tetangga pasti akan mendengar bunyi itu!
Tiba sudah waktu bagi si tua! Dengan
teriakan keras, aku membuka semua katup
lentera dan merangsek masuk ke dalam
kamar. Sekali ia memekik, hanya sekali.
Dalam sekejap aku menyeretnya ke lantai
dan membekapnya dengan kasur tebalnya.
Setelah itu, senyumku mengembang,
semua pekerjaan beres. Bermenit-menit
jantung itu masih berdetak samar-samar.
Namun, tak lagi membuatku jengkel.
Suaranya takkan mampu menembus
dinding. Akhirnya bunyi itu berhenti. Si tua
mati. Aku mengangkat kasur dan
memeriksa mayatnya. Ya, ia sudah mati.
Matanya takkan menyusahkan aku lagi.
Kalau masih kau anggap gila aku,
anggapan itu tak akan berlaku lagi bila
kulukiskan apa yang kulakukan untuk
menyembunyikan mayatnya. Malam
melarut, dan aku mengebut pekerjaanku,
tanpa suara. Pertama-tama kumutilasi
mayat itu. Kupenggal kepalanya, kedua
lengannya, dan kedua kakinya.
Kemudian, kubongkar tiga bilah papan
lantai kamar itu dan kumasukkan
potongan-potongan tubuhnya ke dalam
rongga di bawah lantai kamar. Setelah itu
kukembalikan lagi papan lantai seperti
semula, begitu sepele, begitu rapi.
Sehingga, tak satupun mata -- termasuk
mata si tua itu -- yang menemukan adanya
kejanggalan. Tak ada yang perlu dicuci.
Karena, tak ada ceceran noda apa pun. Tak
ada bercak darah sekecil apa pun. Aku
sangat waspada terhadap semua itu. Bak
mandi sudah menampung semuanya. Ha!
Ha!
Jam empat pagi semua pekerjaanku selesai
sudah. Hari masih gelap seperti tengah
malam. Bersamaan dengan dentang
lonceng jam, terdengar ketukan di pintu
depan. Aku turun dengan perasaan ringan.
Apalagi, yang perlu ditakutkan kini?
Kubuka pintu, tiga orang lelaki masuk.
Mereka memperkenalkan diri dengan
sangat sopan sebagai petugas-petugas
kepolisian. Seorang tetangga mendengar
pekik si tua itu semalam. Menduga ada
tindak kejahatan, ia melapor kantor polisi.
Dan mereka (para polisi itu) ditugasi untuk
melakukan penyidikan atas kecurigaan si
tetangga.
Aku tersenyum. Apalagi, yang perlu
ditakutkan? Dengan ramah kupersilakan
mereka masuk. Pekik itu, kataku, keluar
dari mulutku di saat mimpi. Kujelaskan
kepada mereka bahwa si orang tua sedang
tidak di rumah. Lalu, kubawa mereka
melihat-lihat seisi rumah. Kupersilakan
mereka memeriksa -- memeriksa dengan
teliti. Akhirnya, kubawa ketiga orang itu ke
kamar si tua. Kuperlihatkan kepada mereka
barang-barang berharga miliknya. Semua
aman, tak tercolek. Dengan kepercayaan
diri yang melambung, aku mengusung
kursi-kursi ke dalam kamar itu. Dan
meminta mereka untuk melepas lelah di
tempat itu. Sementara aku sendiri, dalam
gelegak keberanian, karena kemenangan
yang sempurna, meletakkan kursiku tepat
di atas tempat aku menyimpan mayat si
tua.
Para petugas merasa puas. Perlakuanku
meyakinkan mereka. Aku sendiri merasa
tenang. Mereka duduk. Sementara aku
menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan
keseharian yang normal. Tapi, sebentar
kemudian aku merasa parasku memucat
dan berharap agar mereka segera pergi.
Kepalaku pening, dan aku merasakan
penging di telingaku. Namun, mereka tetap
duduk dan bercakap-cakap. Suara penging
itu makin jelas: terus-menerus dan makin
jelas. Aku bicara lebih keras untuk
mengusir perasaan itu. Namun, suara
penging itu terus saja dan makin pasti.
Sampai akhirnya aku sadar bahwa suara
penging itu bukan di dalam telingaku.
Parasku, aku yakin makin memucat.
Namun, bicaraku lebih fasih dan lebih
lantang. Suara penging itu "bangkit". Aduh,
apa yang bisa kulakukan? Kudengar suara
lemah, samar-samar, yang berdetak dalam
tempo cepat. Seperti, detak jam yang
terbungkus kain. Napasku tersengal.
Namun, para petugas itu tidak
mendengarnya. Bicaraku lebih cepat, lebih
meyakinkan. "Bebunyian" keparat itu makin
kuat. Aku bangkit dan mendebat segala
topik pembicaraan yang sepele, dalam
nada tinggi dan gerak tubuh yang kasar.
Dan bunyi itu terus menguat.
Mengapa mereka tidak mau pergi? Aku
mondar-mandir dengan langkah panjang
dan menghentak. Seolah-olah merasa
terganggu oleh pemeriksaan yang mereka
lakukan. Tapi, bunyi keparat itu terus
menguat. Ya, Tuhan! Apa yang bisa
kulakukan? Aku meradang. Aku meracau.
Aku mengutuk! Kuangkat kursi yang
kududuki dan kuhempaskan benda itu ke
lantai papan. Namun, kegaduhan yang
ditimbulkanya tertelan oleh bunyi detak
keparat yang terus menguat itu. Suara itu
makin kencang, makin kencang, makin
kencang! Para petugas, tetap melanjutkan
percakapan seperti tak terjadi apa-apa.
Mereka cuma tersenyum. Bagaimana
mungkin mereka tidak mendengar suara
itu? Demi Tuhan! Tidak! Tidak! Mereka juga
mendengar. Mereka curiga. Mereka tahu!
Mereka pasti sedang menemoohkan
ketakutanku. Kupikir begitu. Cara lain
kurasa jauh lebih baik dari siksaan seperti
ini! Cara lain apa pun lebih bisa
ditanggungkan daripada pelecehan ini! Aku
tidak kuat lagi melihat senyum pura-pura
mereka. Aku merasa bahwa aku harus
berteriak. Atau aku mampus! Dan sekarang,
bunyi itu lagi. Dengar! Makin kencang.
Makin kencang. Makin kencang!
"Jahanam!" aku memekik, "tak usah
berpura-pura lagi! Aku yang melakukan
semuanya! Bongkar saja papan ini di sini,
di sini! Di sinilah dentam jantung keparat
itu!"
Memang benar! Aku gelisah, sangat-sangat
gelisah pada waktu itu -- sekarang pun
masih. Namun, mengapa kalian
menyebutku gila? Rasa sakit menajamkan
inderaku, bukan melemahkannya. Apalagi,
membuatnya tumpul. Dibanding indera
lainnya, indera pendengaranku paling
tajam. Aku mendengar semua hal di langit
dan di bumi. Aku mendengar suara di
neraka. Bagaimana bisa aku disebut gila?
Dengarlah! Kalian akan tahu betapa
warasnya aku. Betapa tenangnya aku. Akan
kuceritakan kepada kalian seluruh detail
kejadiannya.
***
Sulit menceritakan bagaimana mula-mula
pikiran itu menyusup dalam benakku.
Namun, begitu masuk, pikiran memburuku
siang malam. Tak ada niat dan aku tak ada
dendam padanya. Aku mencintai orang tua
itu. Ia tak pernah berbuat salah kepadaku.
Juga tak pernah melukai hatiku. Emasnya
pun tak kuinginkan. Kupikir yang menjadi
persoalan adalah matanya. Hmm, ya,
matanya! Salah satu bola matanya
menyerupai mata burung pemangsa –
mata yang biru dan berselaput. Setiap kali
mata itu menatapku, darahku terasa beku.
Dan sedikit demi sedikit -- secara
berangsur-angsur -- aku membulatkan hati
untuk membunuhnya. Sehingga, terbebas
selamanya dari sergapan mata burung
pemangsa itu.
Di sinilah pangkal soalnya. Kau akan
menganggapku gila. Semua orang gila
pasti tidak tahu apa-apa. Namun kau akan
melihat bagaimana aku melakukannya. Kau
akan melihat betapa cerdiknya aku
menyelesaikan pekerjaanku -- begitu rapi,
terencana. Kemudian, berpura-pura tidak
tahu apa-apa. Aku menjadi lebih manis
kepada oang tua itu pada seminggu
terakhir sebelum aku membunuhnya.
Setiap malam, menjelang tengah malam,
aku memutar gagang pintu kamarnya dan
membukanya -- hmm, begitu hati-hati.
Dan kemudian ketika pintu kamar itu
terkuak dan cukup bagiku untuk
memasukkan kepala, kumasukkan lentera
berkatup yang kurapatkan semua
lempengan katupnya. Sehingga, tidak ada
sinar yang menerobos keluar dari lentera
itu. Lalu, kusorongkan kepalaku ke dalam.
Oh, kau pasti terkejut melihat betapa
cerdiknya aku menyusupkan kepala.
Semua kulakukan pelan-pelan, sangat-
sangat pelan. Sehingga, tidak
mengganggu tidur orang tua itu.
Kuperlukan satu jam untuk menempatkan
posisi kepala sebaik-baiknya di celah
pintu. Sehingga, aku bisa leluasa melihat
orang tua itu berbaring di ranjangnya. Nah,
bisakah orang gila melakukan pekerjaan
secerdik ini? Dan ketika kepalaku sudah
leluasa, aku membuka katup penutup
lentera dengan hati-hati -- begitu hati-hati
-- jangan sampai engsel katupnya berderit.
Aku membuka seperlunya saja, cukup agar
seberkas tipis cahaya bisa menerangi mata
burung pemangsa itu. Dan pekerjaan
seperti ini kulakukan selama tujuh malam
berturut-turut, tiap datang tengah malam.
Namun, selalu kujumpai mata itu tertutup.
Dalam keadaan seperti itu tentu mustahil
melanjutkan rencanaku. Karena, bukan
orang tua itu yang membangkitkan
marahku. Tapi, mata itu! Pagi harinya, di
saat fajar, sengaja kudatangi kamarnya.
Kuajak ia bercakap-cakap, kusapa
namanya penuh semangat. Kutanya pula
apa tidurnya nyenyak semalam. Dengan
demikian, kau tahu, diperlukan kecerdasan
tertentu pada si tua itu untuk menduga
bahwa setiap malam, tepat pukul dua
belas, aku selalu mengamatinya ketika ia
tidur.
Pada malam ke delapan aku membuka
pintu lebih hati-hati ketimbang malam-
malam sebelumnya. Jarum menit jam
dinding, bahkan lebih cepat ketimbang
gerakan tanganku. Baru pada malam itu
aku merasakan begitu besarnya
kekuatanku -- begitu cerdiknya akalku.
Hampir aku tidak bisa menahan luapan
perasaan menangku. Membayangkan diriku
sendiri sedang menguakkan pintu, sedikit
demi sedikit, dan orang tua itu bahkan
tidak pernah berkhayal tentang apa yang
kulakukan dan apa yang kupikirkan. Aku
tergeletak dengan lintasan pikiran ini.
Mungkin, ia mendengar suaraku. Karena,
tiba-tiba, ia menggerakkan tubuhnya
seperti orang terkejut. Sekarang kau pasti
berpikir bahwa aku akan mundur. Tidak!
Kamarnya gelap pekat, jendelanya tertutup
rapat. Karena itu, aku tahu bahwa ia tidak
melihat pintu kamarnya terkuak, dan aku
terus saja mendorong daun pintu itu
sedikit demi sedikit.
Aku menyusupkan kepalaku ke celah pintu
dan sedang membuka katup lentera, ketika
jempolku tiba-tiba selip dan mengetuk
lempengan penutup, dan si tua itu bangkit
dari ranjangnya.
"Siapa itu?" teriaknya.
Aku mematung di tempatku dan tak
mengeluarkan sepatah kata pun. Dalam
satu jam aku sama sekali tak bergerak.
Selama itu, pula aku tak mendengar ia
merebahkan tubuhnya lagi. Ia tetap duduk
di ranjangnya dan mendengarkan. Seperti
aku, malam demi malam. Mendengar detak
jam kematian di dinding.
Tiba-tiba kudengar erangan kecil, dan aku
tahu itulah erangan yang muncul. Karena,
teror kematian. Bukan erangan, karena sakit
atau dukacita. Sama sekali bukan. Itu
suara lemah orang tercekik. Suara yang
muncul dari dasar jiwa yang diteror
kengerian. Aku kenal sekali dengan suara
itu. Beberapa malam, tepat tengah malam,
di saat dunia terlelap, suara itu bangkit
dari dadaku, menusuk-nusuk. Gaungnya
mengerikan. Sebuah teror yang
menggelisahkan. Kubilang aku kenal betul
suara itu. Aku tahu apa yang dirasakan
orang tua itu, dan turut berduka atas
kemalangannya, meskipun dalam hati aku
ketawa. Aku tahu bahwa matanya tak
pernah lagi terpejam, sejak ia dikejutkan
oleh suara yang membangunkannya. Rasa
takutnya tumbuh semakin besar. Ia coba
menenangkan diri, tapi tidak bisa. Ia
yakinkan dirinya sendiri, "Tidak ada
apapun, hanya angin di cerobong asap –
hanya tikus yang merayap," atau "hanya
jangkrik yang mengerik." Ya, ia mencoba
menenangkan diri dengan dugaan-dugaan
seperti itu, tapi sia-sia. Sia-sia; sebab
maut yang menguntitnya diam-diam kini
telah mengepung korbannya dengan
bayang-bayang hitam. Dan efek muram
bayang-bayang yang tak tampak itulah
yang menyebabkan ia merasakan -- bukan
mendengar atau melihat. Namun
merasakan -- kehadiran kepalaku di
kamarnya.
Setelah cukup lama menunggu, dengan
sangat sabar, tanpa mendengar ia
membaringkan kembali tubuhnya, maka
kubuka sedikit -- sedikit sekali -- katup
lentera untuk membuka celah kecil. Kau
takkan bisa membayangkan betapa hati-
hatinya aku membuka katup itu. Sehingga,
akhirnya seutas cahaya, setipis sulur
benang laba-laba, memancar dari celah
lentera dan jatuh tepat di mata burung
pemangsa itu.
Mata itu terbuka, begitu lebar. Amarahku
bangkit ketika melihat mata itu terbuka.
Jelas sekali kulihat -- mata biru berkabut,
dengan selaput yang mengerikan, yang
menusukkan hawa dingin di sumsum
tulangku. Namun, sama sekali tak kulihat
wajah orang tua itu: sebab seolah
dibimbing oleh naluriku, cahaya lentera
kuarahkan tepat pada bulatan mata keparat
itu.
Jadi, bukanlah yang kau sebut gila itu
sesungguhnya adalah inderaku yang
begitu tajam? Sekarang aku mendengar
suara lemah, samar-samar, berdetak dalam
tempo cepat seperti detak jam yang
terbungkus kain. Aku kenal betul suara itu.
Ialah bunyi detak jantung orang tua itu.
Kemarahanku memuncak, sebagaimana
keberanian seorang serdadu naik, karena
pukulan genderang.
Kendati demikian aku masih menahan diri.
Kutahan napasku. Kujaga lentera di
tanganku. Kujaga agar sinarnya tetap jatuh
ke matanya. Sementara detak jantung
terkutuk itu temponya semakin meningkat.
Makin lama makin cepat, dan makin keras.
Ketakutan si tua itu, pastilah luar biasa!
Suara itu makin keras, kubilang, bertambah
keras setiap saat. Kau catatkah
omonganku baik-baik? Telah kukatakan
kepadamu bahwa aku gelisah: begitulah
yang kurasakan. Dan sekarang pada jam
kematian malam itu, di tengah kebisuan
yang mencekam di rumah tua itu, dentam
aneh itu menyiksaku layaknya sebuah teror
yang tak tertanggungkan. Aku masih
menahan diri beberapa menit dan tetap tak
beraksi. Namun, dentam itu makin
memekakkan. Kupikir jantungnya pasti
segera meledak. Dan sekarang aku
merasakan kecemasan baru -- para
tetangga pasti akan mendengar bunyi itu!
Tiba sudah waktu bagi si tua! Dengan
teriakan keras, aku membuka semua katup
lentera dan merangsek masuk ke dalam
kamar. Sekali ia memekik, hanya sekali.
Dalam sekejap aku menyeretnya ke lantai
dan membekapnya dengan kasur tebalnya.
Setelah itu, senyumku mengembang,
semua pekerjaan beres. Bermenit-menit
jantung itu masih berdetak samar-samar.
Namun, tak lagi membuatku jengkel.
Suaranya takkan mampu menembus
dinding. Akhirnya bunyi itu berhenti. Si tua
mati. Aku mengangkat kasur dan
memeriksa mayatnya. Ya, ia sudah mati.
Matanya takkan menyusahkan aku lagi.
Kalau masih kau anggap gila aku,
anggapan itu tak akan berlaku lagi bila
kulukiskan apa yang kulakukan untuk
menyembunyikan mayatnya. Malam
melarut, dan aku mengebut pekerjaanku,
tanpa suara. Pertama-tama kumutilasi
mayat itu. Kupenggal kepalanya, kedua
lengannya, dan kedua kakinya.
Kemudian, kubongkar tiga bilah papan
lantai kamar itu dan kumasukkan
potongan-potongan tubuhnya ke dalam
rongga di bawah lantai kamar. Setelah itu
kukembalikan lagi papan lantai seperti
semula, begitu sepele, begitu rapi.
Sehingga, tak satupun mata -- termasuk
mata si tua itu -- yang menemukan adanya
kejanggalan. Tak ada yang perlu dicuci.
Karena, tak ada ceceran noda apa pun. Tak
ada bercak darah sekecil apa pun. Aku
sangat waspada terhadap semua itu. Bak
mandi sudah menampung semuanya. Ha!
Ha!
Jam empat pagi semua pekerjaanku selesai
sudah. Hari masih gelap seperti tengah
malam. Bersamaan dengan dentang
lonceng jam, terdengar ketukan di pintu
depan. Aku turun dengan perasaan ringan.
Apalagi, yang perlu ditakutkan kini?
Kubuka pintu, tiga orang lelaki masuk.
Mereka memperkenalkan diri dengan
sangat sopan sebagai petugas-petugas
kepolisian. Seorang tetangga mendengar
pekik si tua itu semalam. Menduga ada
tindak kejahatan, ia melapor kantor polisi.
Dan mereka (para polisi itu) ditugasi untuk
melakukan penyidikan atas kecurigaan si
tetangga.
Aku tersenyum. Apalagi, yang perlu
ditakutkan? Dengan ramah kupersilakan
mereka masuk. Pekik itu, kataku, keluar
dari mulutku di saat mimpi. Kujelaskan
kepada mereka bahwa si orang tua sedang
tidak di rumah. Lalu, kubawa mereka
melihat-lihat seisi rumah. Kupersilakan
mereka memeriksa -- memeriksa dengan
teliti. Akhirnya, kubawa ketiga orang itu ke
kamar si tua. Kuperlihatkan kepada mereka
barang-barang berharga miliknya. Semua
aman, tak tercolek. Dengan kepercayaan
diri yang melambung, aku mengusung
kursi-kursi ke dalam kamar itu. Dan
meminta mereka untuk melepas lelah di
tempat itu. Sementara aku sendiri, dalam
gelegak keberanian, karena kemenangan
yang sempurna, meletakkan kursiku tepat
di atas tempat aku menyimpan mayat si
tua.
Para petugas merasa puas. Perlakuanku
meyakinkan mereka. Aku sendiri merasa
tenang. Mereka duduk. Sementara aku
menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan
keseharian yang normal. Tapi, sebentar
kemudian aku merasa parasku memucat
dan berharap agar mereka segera pergi.
Kepalaku pening, dan aku merasakan
penging di telingaku. Namun, mereka tetap
duduk dan bercakap-cakap. Suara penging
itu makin jelas: terus-menerus dan makin
jelas. Aku bicara lebih keras untuk
mengusir perasaan itu. Namun, suara
penging itu terus saja dan makin pasti.
Sampai akhirnya aku sadar bahwa suara
penging itu bukan di dalam telingaku.
Parasku, aku yakin makin memucat.
Namun, bicaraku lebih fasih dan lebih
lantang. Suara penging itu "bangkit". Aduh,
apa yang bisa kulakukan? Kudengar suara
lemah, samar-samar, yang berdetak dalam
tempo cepat. Seperti, detak jam yang
terbungkus kain. Napasku tersengal.
Namun, para petugas itu tidak
mendengarnya. Bicaraku lebih cepat, lebih
meyakinkan. "Bebunyian" keparat itu makin
kuat. Aku bangkit dan mendebat segala
topik pembicaraan yang sepele, dalam
nada tinggi dan gerak tubuh yang kasar.
Dan bunyi itu terus menguat.
Mengapa mereka tidak mau pergi? Aku
mondar-mandir dengan langkah panjang
dan menghentak. Seolah-olah merasa
terganggu oleh pemeriksaan yang mereka
lakukan. Tapi, bunyi keparat itu terus
menguat. Ya, Tuhan! Apa yang bisa
kulakukan? Aku meradang. Aku meracau.
Aku mengutuk! Kuangkat kursi yang
kududuki dan kuhempaskan benda itu ke
lantai papan. Namun, kegaduhan yang
ditimbulkanya tertelan oleh bunyi detak
keparat yang terus menguat itu. Suara itu
makin kencang, makin kencang, makin
kencang! Para petugas, tetap melanjutkan
percakapan seperti tak terjadi apa-apa.
Mereka cuma tersenyum. Bagaimana
mungkin mereka tidak mendengar suara
itu? Demi Tuhan! Tidak! Tidak! Mereka juga
mendengar. Mereka curiga. Mereka tahu!
Mereka pasti sedang menemoohkan
ketakutanku. Kupikir begitu. Cara lain
kurasa jauh lebih baik dari siksaan seperti
ini! Cara lain apa pun lebih bisa
ditanggungkan daripada pelecehan ini! Aku
tidak kuat lagi melihat senyum pura-pura
mereka. Aku merasa bahwa aku harus
berteriak. Atau aku mampus! Dan sekarang,
bunyi itu lagi. Dengar! Makin kencang.
Makin kencang. Makin kencang!
"Jahanam!" aku memekik, "tak usah
berpura-pura lagi! Aku yang melakukan
semuanya! Bongkar saja papan ini di sini,
di sini! Di sinilah dentam jantung keparat
itu!"
Tag :// CREEPYPASTA
BISA DI DOWNLOAD DI SINI: http://www.stafaband.info/download/mp3/lagu_karlmayer/
Misteri Dibalik Lagu Mistis KARL MAYER
Kemarin aku denger cerita tntng lagu karl mayer, karena penasaran gmn lagunya, aku buka di youtube :o
Gila, serem bgt >.<
. . .
Wkt aku mau tidur, aku brjln mnuju jendela d kamarku untuk menutupnya. Saat itu aku denger suara tawa selama 2 detik. Lalu aku mengarahkan pandanganku keluar. Aku pikir itu suara ayam. Tapi, setelah dipikir-pikir, mana ada ayam di sekitar rumahku, lagipula, ayam kan nggak bisa ketawa :o
Dan, mungkin itu efek dari dengerin lagu karl mayer, halusinasi :o
. . .
Oke langsung aja, ini dia misteri dibalik lagu mistis KARL MAYER :
"Karlmayer adalah suara/simfoni/musik yang dapat mempengaruhi otak manusia. Suara tersebut dapat konon dapat menghancurkan mental manusia dan membuat manusia gila. Suara tersebut adalah "sound pollution" atau suara yang bising dan membuat pusing. Tidak ada unsur gaib sama sekali di dalam suara ini. Tergantung dari "segaib" apa pemikiran orang yang mendengarkan suara ini.
Konon suara ini digunakan untuk menginterogasi seseorang agar ia mau mengaku karena pusingnya dengan suara ini. Dampak yang sering terjadi adalah paranoid, migrain, dan sakit telinga."
Dampak yang mungkin adalah sebagai berikut:
1. Sakit telinga, ini yang paling sering
tentu saja anda akan mengalami sakit telinga, karena frekuensi suara ini hampir mendekati gelombang ultrasonik
2. Pusing/migrain, ini juga sering
Jika anda mendengarkan suara ini dengan volume yang cukup tinggi, dampak ini tak terhindarkan
3. Tercantol di otak, ini cukup sering terjadi
anda menjadi memutar-mutar melodi ini terus menerus di kepala anda tanpa kemauan anda sendiri. Jika ini terjadi pada anda, bacalah peringatan diatas.
4. Menjadi paranoid
Jika anda tidak kuat tetapi memaksakan mendengarkan sampai habis, ini dapat menjadi kemungkinan. setiap anda kemana-mana anda selalu curiga, selalu celingak celinguk kiri kanan belakang, seperti ada yang mengawasi anda. pada tahap parah akan terjadi halusinasi mendadak.
5. Gila
Anda bisa saja menjadi gila. Jika anda tidak kuat mendengarkan suara ini, tetapi anda dipaksa untuk mendengarkannya/menonton videonya berkali-kali dengan volume yang besar, mungkin ini akan terjadi pada anda.
6. Tidak terjadi apa-apa
jika anda sudah memiliki pengalaman gaib yang banyak, atau anda tidak memiliki rasa takut, walaupun anda mendengarnya berkali-kali, anda tidak akan mengalami efek apa-apa, tetapi tidak terhindarkan efek kesatu dan kedua.
Konon bila mendengarkan suara ini/menonton videonya 10 kali, mental anda akan rusak, anda akan menjadi gila.
PENYEMBUHAN:
-Lupakan video/suara yang anda serap
-Dengarkan lagu-lagu slow/mellow
-Jangan menonton film horror untuk beberapa minggu
Berikut penjelasannya bila anda tidak berani mendengarkan/menontonnya:
Suara:
1. anda akan mendengar anak kecil yang tertawa cekikikan centil, dengan suara yang sangat cempreng. diiringi dengan suara erangan seperti senandung.
2. suara cekikikan tadi berubah menjadi suara jeritan yang sangat amat melengking, dengan suara yang sangat tinggi hampir mendekati batas ultrasonik. disinilah biasanya telinga anda menjadi sakit. tetap diiringi suara cekikikan-cekikikan.
3. Suara jeritan dan erangan tadi berhenti dan menjadi suara anak kecil yang sedang bersenandung dan bernyanyi-nyanyi melodi tanpa lirik.
4. suara tersebut makin keras-makin keras, dan ada suara wanita menjerit dan tiba-tiba suara menjadi suara yang sangat berisik (seperti TV yang bersemut tetapi dengan volume yang sangat tinggi) hati-hati yang memiliki penyakit jantung, ini dapat menjadi sangat mengejutkan.
5. suara bising tersebut berhenti, lalu suara perempuan yang cekikikan dan bersenandung terdengar lagi. kali ini diiringi suara perempuan yang menangis.
6. suara-suara tersebut berpadu menjadi sangat bising, disini biasanya anda akan merasa pusing. suara-suara tersebut semakin keras dan akhirnya diiringi suara TV bersemut tadi yang juga semakin membesar.
Video:
hanya gambar-gambar yang aneh dan menyimpang. Anda tidak perlu takut, karena gambar-gambar di video ini tidak ada yang menyeramkan. hanya menyimpang dan cenderung "aneh" dan berlawanan dengan pemikiran rasional anda. Pertama adalah gambar dua bayi yang bergandengan, lalu pada detik ke 17 menjadi gambar ladang bunga. tentu ini berlawanan dengan akal sehat, yang membuat persepsi anda menjadi "aneh" membuat anda menjadi cenderung takut. ladang bunga ini berubah-ubah warna. lalu muncul gambar ladang bunga lainnya dan berubah-ubah warna, pada detik ke 48 akan sedikit mengejutkan, yaitu gambar badut yang menyeringai. sampai akhirnya menit ke 1:14 muncul gambar sebuah topeng jepang.
lalu sampai saat itu akan terus menerus gambar ladang bunga yang berubah-ubah warna dan terbalik-terbalik. menit ke 1:58 akan muncul gambar seseorang yang berwarna warni.
lalu dari menit 1:59 sampai habis adalah gambar-gambar bermacam-macam yang relatif sangat aneh dan menyimpang. ada beberapa gambar lukisan. dan semuanya itu sama sekali tidak menyeramkan.
Tag :// URBAN LEGEND
> Terbunuhnya sang Mantan pacman emotikon <<
pencipta : Atika Safwan
hari ini, tanggal 20 Agustus 1991. telah di temukan sesosok mayat yang di ketahui bernama MANTAN, di sebuah taman tidak jauh dari kediamannya.
polisi melakukan investigasi dan dinyatakan kalau kemungkinan mayat tersebut telah meninggal lebih dari 40 jam yang lalu. dan sudah dipastikan itu adalah korban pembunuhan dengan di temukannya beberapa luka tusukan benda tajam di sekujur tubuhnya.
polisi mengintrogasi beberapa orang terdekat korban yang di curigai sebagai pelaku pembunuhan.
1). Linda
pacar korban. beberapa waktu lalu terlihat sedang adu mulut dan bertengkar dengan korban
"aku tidak berada di kota ini pada hari MANTAN terbunuh. kalian bisa tanyakan pada keluargaku di kampung. aku sedang menghadiri pemakaman kerabat di sana"
2). Andi
sahabat korban, sekaligus mantan pacar Linda.
"aku sedang berlibur kepantai pada hari MANTAN terbunuh. sebelum pergi aku memang mengajaknya, tapi dia menolak"
3). Lim
tetangga korban. sering terjadi perselisihan karna MANTAN sering pulang dengan keadaan mabuk dan melempari rumah Lim dengan batu.
"aku sedang mengantar dan menunggui anakku di sekolahnya seharian pada hari MANTAN di bunuh.
Siapakah pembunuh nya
pencipta : Atika Safwan
hari ini, tanggal 20 Agustus 1991. telah di temukan sesosok mayat yang di ketahui bernama MANTAN, di sebuah taman tidak jauh dari kediamannya.
polisi melakukan investigasi dan dinyatakan kalau kemungkinan mayat tersebut telah meninggal lebih dari 40 jam yang lalu. dan sudah dipastikan itu adalah korban pembunuhan dengan di temukannya beberapa luka tusukan benda tajam di sekujur tubuhnya.
polisi mengintrogasi beberapa orang terdekat korban yang di curigai sebagai pelaku pembunuhan.
1). Linda
pacar korban. beberapa waktu lalu terlihat sedang adu mulut dan bertengkar dengan korban
"aku tidak berada di kota ini pada hari MANTAN terbunuh. kalian bisa tanyakan pada keluargaku di kampung. aku sedang menghadiri pemakaman kerabat di sana"
2). Andi
sahabat korban, sekaligus mantan pacar Linda.
"aku sedang berlibur kepantai pada hari MANTAN terbunuh. sebelum pergi aku memang mengajaknya, tapi dia menolak"
3). Lim
tetangga korban. sering terjadi perselisihan karna MANTAN sering pulang dengan keadaan mabuk dan melempari rumah Lim dengan batu.
"aku sedang mengantar dan menunggui anakku di sekolahnya seharian pada hari MANTAN di bunuh.
Siapakah pembunuh nya
Tag :// RidleStory
TURBO STICK
Harga : Rp65.000 + DVD tutorial
Belum termasuk ongkir
Turbo stick adalah stick biasa yang dapat memindahkan,menghilangkan,menambahkan tulisan,lambang,titik,dll
Buatlah teman anda takjub!!!
Tag :// Shop
"Jack the Ripper" (bahasa Indonesia: "Jack sang Pencabik") adalah julukan paling terkenal yang diberikan kepada pembunuh berantai tak dikenal yang aktif di kawasan miskin di sekitar distrik Whitechapel, London, pada tahun 1888. Julukan ini berasal dari sebuah surat yang ditulis oleh seseorang yang mengaku sebagai pembunuh, yang kemudian disebarkan di media. Surat tersebut secara luas diyakini adalah tipuan, dan kemungkinan ditulis oleh seorang jurnalis yang berupaya untuk meningkatkan minat publik terhadap misteri tersebut. Julukan lainnya yang digunakan untuk sang pembunuh pada saat itu adalah "Pembunuh Whitechapel" dan si "Kulit Apron".
Pembunuhan yang dilakukan Ripper umumnya melibatkan wanita tunasusila yang berasal dari daerah kumuh dengan cara memotong tenggorokan kemudian memutilasi perut mereka. Hilangnya organ-organ dalam dari tiga korban Ripper memunculkan dugaan bahwa pelaku memiliki pengetahuan anatomi atau bedah. Desas-desus yang menyatakan bahwa pembunuhan ini saling berhubungan merebak pada bulan September dan Oktober 1888, dan beberapa surat yang dikirimkan oleh seseorang yang mengaku sebagai pembunuh diterima oleh media dan Scotland Yard. Surat "From Hell", yang diterima oleh George Lusk dari Whitechapel Vigilance Committee (Komite Kewaspadaan Whitechapel), juga berisikan separo ginjal manusia yang diawetkan, diduga ginjal tersebut merupakan milik salah seorang korban. Karena teknik pembunuhan yang luar biasa brutal, dan karena tingginya penafsiran media terhadap misteri ini, masyarakat semakin percaya bahwa pembunuhan ini merupakan pembunuhan berantai tunggal yang dilakukan oleh "Jack the Ripper".
Luasnya liputan surat kabar terhadap misteri ini menyebabkan Ripper meraih ketenaran internasional. Serangkaian penyelidikan mengenai pembunuhan lainnya yang dikenal sebagai Pembunuhan Whitechapel hingga tahun 1891 tidak mampu menghubungkan peristiwa pembunuhan ini dengan pembunuhan pada tahun 1888, namun legenda Jack the Ripper tetap dipercayai. Karena misteri pembunuhan ini tidak pernah terungkap, legenda tersebut semakin kuat, yang turut diiringi dengan penelitian sejarah asli, desas-desus, cerita rakyat, dan sejarah semu. Istilah "ripperologi" diciptakan untuk menggambarkan kajian dan analisis mengenai kasus Ripper. Hingga saat ini, terdapat lebih dari seratus teori mengenai identitas Ripper, dan misteri pembunuhan ini juga telah mengilhami lahirnya berbagai karya fiksi.
Tag :// URBAN LEGEND
SOLVE THE CASE
Suatu hari, Detektif Rendra dimintai tolong seorang tuan tanah kaya. Tuan tanah itu bernama Tuan Wijaya. Dia meminta Detektif Rendra untuk menyelidiki kasus pencurian uang yang terjadi di rumahnya.
Saat ditemui di rumahnya, Tuan Wijaya hanya bisa berkata,
“Uang itu ada dalam sebuah amplop, tapi sekarang amplop itu isinya kosong. Pasti ada yang mencurinya!!”
Setelah melihat keadaan sekitar rumah yang masih baik-baik saja (tidak ada pencongkelan kunci jendela dan pintu) Detektif Rendra mencurigai ini pasti perbuatan orang dalam.
Kemudian dia memutuskan untuk menanyai penghuni rumah mewah itu satu persatu.
Orang yang pertama dia temui adalah si sopir, Radithya.
“Saya memang yg pertama membawa amplop itu, dan saya tahu itu isinya uang namun amplop itu langsung saya taruh di atas meja di ruangan pribadinya Tuan Wijaya” kata Radithya.
Lalu dia menanyai Faritz, si tukang bersih-bersih.
“Saya memang melihat amplop diatas meja, saya tidak tahu isinya tapi saya merasa amplop itu sangat penting. Karena itu saya lalu menyelipkannya di sebuah buku antara halaman 185 & 186″ ujar Faritz.
Ketiga si nyonya tuan rumah, Nyonya Wijaya
“Hawa rumah sangat dingin, karena itu saya ingin menyalakan pemanas di ruang pribadi suami saya. Tapi saya melihat amplop itu sudah jatuh di bawah meja. Saya penasaran, karena itu saya buka, tapi ternyata isinya kosong” celotehnya.
Detektif Rendra benar-benar bingung. Semua tersangka memiliki alibi, tapi semua tersangka juga ada kemungkinan mencuri.
Bisa saja Radithya sudah mengambil uang sebelum menaruh di meja. Atau mungkin Faritz yang mencuri uang itu sebelum diselipkan di buku. Atau Nyonya Wijaya yang pura-pura membuka dan mengatakan bahwa amplopnya sudah kosong. Atau juga tidak menutup kemungkinan juga si Tuan Wijaya pura-pura mengaku kecurian, padahal sebenarnya pelakunya justru dia sendiri??
Nah temen-temen. Ada yang mau membantu Detektif Rendra memecahkan kasus ini?? Siapakah diantara keempat orang itu yang mencuri?? Rasakan
Setelah melihat keadaan sekitar rumah yang masih baik-baik saja (tidak ada pencongkelan kunci jendela dan pintu) Detektif Rendra mencurigai ini pasti perbuatan orang dalam.
Kemudian dia memutuskan untuk menanyai penghuni rumah mewah itu satu persatu.
Orang yang pertama dia temui adalah si sopir, Radithya.
“Saya memang yg pertama membawa amplop itu, dan saya tahu itu isinya uang namun amplop itu langsung saya taruh di atas meja di ruangan pribadinya Tuan Wijaya” kata Radithya.
Lalu dia menanyai Faritz, si tukang bersih-bersih.
“Saya memang melihat amplop diatas meja, saya tidak tahu isinya tapi saya merasa amplop itu sangat penting. Karena itu saya lalu menyelipkannya di sebuah buku antara halaman 185 & 186″ ujar Faritz.
Ketiga si nyonya tuan rumah, Nyonya Wijaya
“Hawa rumah sangat dingin, karena itu saya ingin menyalakan pemanas di ruang pribadi suami saya. Tapi saya melihat amplop itu sudah jatuh di bawah meja. Saya penasaran, karena itu saya buka, tapi ternyata isinya kosong” celotehnya.
Detektif Rendra benar-benar bingung. Semua tersangka memiliki alibi, tapi semua tersangka juga ada kemungkinan mencuri.
Bisa saja Radithya sudah mengambil uang sebelum menaruh di meja. Atau mungkin Faritz yang mencuri uang itu sebelum diselipkan di buku. Atau Nyonya Wijaya yang pura-pura membuka dan mengatakan bahwa amplopnya sudah kosong. Atau juga tidak menutup kemungkinan juga si Tuan Wijaya pura-pura mengaku kecurian, padahal sebenarnya pelakunya justru dia sendiri??
Nah temen-temen. Ada yang mau membantu Detektif Rendra memecahkan kasus ini?? Siapakah diantara keempat orang itu yang mencuri?? Rasakan
Tag :// RidleStory
SOLVE THE CASE
SOLVE THE CASE
Polisi sedang menyelidiki kematian seseorang di sebuah rumah kontrakan orang asing. Dugaan sementara dari hasil olah TKP, orang itu mati itu bunuh diri, karena ditemukan telah tergantung diri dan ditemukan bukti lain berupa surat terakhir yang ditulis oleh orang itu sebelum meninggal. Sehingga hal ini memperkuat dugaan menunjukkan bahwa dia memang benar-benar bunuh diri.
Komandan polisi tidak puas, sehingga memanggil Detektif deby untuk ikut dalam penyelidikan. Detektif deby hanya mendapatkan beberapa informasi dari polisi, termasuk latar belakang orang tersebut.
SOLVE THE CASE
Polisi sedang menyelidiki kematian seseorang di sebuah rumah kontrakan orang asing. Dugaan sementara dari hasil olah TKP, orang itu mati itu bunuh diri, karena ditemukan telah tergantung diri dan ditemukan bukti lain berupa surat terakhir yang ditulis oleh orang itu sebelum meninggal. Sehingga hal ini memperkuat dugaan menunjukkan bahwa dia memang benar-benar bunuh diri.
Komandan polisi tidak puas, sehingga memanggil Detektif deby untuk ikut dalam penyelidikan. Detektif deby hanya mendapatkan beberapa informasi dari polisi, termasuk latar belakang orang tersebut.
Orang tersebut bernama Mark (23 thn). Orang ini hanya memiliki satu
kerabat, yaitu ayahnya yang bernama Anthony (54 thn), sedangkan ibunya
sudah meninggal. Karena kejadian ini, ayah korban sudah dipanggil oleh
polisi dari sejam yang lalu untuk datang ke sini dan saat ini sudah ada
di sekitar TKP. Dari keterangan ayahnya, dipastikan bahwa surat itu
memang ditulis oleh anaknya, karena dia sangat hapal tulisan anaknya
sendiri.
Detektif deby membaca surat itu. Surat itu berbunyi seperti ini:
Salamku buat ayah
Waktuku telah tiba untuk “die”
Emang dunia ini penuh angkara murka
Enggak… aku nggak bisa bersikap tegar
Titik darahku sudah habis, untuk mengakhiri riwayat
Namun detektif tetap merasa curiga. Sepertinya ini kasus pembunuhan. Dia menyimpulkan seperti ini karena tidak adanya bercak (maaf) sperma di celana korban. Hal ini umum karena orang yang menggantung dirinya akan merangsang organ genitalnya sebelum ajal. Selain itu juga terdapat memar agak besar di leher dan perut korban sehingga dapat disimpulkan bahwa korban ditindih dan dicekik. Setelah meninggal baru digantungkan. Keadaan di sekitar ruangan tempat korban ditemukan juga berantakan, sepertinya terjadi perkelahian.
Mengenai surat itu, Detektif deby yakin kalau surat tersebut adalah dying message yang ditinggalkan korban sebelum meninggal untuk memberitahu polisi siapa orang yang membunuhnya.
Setelah dilacak, ada 4 orang tersangka yg berhubungan erat dan punya alasan untuk membunuh si korban.
Alfred Sweetheart. Si korban diketahui memiliki hutang yang banyak kepada orang yg bernama Alfred Sweetheart ini.
Tina. Dia adalah pacar korban, tapi dari teman-teman korban diketahui bahwa akhir-akhir ini Tina sering sekali terlibat pertengkaran dengan si korban.
Jasson. Dia adalah pemilik kontrakan tempat korban tinggal. Belakangan diketahui kalo Jasson mengancam akan membunuh si korban jika dia tidak bisa mambayar kontrakannya…
Anthony (si ayah). Si ayah adalah orang yg sering mabuk2an dan berjudi. Hubungan ayah dengan korban sudah lama tidak harmonis, namun beberapa hari ini si ayah mengunjungi korban dengan alasan rindu.
Nah, bisakah kawan-kawan membantu Detektif deby menemukan pembunuh yang sebenarnya?
Detektif deby membaca surat itu. Surat itu berbunyi seperti ini:
Salamku buat ayah
Waktuku telah tiba untuk “die”
Emang dunia ini penuh angkara murka
Enggak… aku nggak bisa bersikap tegar
Titik darahku sudah habis, untuk mengakhiri riwayat
Namun detektif tetap merasa curiga. Sepertinya ini kasus pembunuhan. Dia menyimpulkan seperti ini karena tidak adanya bercak (maaf) sperma di celana korban. Hal ini umum karena orang yang menggantung dirinya akan merangsang organ genitalnya sebelum ajal. Selain itu juga terdapat memar agak besar di leher dan perut korban sehingga dapat disimpulkan bahwa korban ditindih dan dicekik. Setelah meninggal baru digantungkan. Keadaan di sekitar ruangan tempat korban ditemukan juga berantakan, sepertinya terjadi perkelahian.
Mengenai surat itu, Detektif deby yakin kalau surat tersebut adalah dying message yang ditinggalkan korban sebelum meninggal untuk memberitahu polisi siapa orang yang membunuhnya.
Setelah dilacak, ada 4 orang tersangka yg berhubungan erat dan punya alasan untuk membunuh si korban.
Alfred Sweetheart. Si korban diketahui memiliki hutang yang banyak kepada orang yg bernama Alfred Sweetheart ini.
Tina. Dia adalah pacar korban, tapi dari teman-teman korban diketahui bahwa akhir-akhir ini Tina sering sekali terlibat pertengkaran dengan si korban.
Jasson. Dia adalah pemilik kontrakan tempat korban tinggal. Belakangan diketahui kalo Jasson mengancam akan membunuh si korban jika dia tidak bisa mambayar kontrakannya…
Anthony (si ayah). Si ayah adalah orang yg sering mabuk2an dan berjudi. Hubungan ayah dengan korban sudah lama tidak harmonis, namun beberapa hari ini si ayah mengunjungi korban dengan alasan rindu.
Nah, bisakah kawan-kawan membantu Detektif deby menemukan pembunuh yang sebenarnya?
Tag :// RidleStory
SOLVE THE CASE
Saya adalah seorang pemuda yang tinggal di tokyo.saya bekerja di perusahaan telekomunikasi,setiap hari saya pergi menaiki kereta bawah tanah.Pada suatu hari saya melihat seorang gelandangan dia meminta uang
sambil mengoceh,tak lama kemudian ada seorang wanita gendut dan gelandangan itu berteriak
Babi!!! Babi!!! Babi!! , lalu ada pemuda dengan pakaian rapih lalu gelandangan itu berteriak
Manusia!!! Manusia!!! Manusia!!! aku pun berkata dalam hati apakah dia bisa membaca karakteristik seseorang? tapi aku tak mempedulikan nya,kereta pun datang dan aku pergi ke tempat kerja.
Keesokan harinya kau seperti biasa pergi kerja memakai kerata bawah tanah,akupun melihat gelandangan yang kemarin.Tak lama kemudian ada seorang remaja kurus dan di berteriak Ayam!!! Ayam!!! Ayam!!!
aku pun penasaran dan menghampirinya,saat di melihat ku di berteriak Roti!!! Roti!!! Roti!!!
ternyata dia bisa melihat apa yang kita makan terakhir kali,aku pun tersadar sebelum aku pergi kerja aku makan roti
Ada yang janggal?
Saya adalah seorang pemuda yang tinggal di tokyo.saya bekerja di perusahaan telekomunikasi,setiap hari saya pergi menaiki kereta bawah tanah.Pada suatu hari saya melihat seorang gelandangan dia meminta uang
sambil mengoceh,tak lama kemudian ada seorang wanita gendut dan gelandangan itu berteriak
Babi!!! Babi!!! Babi!! , lalu ada pemuda dengan pakaian rapih lalu gelandangan itu berteriak
Manusia!!! Manusia!!! Manusia!!! aku pun berkata dalam hati apakah dia bisa membaca karakteristik seseorang? tapi aku tak mempedulikan nya,kereta pun datang dan aku pergi ke tempat kerja.
Keesokan harinya kau seperti biasa pergi kerja memakai kerata bawah tanah,akupun melihat gelandangan yang kemarin.Tak lama kemudian ada seorang remaja kurus dan di berteriak Ayam!!! Ayam!!! Ayam!!!
aku pun penasaran dan menghampirinya,saat di melihat ku di berteriak Roti!!! Roti!!! Roti!!!
ternyata dia bisa melihat apa yang kita makan terakhir kali,aku pun tersadar sebelum aku pergi kerja aku makan roti
Ada yang janggal?
Tag :// RidleStory
SOLVE THIS CASE
Seorang gadis kecil keturunan amerika pindah dan di asuh oleh pamannya di Indonesia dikarenakan orang tuanya meninggal dunia. gadis kecil itu sangat shock dan karena itu dia menjadi sangat pendiam. pamannya pun sangat kasihan padanya sehingga ia memutuskan untuk mengajaknya jalan-jalan ke taman bermain. Disana mereka bermain semua permainan yang ada, mereka nampak begitu ceria, terutama gadis itu. Saat mereka lelah dan hendak beristirahat pamannya bilang kepada gadis kecil itu:
"Kamu gadis yang kuat ya, ayah ibumu pasti senang di alam sana."
"Tidak juga. aku ingin...." kata gadis itu seraya menunjuk pada pedagang es krim walls. (bukan niat promosi kang)
"Kamu ingin makan es krim?"
Pamannya pun membelikannya dan mereka duduk disebuah kursi taman sambil memakan es krim..
Tetapi ketika hendak memakannya, pamannya seketika shock dan air matapun mengalir deras dari matanya, ia menangis tersedu-sedu.
Gadis itu hanya terdiam sambil memakan es.
Kenapa Pamannya menangis?
Seorang gadis kecil keturunan amerika pindah dan di asuh oleh pamannya di Indonesia dikarenakan orang tuanya meninggal dunia. gadis kecil itu sangat shock dan karena itu dia menjadi sangat pendiam. pamannya pun sangat kasihan padanya sehingga ia memutuskan untuk mengajaknya jalan-jalan ke taman bermain. Disana mereka bermain semua permainan yang ada, mereka nampak begitu ceria, terutama gadis itu. Saat mereka lelah dan hendak beristirahat pamannya bilang kepada gadis kecil itu:
"Kamu gadis yang kuat ya, ayah ibumu pasti senang di alam sana."
"Tidak juga. aku ingin...." kata gadis itu seraya menunjuk pada pedagang es krim walls. (bukan niat promosi kang)
"Kamu ingin makan es krim?"
Pamannya pun membelikannya dan mereka duduk disebuah kursi taman sambil memakan es krim..
Tetapi ketika hendak memakannya, pamannya seketika shock dan air matapun mengalir deras dari matanya, ia menangis tersedu-sedu.
Gadis itu hanya terdiam sambil memakan es.
Kenapa Pamannya menangis?
Tag :// RidleStory














