Newest Post
- Kembar - Part 4
Terdengar langkah terburu-buru milik
seorang wanita setengah baya. Ia berjalan seorang diri menuju suatu
tempat yang tak pernah orang lain ketahui dan jarang sekali di kunjungi.
Tanpa Ia sadari ternyata sebuah pasang memperhatikannya dari arah
kejauhan, pemilik mata itu mengikutinya dari belakang karena curiga
wanita itu akan melakukan apa yang di katakannya waktu itu. Dan benar
saja perempuan itu berhenti pada sebuah tempat yang sepi, hanya
dikelilingi pohon-pohon besar yang sangat tinggi hingga menyebabkan
menghalangi sinar matahari siang itu. Menimbulkan suasana yang agak
gelap dan cukup mencekam, apalagi kalau malam hari. Wanita itu
mendongakkan kepalanya melihat ke segela penjuru sambil berputar.
“Aku tau kau pasti ada disini. Aku ingin menawarkan sesuatu padamu.”
Lelaki yang tadi mengikutinya pun bersembunyi tak jauh dari tempat tersebut. Ia mengerutkan kening dan nampak gelisah.
“Ternyata dia benar-benar melakukannya. Aku harus mencegahnya sebelum terlambat dan segalanya akan fatal.” Gumamnya
Laki-laki itu keluar dari persembunyiannya dan segera meraih tangan
wanita itu lalu menariknya dan membawa pergi dengan langkah cepat.
“Hey, lepaskan tanganku.” Ucapnya sambil berusaha melepaskan tangannya.
Pria itu tidak mendengarkannya dan tetap memegang tangannya untuk dibawa
pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah pria itu baru melepaskan tangan perempuan tersebut.
“Kau sungguh tidak waras!” Ucapnya setengah membentak
“Mengapa kau menggagalkan rencanaku?”
“Aku tidak akan membiarkanmu memberikan darah daging kita kepada iblis itu!”
“Dia hanya membawa sial dan mengganggu Laura!”
“Dia tidak mengganggu Laura, itu hanya opinimu karena kau membencinya.”
“Terserah, aku tak perduli. Pokoknya aku akan tetap melakukannya.”
“Sampai hati kau lakukan, aku tidak akan segan membunuhmu!”
“Aku yakin kau tidak akan tega seperti itu kepadaku, sayang.”
“Tapi bukan hal yang sulit jika kau benar melakukannya, istriku.”
***
Sementara itu nampaknya Laura lupa akan buku harian yang hendak
dibacanya waktu itu, bahkan Ia sendiri lupa dimana meletakkannya. Dan
kini Ia mencari-carinya
“Kemana buku itu? Seingatku ada di meja
waktu terakhir kali aku hendak membacanya. Tapi kenapa sekarang tidak
ada?” Ujarnya bertanya-tanya
“Ah, sudahlah. Nanti juga ketemu sendiri.”
Kemudian Ia berlalu pergi meninggalkan kamarnya dan menutup pintu. Lalu pergi berangkat sekolah.
“Laura..” Terdengar suara bisikan lembut seorang perempuan.
“Hey, aku disini.”
Ia mencari asal suara itu.
“Tarrrraaa..!!”
“Aaaaaaaaaaaaaakk..!”
“Hahahaha”
“Marsha, kau ini! Senang sekali berlaku seperti itu.”
“Hehehe, kau mau ke sekolah ya?”
“Iya, kenapa?”
“Boleh aku ikut?”
“Eh? Memangnya kamu tidak sekolah?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau.”
“Hah?”
“Sudahlah, ayo. Nanti kita terlambat.”
“Tunggu, apa kau mau kesekolah dengan pakaian seperti ini?”
“Tenang saja, mereka tidak akan ngeh.”
“Hah?”
Laura mengerutkan kening sambil memperhatikan pakaian yang dipakai
Marsha. Gadis itu menggunakan dress putih sampai lutut dan flatshoes
berwarna putih juga. Sungguh Ia tidak yakin akan pergi sekolah dengan
baju Marsha yang seperti itu.
“Tak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Marsha meraih tangan Laura dan berjalan mendahului. Laura tampak
kebingungan melihat langkah Marsha yang mendahuluinya sambil berpikir
apakah dia tau dimana sekolah Marsha.
“Tenang saja, aku tau kok sekolahmu.”
“Eh?”
Laura terkejut Marsha mengetahui apa yang ada dipikirannya.
“Kenapa? Pasti terkejut aku dapat membaca pikiranmu ya?”
“Hehehe”
“Nah, ini sekolahmu kan?”
Keduanya sampai di depan gerbang sekolah dan mulai memasuki gerbang melangkah menuju kelas.
“Kau juga ikut ke kelas denganku?”
“Tentu saja, hari ini aku akan mengikutimu terus.”
“Walaupun guru datang dan pelajaran telah di mulai?”
“Iya, Laura.”
“Tapi bagaimana dengan...........................................”
“Sudah ku katakan tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Laura makin kebingungan. Dan benar saja saat bel sekolah sudah mulai
berbunyi menandakan waktuny kelas di mulai, Ia melihat Marsha masih ada
di kelas. Duduk di sebelah Ayu seketaris kelasnya. Kebetulan saat ini
Isti teman sebangkunya tidak masuk, izin katanya. Laura sendiri tidak
tahu apakah itu benar atau hanya supaya alfa di absennya tidak semakin
bertambah mengetahui Isti memang jarang masuk entah untuk alasan apa.
Marsha tampak asyik mengikuti pelajaran saat Laura memperhatikannya dari
kejauhan, hanya berjarak 2 bangku darinya.
Akhirnya pelajaran
kelas pun berakhir, semua murid berhamburan keluar kelas. Marsha
benar-benar membuktikan perkataannya untuk mengikutinya terus. Kini
mereka melangkah keluar gerbang.
“Laura, ada tempat yang ingin ku tunjukan padamu.’
“Dimanakah itu?”
“Ikut saja.”
“Tapi aku harus bilang pada ibuku dulu.”
“Tidak perlu.”
“Nanti kalau mencariku bagaimana?”
Marsha hanya tersenyum dan berjalan terus. Laura mengikutinya dan mensejajarkan langkahnya dengan Marsha.
“Memangnya kita mau kemana?”
“Suatu tempat.”
“Namanya?”
“Hhm.. Apa ya?” Marsha tampak berpikir.
“Kau ingin mengajakku ke suatu tempat tapi kau tidak tahu namanya? Mencurigakan sekali.”
“Hahaha, apa aku terlihat seperti akan menculikmu?”
“Kurasa begitu. Hahahaha”
“Itu memang benar.”
“Hah? Apanya benar?”
“Benar aku ingin menculikmu.”
“Kalau begitu apa aku harus berteriak minta tolong seperti adegan sinetron di televisi?”
“Hahahahaha. Terserah kau.”
Mereka sampai disebuah tempat yang sejuk dimana sekelilingnya terdapat
pohon-pohon rindang banyak terdapat bunga seperti di taman. Suasana
disekitar tempat tersebut menyenangkan dan membuat Laura betah hingga
lupa akan kedua orang tuanya dan segalanya. Yang Ia tau saat ini Ia
sedang bersama Marsha menikmati keadaan sekelilingnya.
***
Sudah hampir malam tapi Laura juga belum pulang ke rumah semenjak tadi
pagi saat berangkat sekolah. Ibunya khawatir dan sejak tadi hanya mondar
mandir menanti kehadiran anaknya pulang. Sampai suaminya datang dan
melihat istrinya tengah kebingungan, cemas, serta gelisah.
“Sayang, ada apa denganmu sejak tadi terlihat risau?”
“Laura.. Laura.”
“Ada apa dengan Laura?”
“Dia belum pulang.”
“Belum pulang? Kemana dia?” Tanya suaminya yang juga mulai terlihat panik.
“Aku tidak tahu.”
“Apa kau sudah menghubungi temannya? Atau pihak sekolah?”
“Sudah.”
“Lalu apa katanya?”
“Mereka bilang, Laura sudah pulang semenjak siang saat bubaran sekolah. Bagaimana ini? Kemana kita harus mencari Laura?”
“Kita tunggu saja lagi, mungkin dia sedang belajar kelompok. Kalau sampai besok belum juga pulang baru kita lapor polisi.”
“Baiklah.” Ucapnya terlihat pasrah.
***
Sebulan berlalu, tapi Laura juga belum pulang dan di temukan. Kedua
orang tuanya sudah lapor polisi dan polisi sedang mencarinya. Sedangkan
ibunya Laura terlihat lesu dan terlihat agak kurus, sering tidur
mengigau dan memanggil-manggil Laura. Suaminya kasihan melihat keadaan
istrinya, Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Pria itu beranjak dari
tempatnya menuju kamar Laura yang sudah 30 hari ini kosong karena Laura
belum juga kembali sejak hilang. Ia melihat sebuah buku tergeletak di
meja belajar dalam keadaan tertutup. Sesaat kemudian tiba-tiba buku itu
terbuka, lelaki itu terkejut dan berjalan mendekati meja. Perlahan-lahan
beberapa kalimat mulai tertulis lalu pria itu membacanya.
Catatan terakhir:
Ayah, maafkan aku telah membuat kalian resah mencari-cari Laura.
Sebenarnya aku lah yang membawanya pergi dan mengajaknya ke tempatku,
lalu mempengaruhinya untuk hanya memikirkan apa yang dilakukan disini
dan membuatnya melupakan urusan dunia termasuk ayah juga ibu. Sekali
ayah, ibu.. Maafkan aku. Aku hanya ingin bersama dan bermain dengan
saudara kandungku sendiri. Maaf juga, karena aku mengambilnya dari
kalian. Kalau saja dahulu ibu tidak melakukannya dan berkata kejam
seperti itu aku masih dapat bisa menerimanya. Salam cinta, Marsha..
Lelaki itu diam terpaku, kini Ia mengerti dan tahu kemana anaknya hilang
selama ini. Ia pun tidak dapat berbuat apa-apa selain pasrah
menerimanya dan membiarkannya bersama, mungkin Tuhan pun memang
menakdirkan mereka bersama meski dengan cara seperti yang Marsha
lakukan.
Ia melangkah keluar meninggalkan kamar Laura, dan
menguncinya rapat-rapat dan tidak berniat membukanya lagi. Sekarang Ia
tengah memikirkan bagaimana cara memberitahukan hal ini kepada istrinya.
Kini, ada 2 ruangan kosong dirumahnya..
Sementara itu di tempat
Marsha dan Laura, keduanya terlihat bahagia bersama. Laura sama sekali
tidak tahu kalau Marsha telah membawanya pergi dari kedua orangtuanya
untuk selama-lamanya, Ia juga tidak tahu siapa sebenarnya Alura yang
seringkali Marsha ceritakan dan juga apa isi buku harian yang hendak Ia
baca waktu itu.
Dan Marsha, kini Ia dapat bersama Laura dengan selamanya tentu.
to be continue..
Note: maafkan kan part 4 yang amberegul ini. Salam sungkem.
