Newest Post

// Posted by :Unknown // On :Sabtu, 09 Mei 2015

- Kembar - Part 4
Terdengar langkah terburu-buru milik seorang wanita setengah baya. Ia berjalan seorang diri menuju suatu tempat yang tak pernah orang lain ketahui dan jarang sekali di kunjungi. Tanpa Ia sadari ternyata sebuah pasang memperhatikannya dari arah kejauhan, pemilik mata itu mengikutinya dari belakang karena curiga wanita itu akan melakukan apa yang di katakannya waktu itu. Dan benar saja perempuan itu berhenti pada sebuah tempat yang sepi, hanya dikelilingi pohon-pohon besar yang sangat tinggi hingga menyebabkan menghalangi sinar matahari siang itu. Menimbulkan suasana yang agak gelap dan cukup mencekam, apalagi kalau malam hari. Wanita itu mendongakkan kepalanya melihat ke segela penjuru sambil berputar.
“Aku tau kau pasti ada disini. Aku ingin menawarkan sesuatu padamu.”
Lelaki yang tadi mengikutinya pun bersembunyi tak jauh dari tempat tersebut. Ia mengerutkan kening dan nampak gelisah.
“Ternyata dia benar-benar melakukannya. Aku harus mencegahnya sebelum terlambat dan segalanya akan fatal.” Gumamnya
Laki-laki itu keluar dari persembunyiannya dan segera meraih tangan wanita itu lalu menariknya dan membawa pergi dengan langkah cepat.
“Hey, lepaskan tanganku.” Ucapnya sambil berusaha melepaskan tangannya. Pria itu tidak mendengarkannya dan tetap memegang tangannya untuk dibawa pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah pria itu baru melepaskan tangan perempuan tersebut.
“Kau sungguh tidak waras!” Ucapnya setengah membentak
“Mengapa kau menggagalkan rencanaku?”
“Aku tidak akan membiarkanmu memberikan darah daging kita kepada iblis itu!”
“Dia hanya membawa sial dan mengganggu Laura!”
“Dia tidak mengganggu Laura, itu hanya opinimu karena kau membencinya.”
“Terserah, aku tak perduli. Pokoknya aku akan tetap melakukannya.”
“Sampai hati kau lakukan, aku tidak akan segan membunuhmu!”
“Aku yakin kau tidak akan tega seperti itu kepadaku, sayang.”
“Tapi bukan hal yang sulit jika kau benar melakukannya, istriku.”
***
Sementara itu nampaknya Laura lupa akan buku harian yang hendak dibacanya waktu itu, bahkan Ia sendiri lupa dimana meletakkannya. Dan kini Ia mencari-carinya
“Kemana buku itu? Seingatku ada di meja waktu terakhir kali aku hendak membacanya. Tapi kenapa sekarang tidak ada?” Ujarnya bertanya-tanya
“Ah, sudahlah. Nanti juga ketemu sendiri.”
Kemudian Ia berlalu pergi meninggalkan kamarnya dan menutup pintu. Lalu pergi berangkat sekolah.
“Laura..” Terdengar suara bisikan lembut seorang perempuan.
“Hey, aku disini.”
Ia mencari asal suara itu.
“Tarrrraaa..!!”
“Aaaaaaaaaaaaaakk..!”
“Hahahaha”
“Marsha, kau ini! Senang sekali berlaku seperti itu.”
“Hehehe, kau mau ke sekolah ya?”
“Iya, kenapa?”
“Boleh aku ikut?”
“Eh? Memangnya kamu tidak sekolah?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau.”
“Hah?”
“Sudahlah, ayo. Nanti kita terlambat.”
“Tunggu, apa kau mau kesekolah dengan pakaian seperti ini?”
“Tenang saja, mereka tidak akan ngeh.”
“Hah?”
Laura mengerutkan kening sambil memperhatikan pakaian yang dipakai Marsha. Gadis itu menggunakan dress putih sampai lutut dan flatshoes berwarna putih juga. Sungguh Ia tidak yakin akan pergi sekolah dengan baju Marsha yang seperti itu.
“Tak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Marsha meraih tangan Laura dan berjalan mendahului. Laura tampak kebingungan melihat langkah Marsha yang mendahuluinya sambil berpikir apakah dia tau dimana sekolah Marsha.
“Tenang saja, aku tau kok sekolahmu.”
“Eh?”
Laura terkejut Marsha mengetahui apa yang ada dipikirannya.
“Kenapa? Pasti terkejut aku dapat membaca pikiranmu ya?”
“Hehehe”
“Nah, ini sekolahmu kan?”
Keduanya sampai di depan gerbang sekolah dan mulai memasuki gerbang melangkah menuju kelas.
“Kau juga ikut ke kelas denganku?”
“Tentu saja, hari ini aku akan mengikutimu terus.”
“Walaupun guru datang dan pelajaran telah di mulai?”
“Iya, Laura.”
“Tapi bagaimana dengan...........................................”
“Sudah ku katakan tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Laura makin kebingungan. Dan benar saja saat bel sekolah sudah mulai berbunyi menandakan waktuny kelas di mulai, Ia melihat Marsha masih ada di kelas. Duduk di sebelah Ayu seketaris kelasnya. Kebetulan saat ini Isti teman sebangkunya tidak masuk, izin katanya. Laura sendiri tidak tahu apakah itu benar atau hanya supaya alfa di absennya tidak semakin bertambah mengetahui Isti memang jarang masuk entah untuk alasan apa. Marsha tampak asyik mengikuti pelajaran saat Laura memperhatikannya dari kejauhan, hanya berjarak 2 bangku darinya.
Akhirnya pelajaran kelas pun berakhir, semua murid berhamburan keluar kelas. Marsha benar-benar membuktikan perkataannya untuk mengikutinya terus. Kini mereka melangkah keluar gerbang.
“Laura, ada tempat yang ingin ku tunjukan padamu.’
“Dimanakah itu?”
“Ikut saja.”
“Tapi aku harus bilang pada ibuku dulu.”
“Tidak perlu.”
“Nanti kalau mencariku bagaimana?”
Marsha hanya tersenyum dan berjalan terus. Laura mengikutinya dan mensejajarkan langkahnya dengan Marsha.
“Memangnya kita mau kemana?”
“Suatu tempat.”
“Namanya?”
“Hhm.. Apa ya?” Marsha tampak berpikir.
“Kau ingin mengajakku ke suatu tempat tapi kau tidak tahu namanya? Mencurigakan sekali.”
“Hahaha, apa aku terlihat seperti akan menculikmu?”
“Kurasa begitu. Hahahaha”
“Itu memang benar.”
“Hah? Apanya benar?”
“Benar aku ingin menculikmu.”
“Kalau begitu apa aku harus berteriak minta tolong seperti adegan sinetron di televisi?”
“Hahahahaha. Terserah kau.”
Mereka sampai disebuah tempat yang sejuk dimana sekelilingnya terdapat pohon-pohon rindang banyak terdapat bunga seperti di taman. Suasana disekitar tempat tersebut menyenangkan dan membuat Laura betah hingga lupa akan kedua orang tuanya dan segalanya. Yang Ia tau saat ini Ia sedang bersama Marsha menikmati keadaan sekelilingnya.
***
Sudah hampir malam tapi Laura juga belum pulang ke rumah semenjak tadi pagi saat berangkat sekolah. Ibunya khawatir dan sejak tadi hanya mondar mandir menanti kehadiran anaknya pulang. Sampai suaminya datang dan melihat istrinya tengah kebingungan, cemas, serta gelisah.
“Sayang, ada apa denganmu sejak tadi terlihat risau?”
“Laura.. Laura.”
“Ada apa dengan Laura?”
“Dia belum pulang.”
“Belum pulang? Kemana dia?” Tanya suaminya yang juga mulai terlihat panik.
“Aku tidak tahu.”
“Apa kau sudah menghubungi temannya? Atau pihak sekolah?”
“Sudah.”
“Lalu apa katanya?”
“Mereka bilang, Laura sudah pulang semenjak siang saat bubaran sekolah. Bagaimana ini? Kemana kita harus mencari Laura?”
“Kita tunggu saja lagi, mungkin dia sedang belajar kelompok. Kalau sampai besok belum juga pulang baru kita lapor polisi.”
“Baiklah.” Ucapnya terlihat pasrah.
***
Sebulan berlalu, tapi Laura juga belum pulang dan di temukan. Kedua orang tuanya sudah lapor polisi dan polisi sedang mencarinya. Sedangkan ibunya Laura terlihat lesu dan terlihat agak kurus, sering tidur mengigau dan memanggil-manggil Laura. Suaminya kasihan melihat keadaan istrinya, Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Pria itu beranjak dari tempatnya menuju kamar Laura yang sudah 30 hari ini kosong karena Laura belum juga kembali sejak hilang. Ia melihat sebuah buku tergeletak di meja belajar dalam keadaan tertutup. Sesaat kemudian tiba-tiba buku itu terbuka, lelaki itu terkejut dan berjalan mendekati meja. Perlahan-lahan beberapa kalimat mulai tertulis lalu pria itu membacanya.
Catatan terakhir:
Ayah, maafkan aku telah membuat kalian resah mencari-cari Laura. Sebenarnya aku lah yang membawanya pergi dan mengajaknya ke tempatku, lalu mempengaruhinya untuk hanya memikirkan apa yang dilakukan disini dan membuatnya melupakan urusan dunia termasuk ayah juga ibu. Sekali ayah, ibu.. Maafkan aku. Aku hanya ingin bersama dan bermain dengan saudara kandungku sendiri. Maaf juga, karena aku mengambilnya dari kalian. Kalau saja dahulu ibu tidak melakukannya dan berkata kejam seperti itu aku masih dapat bisa menerimanya. Salam cinta, Marsha..
Lelaki itu diam terpaku, kini Ia mengerti dan tahu kemana anaknya hilang selama ini. Ia pun tidak dapat berbuat apa-apa selain pasrah menerimanya dan membiarkannya bersama, mungkin Tuhan pun memang menakdirkan mereka bersama meski dengan cara seperti yang Marsha lakukan.
Ia melangkah keluar meninggalkan kamar Laura, dan menguncinya rapat-rapat dan tidak berniat membukanya lagi. Sekarang Ia tengah memikirkan bagaimana cara memberitahukan hal ini kepada istrinya. Kini, ada 2 ruangan kosong dirumahnya..
Sementara itu di tempat Marsha dan Laura, keduanya terlihat bahagia bersama. Laura sama sekali tidak tahu kalau Marsha telah membawanya pergi dari kedua orangtuanya untuk selama-lamanya, Ia juga tidak tahu siapa sebenarnya Alura yang seringkali Marsha ceritakan dan juga apa isi buku harian yang hendak Ia baca waktu itu.
Dan Marsha, kini Ia dapat bersama Laura dengan selamanya tentu.


to be continue..
Note: maafkan kan part 4 yang amberegul ini. Salam sungkem.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

// Copyright © alifiafunclub //Anime-Note//Powered by Blogger // Designed by Johanes Djogan //