Newest Post
// Posted by :Unknown
// On :Rabu, 04 Februari 2015
HEARTBEAT
Memang benar! Aku gelisah, sangat-sangat
gelisah pada waktu itu -- sekarang pun
masih. Namun, mengapa kalian
menyebutku gila? Rasa sakit menajamkan
inderaku, bukan melemahkannya. Apalagi,
membuatnya tumpul. Dibanding indera
lainnya, indera pendengaranku paling
tajam. Aku mendengar semua hal di langit
dan di bumi. Aku mendengar suara di
neraka. Bagaimana bisa aku disebut gila?
Dengarlah! Kalian akan tahu betapa
warasnya aku. Betapa tenangnya aku. Akan
kuceritakan kepada kalian seluruh detail
kejadiannya.
***
Sulit menceritakan bagaimana mula-mula
pikiran itu menyusup dalam benakku.
Namun, begitu masuk, pikiran memburuku
siang malam. Tak ada niat dan aku tak ada
dendam padanya. Aku mencintai orang tua
itu. Ia tak pernah berbuat salah kepadaku.
Juga tak pernah melukai hatiku. Emasnya
pun tak kuinginkan. Kupikir yang menjadi
persoalan adalah matanya. Hmm, ya,
matanya! Salah satu bola matanya
menyerupai mata burung pemangsa –
mata yang biru dan berselaput. Setiap kali
mata itu menatapku, darahku terasa beku.
Dan sedikit demi sedikit -- secara
berangsur-angsur -- aku membulatkan hati
untuk membunuhnya. Sehingga, terbebas
selamanya dari sergapan mata burung
pemangsa itu.
Di sinilah pangkal soalnya. Kau akan
menganggapku gila. Semua orang gila
pasti tidak tahu apa-apa. Namun kau akan
melihat bagaimana aku melakukannya. Kau
akan melihat betapa cerdiknya aku
menyelesaikan pekerjaanku -- begitu rapi,
terencana. Kemudian, berpura-pura tidak
tahu apa-apa. Aku menjadi lebih manis
kepada oang tua itu pada seminggu
terakhir sebelum aku membunuhnya.
Setiap malam, menjelang tengah malam,
aku memutar gagang pintu kamarnya dan
membukanya -- hmm, begitu hati-hati.
Dan kemudian ketika pintu kamar itu
terkuak dan cukup bagiku untuk
memasukkan kepala, kumasukkan lentera
berkatup yang kurapatkan semua
lempengan katupnya. Sehingga, tidak ada
sinar yang menerobos keluar dari lentera
itu. Lalu, kusorongkan kepalaku ke dalam.
Oh, kau pasti terkejut melihat betapa
cerdiknya aku menyusupkan kepala.
Semua kulakukan pelan-pelan, sangat-
sangat pelan. Sehingga, tidak
mengganggu tidur orang tua itu.
Kuperlukan satu jam untuk menempatkan
posisi kepala sebaik-baiknya di celah
pintu. Sehingga, aku bisa leluasa melihat
orang tua itu berbaring di ranjangnya. Nah,
bisakah orang gila melakukan pekerjaan
secerdik ini? Dan ketika kepalaku sudah
leluasa, aku membuka katup penutup
lentera dengan hati-hati -- begitu hati-hati
-- jangan sampai engsel katupnya berderit.
Aku membuka seperlunya saja, cukup agar
seberkas tipis cahaya bisa menerangi mata
burung pemangsa itu. Dan pekerjaan
seperti ini kulakukan selama tujuh malam
berturut-turut, tiap datang tengah malam.
Namun, selalu kujumpai mata itu tertutup.
Dalam keadaan seperti itu tentu mustahil
melanjutkan rencanaku. Karena, bukan
orang tua itu yang membangkitkan
marahku. Tapi, mata itu! Pagi harinya, di
saat fajar, sengaja kudatangi kamarnya.
Kuajak ia bercakap-cakap, kusapa
namanya penuh semangat. Kutanya pula
apa tidurnya nyenyak semalam. Dengan
demikian, kau tahu, diperlukan kecerdasan
tertentu pada si tua itu untuk menduga
bahwa setiap malam, tepat pukul dua
belas, aku selalu mengamatinya ketika ia
tidur.
Pada malam ke delapan aku membuka
pintu lebih hati-hati ketimbang malam-
malam sebelumnya. Jarum menit jam
dinding, bahkan lebih cepat ketimbang
gerakan tanganku. Baru pada malam itu
aku merasakan begitu besarnya
kekuatanku -- begitu cerdiknya akalku.
Hampir aku tidak bisa menahan luapan
perasaan menangku. Membayangkan diriku
sendiri sedang menguakkan pintu, sedikit
demi sedikit, dan orang tua itu bahkan
tidak pernah berkhayal tentang apa yang
kulakukan dan apa yang kupikirkan. Aku
tergeletak dengan lintasan pikiran ini.
Mungkin, ia mendengar suaraku. Karena,
tiba-tiba, ia menggerakkan tubuhnya
seperti orang terkejut. Sekarang kau pasti
berpikir bahwa aku akan mundur. Tidak!
Kamarnya gelap pekat, jendelanya tertutup
rapat. Karena itu, aku tahu bahwa ia tidak
melihat pintu kamarnya terkuak, dan aku
terus saja mendorong daun pintu itu
sedikit demi sedikit.
Aku menyusupkan kepalaku ke celah pintu
dan sedang membuka katup lentera, ketika
jempolku tiba-tiba selip dan mengetuk
lempengan penutup, dan si tua itu bangkit
dari ranjangnya.
"Siapa itu?" teriaknya.
Aku mematung di tempatku dan tak
mengeluarkan sepatah kata pun. Dalam
satu jam aku sama sekali tak bergerak.
Selama itu, pula aku tak mendengar ia
merebahkan tubuhnya lagi. Ia tetap duduk
di ranjangnya dan mendengarkan. Seperti
aku, malam demi malam. Mendengar detak
jam kematian di dinding.
Tiba-tiba kudengar erangan kecil, dan aku
tahu itulah erangan yang muncul. Karena,
teror kematian. Bukan erangan, karena sakit
atau dukacita. Sama sekali bukan. Itu
suara lemah orang tercekik. Suara yang
muncul dari dasar jiwa yang diteror
kengerian. Aku kenal sekali dengan suara
itu. Beberapa malam, tepat tengah malam,
di saat dunia terlelap, suara itu bangkit
dari dadaku, menusuk-nusuk. Gaungnya
mengerikan. Sebuah teror yang
menggelisahkan. Kubilang aku kenal betul
suara itu. Aku tahu apa yang dirasakan
orang tua itu, dan turut berduka atas
kemalangannya, meskipun dalam hati aku
ketawa. Aku tahu bahwa matanya tak
pernah lagi terpejam, sejak ia dikejutkan
oleh suara yang membangunkannya. Rasa
takutnya tumbuh semakin besar. Ia coba
menenangkan diri, tapi tidak bisa. Ia
yakinkan dirinya sendiri, "Tidak ada
apapun, hanya angin di cerobong asap –
hanya tikus yang merayap," atau "hanya
jangkrik yang mengerik." Ya, ia mencoba
menenangkan diri dengan dugaan-dugaan
seperti itu, tapi sia-sia. Sia-sia; sebab
maut yang menguntitnya diam-diam kini
telah mengepung korbannya dengan
bayang-bayang hitam. Dan efek muram
bayang-bayang yang tak tampak itulah
yang menyebabkan ia merasakan -- bukan
mendengar atau melihat. Namun
merasakan -- kehadiran kepalaku di
kamarnya.
Setelah cukup lama menunggu, dengan
sangat sabar, tanpa mendengar ia
membaringkan kembali tubuhnya, maka
kubuka sedikit -- sedikit sekali -- katup
lentera untuk membuka celah kecil. Kau
takkan bisa membayangkan betapa hati-
hatinya aku membuka katup itu. Sehingga,
akhirnya seutas cahaya, setipis sulur
benang laba-laba, memancar dari celah
lentera dan jatuh tepat di mata burung
pemangsa itu.
Mata itu terbuka, begitu lebar. Amarahku
bangkit ketika melihat mata itu terbuka.
Jelas sekali kulihat -- mata biru berkabut,
dengan selaput yang mengerikan, yang
menusukkan hawa dingin di sumsum
tulangku. Namun, sama sekali tak kulihat
wajah orang tua itu: sebab seolah
dibimbing oleh naluriku, cahaya lentera
kuarahkan tepat pada bulatan mata keparat
itu.
Jadi, bukanlah yang kau sebut gila itu
sesungguhnya adalah inderaku yang
begitu tajam? Sekarang aku mendengar
suara lemah, samar-samar, berdetak dalam
tempo cepat seperti detak jam yang
terbungkus kain. Aku kenal betul suara itu.
Ialah bunyi detak jantung orang tua itu.
Kemarahanku memuncak, sebagaimana
keberanian seorang serdadu naik, karena
pukulan genderang.
Kendati demikian aku masih menahan diri.
Kutahan napasku. Kujaga lentera di
tanganku. Kujaga agar sinarnya tetap jatuh
ke matanya. Sementara detak jantung
terkutuk itu temponya semakin meningkat.
Makin lama makin cepat, dan makin keras.
Ketakutan si tua itu, pastilah luar biasa!
Suara itu makin keras, kubilang, bertambah
keras setiap saat. Kau catatkah
omonganku baik-baik? Telah kukatakan
kepadamu bahwa aku gelisah: begitulah
yang kurasakan. Dan sekarang pada jam
kematian malam itu, di tengah kebisuan
yang mencekam di rumah tua itu, dentam
aneh itu menyiksaku layaknya sebuah teror
yang tak tertanggungkan. Aku masih
menahan diri beberapa menit dan tetap tak
beraksi. Namun, dentam itu makin
memekakkan. Kupikir jantungnya pasti
segera meledak. Dan sekarang aku
merasakan kecemasan baru -- para
tetangga pasti akan mendengar bunyi itu!
Tiba sudah waktu bagi si tua! Dengan
teriakan keras, aku membuka semua katup
lentera dan merangsek masuk ke dalam
kamar. Sekali ia memekik, hanya sekali.
Dalam sekejap aku menyeretnya ke lantai
dan membekapnya dengan kasur tebalnya.
Setelah itu, senyumku mengembang,
semua pekerjaan beres. Bermenit-menit
jantung itu masih berdetak samar-samar.
Namun, tak lagi membuatku jengkel.
Suaranya takkan mampu menembus
dinding. Akhirnya bunyi itu berhenti. Si tua
mati. Aku mengangkat kasur dan
memeriksa mayatnya. Ya, ia sudah mati.
Matanya takkan menyusahkan aku lagi.
Kalau masih kau anggap gila aku,
anggapan itu tak akan berlaku lagi bila
kulukiskan apa yang kulakukan untuk
menyembunyikan mayatnya. Malam
melarut, dan aku mengebut pekerjaanku,
tanpa suara. Pertama-tama kumutilasi
mayat itu. Kupenggal kepalanya, kedua
lengannya, dan kedua kakinya.
Kemudian, kubongkar tiga bilah papan
lantai kamar itu dan kumasukkan
potongan-potongan tubuhnya ke dalam
rongga di bawah lantai kamar. Setelah itu
kukembalikan lagi papan lantai seperti
semula, begitu sepele, begitu rapi.
Sehingga, tak satupun mata -- termasuk
mata si tua itu -- yang menemukan adanya
kejanggalan. Tak ada yang perlu dicuci.
Karena, tak ada ceceran noda apa pun. Tak
ada bercak darah sekecil apa pun. Aku
sangat waspada terhadap semua itu. Bak
mandi sudah menampung semuanya. Ha!
Ha!
Jam empat pagi semua pekerjaanku selesai
sudah. Hari masih gelap seperti tengah
malam. Bersamaan dengan dentang
lonceng jam, terdengar ketukan di pintu
depan. Aku turun dengan perasaan ringan.
Apalagi, yang perlu ditakutkan kini?
Kubuka pintu, tiga orang lelaki masuk.
Mereka memperkenalkan diri dengan
sangat sopan sebagai petugas-petugas
kepolisian. Seorang tetangga mendengar
pekik si tua itu semalam. Menduga ada
tindak kejahatan, ia melapor kantor polisi.
Dan mereka (para polisi itu) ditugasi untuk
melakukan penyidikan atas kecurigaan si
tetangga.
Aku tersenyum. Apalagi, yang perlu
ditakutkan? Dengan ramah kupersilakan
mereka masuk. Pekik itu, kataku, keluar
dari mulutku di saat mimpi. Kujelaskan
kepada mereka bahwa si orang tua sedang
tidak di rumah. Lalu, kubawa mereka
melihat-lihat seisi rumah. Kupersilakan
mereka memeriksa -- memeriksa dengan
teliti. Akhirnya, kubawa ketiga orang itu ke
kamar si tua. Kuperlihatkan kepada mereka
barang-barang berharga miliknya. Semua
aman, tak tercolek. Dengan kepercayaan
diri yang melambung, aku mengusung
kursi-kursi ke dalam kamar itu. Dan
meminta mereka untuk melepas lelah di
tempat itu. Sementara aku sendiri, dalam
gelegak keberanian, karena kemenangan
yang sempurna, meletakkan kursiku tepat
di atas tempat aku menyimpan mayat si
tua.
Para petugas merasa puas. Perlakuanku
meyakinkan mereka. Aku sendiri merasa
tenang. Mereka duduk. Sementara aku
menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan
keseharian yang normal. Tapi, sebentar
kemudian aku merasa parasku memucat
dan berharap agar mereka segera pergi.
Kepalaku pening, dan aku merasakan
penging di telingaku. Namun, mereka tetap
duduk dan bercakap-cakap. Suara penging
itu makin jelas: terus-menerus dan makin
jelas. Aku bicara lebih keras untuk
mengusir perasaan itu. Namun, suara
penging itu terus saja dan makin pasti.
Sampai akhirnya aku sadar bahwa suara
penging itu bukan di dalam telingaku.
Parasku, aku yakin makin memucat.
Namun, bicaraku lebih fasih dan lebih
lantang. Suara penging itu "bangkit". Aduh,
apa yang bisa kulakukan? Kudengar suara
lemah, samar-samar, yang berdetak dalam
tempo cepat. Seperti, detak jam yang
terbungkus kain. Napasku tersengal.
Namun, para petugas itu tidak
mendengarnya. Bicaraku lebih cepat, lebih
meyakinkan. "Bebunyian" keparat itu makin
kuat. Aku bangkit dan mendebat segala
topik pembicaraan yang sepele, dalam
nada tinggi dan gerak tubuh yang kasar.
Dan bunyi itu terus menguat.
Mengapa mereka tidak mau pergi? Aku
mondar-mandir dengan langkah panjang
dan menghentak. Seolah-olah merasa
terganggu oleh pemeriksaan yang mereka
lakukan. Tapi, bunyi keparat itu terus
menguat. Ya, Tuhan! Apa yang bisa
kulakukan? Aku meradang. Aku meracau.
Aku mengutuk! Kuangkat kursi yang
kududuki dan kuhempaskan benda itu ke
lantai papan. Namun, kegaduhan yang
ditimbulkanya tertelan oleh bunyi detak
keparat yang terus menguat itu. Suara itu
makin kencang, makin kencang, makin
kencang! Para petugas, tetap melanjutkan
percakapan seperti tak terjadi apa-apa.
Mereka cuma tersenyum. Bagaimana
mungkin mereka tidak mendengar suara
itu? Demi Tuhan! Tidak! Tidak! Mereka juga
mendengar. Mereka curiga. Mereka tahu!
Mereka pasti sedang menemoohkan
ketakutanku. Kupikir begitu. Cara lain
kurasa jauh lebih baik dari siksaan seperti
ini! Cara lain apa pun lebih bisa
ditanggungkan daripada pelecehan ini! Aku
tidak kuat lagi melihat senyum pura-pura
mereka. Aku merasa bahwa aku harus
berteriak. Atau aku mampus! Dan sekarang,
bunyi itu lagi. Dengar! Makin kencang.
Makin kencang. Makin kencang!
"Jahanam!" aku memekik, "tak usah
berpura-pura lagi! Aku yang melakukan
semuanya! Bongkar saja papan ini di sini,
di sini! Di sinilah dentam jantung keparat
itu!"
Memang benar! Aku gelisah, sangat-sangat
gelisah pada waktu itu -- sekarang pun
masih. Namun, mengapa kalian
menyebutku gila? Rasa sakit menajamkan
inderaku, bukan melemahkannya. Apalagi,
membuatnya tumpul. Dibanding indera
lainnya, indera pendengaranku paling
tajam. Aku mendengar semua hal di langit
dan di bumi. Aku mendengar suara di
neraka. Bagaimana bisa aku disebut gila?
Dengarlah! Kalian akan tahu betapa
warasnya aku. Betapa tenangnya aku. Akan
kuceritakan kepada kalian seluruh detail
kejadiannya.
***
Sulit menceritakan bagaimana mula-mula
pikiran itu menyusup dalam benakku.
Namun, begitu masuk, pikiran memburuku
siang malam. Tak ada niat dan aku tak ada
dendam padanya. Aku mencintai orang tua
itu. Ia tak pernah berbuat salah kepadaku.
Juga tak pernah melukai hatiku. Emasnya
pun tak kuinginkan. Kupikir yang menjadi
persoalan adalah matanya. Hmm, ya,
matanya! Salah satu bola matanya
menyerupai mata burung pemangsa –
mata yang biru dan berselaput. Setiap kali
mata itu menatapku, darahku terasa beku.
Dan sedikit demi sedikit -- secara
berangsur-angsur -- aku membulatkan hati
untuk membunuhnya. Sehingga, terbebas
selamanya dari sergapan mata burung
pemangsa itu.
Di sinilah pangkal soalnya. Kau akan
menganggapku gila. Semua orang gila
pasti tidak tahu apa-apa. Namun kau akan
melihat bagaimana aku melakukannya. Kau
akan melihat betapa cerdiknya aku
menyelesaikan pekerjaanku -- begitu rapi,
terencana. Kemudian, berpura-pura tidak
tahu apa-apa. Aku menjadi lebih manis
kepada oang tua itu pada seminggu
terakhir sebelum aku membunuhnya.
Setiap malam, menjelang tengah malam,
aku memutar gagang pintu kamarnya dan
membukanya -- hmm, begitu hati-hati.
Dan kemudian ketika pintu kamar itu
terkuak dan cukup bagiku untuk
memasukkan kepala, kumasukkan lentera
berkatup yang kurapatkan semua
lempengan katupnya. Sehingga, tidak ada
sinar yang menerobos keluar dari lentera
itu. Lalu, kusorongkan kepalaku ke dalam.
Oh, kau pasti terkejut melihat betapa
cerdiknya aku menyusupkan kepala.
Semua kulakukan pelan-pelan, sangat-
sangat pelan. Sehingga, tidak
mengganggu tidur orang tua itu.
Kuperlukan satu jam untuk menempatkan
posisi kepala sebaik-baiknya di celah
pintu. Sehingga, aku bisa leluasa melihat
orang tua itu berbaring di ranjangnya. Nah,
bisakah orang gila melakukan pekerjaan
secerdik ini? Dan ketika kepalaku sudah
leluasa, aku membuka katup penutup
lentera dengan hati-hati -- begitu hati-hati
-- jangan sampai engsel katupnya berderit.
Aku membuka seperlunya saja, cukup agar
seberkas tipis cahaya bisa menerangi mata
burung pemangsa itu. Dan pekerjaan
seperti ini kulakukan selama tujuh malam
berturut-turut, tiap datang tengah malam.
Namun, selalu kujumpai mata itu tertutup.
Dalam keadaan seperti itu tentu mustahil
melanjutkan rencanaku. Karena, bukan
orang tua itu yang membangkitkan
marahku. Tapi, mata itu! Pagi harinya, di
saat fajar, sengaja kudatangi kamarnya.
Kuajak ia bercakap-cakap, kusapa
namanya penuh semangat. Kutanya pula
apa tidurnya nyenyak semalam. Dengan
demikian, kau tahu, diperlukan kecerdasan
tertentu pada si tua itu untuk menduga
bahwa setiap malam, tepat pukul dua
belas, aku selalu mengamatinya ketika ia
tidur.
Pada malam ke delapan aku membuka
pintu lebih hati-hati ketimbang malam-
malam sebelumnya. Jarum menit jam
dinding, bahkan lebih cepat ketimbang
gerakan tanganku. Baru pada malam itu
aku merasakan begitu besarnya
kekuatanku -- begitu cerdiknya akalku.
Hampir aku tidak bisa menahan luapan
perasaan menangku. Membayangkan diriku
sendiri sedang menguakkan pintu, sedikit
demi sedikit, dan orang tua itu bahkan
tidak pernah berkhayal tentang apa yang
kulakukan dan apa yang kupikirkan. Aku
tergeletak dengan lintasan pikiran ini.
Mungkin, ia mendengar suaraku. Karena,
tiba-tiba, ia menggerakkan tubuhnya
seperti orang terkejut. Sekarang kau pasti
berpikir bahwa aku akan mundur. Tidak!
Kamarnya gelap pekat, jendelanya tertutup
rapat. Karena itu, aku tahu bahwa ia tidak
melihat pintu kamarnya terkuak, dan aku
terus saja mendorong daun pintu itu
sedikit demi sedikit.
Aku menyusupkan kepalaku ke celah pintu
dan sedang membuka katup lentera, ketika
jempolku tiba-tiba selip dan mengetuk
lempengan penutup, dan si tua itu bangkit
dari ranjangnya.
"Siapa itu?" teriaknya.
Aku mematung di tempatku dan tak
mengeluarkan sepatah kata pun. Dalam
satu jam aku sama sekali tak bergerak.
Selama itu, pula aku tak mendengar ia
merebahkan tubuhnya lagi. Ia tetap duduk
di ranjangnya dan mendengarkan. Seperti
aku, malam demi malam. Mendengar detak
jam kematian di dinding.
Tiba-tiba kudengar erangan kecil, dan aku
tahu itulah erangan yang muncul. Karena,
teror kematian. Bukan erangan, karena sakit
atau dukacita. Sama sekali bukan. Itu
suara lemah orang tercekik. Suara yang
muncul dari dasar jiwa yang diteror
kengerian. Aku kenal sekali dengan suara
itu. Beberapa malam, tepat tengah malam,
di saat dunia terlelap, suara itu bangkit
dari dadaku, menusuk-nusuk. Gaungnya
mengerikan. Sebuah teror yang
menggelisahkan. Kubilang aku kenal betul
suara itu. Aku tahu apa yang dirasakan
orang tua itu, dan turut berduka atas
kemalangannya, meskipun dalam hati aku
ketawa. Aku tahu bahwa matanya tak
pernah lagi terpejam, sejak ia dikejutkan
oleh suara yang membangunkannya. Rasa
takutnya tumbuh semakin besar. Ia coba
menenangkan diri, tapi tidak bisa. Ia
yakinkan dirinya sendiri, "Tidak ada
apapun, hanya angin di cerobong asap –
hanya tikus yang merayap," atau "hanya
jangkrik yang mengerik." Ya, ia mencoba
menenangkan diri dengan dugaan-dugaan
seperti itu, tapi sia-sia. Sia-sia; sebab
maut yang menguntitnya diam-diam kini
telah mengepung korbannya dengan
bayang-bayang hitam. Dan efek muram
bayang-bayang yang tak tampak itulah
yang menyebabkan ia merasakan -- bukan
mendengar atau melihat. Namun
merasakan -- kehadiran kepalaku di
kamarnya.
Setelah cukup lama menunggu, dengan
sangat sabar, tanpa mendengar ia
membaringkan kembali tubuhnya, maka
kubuka sedikit -- sedikit sekali -- katup
lentera untuk membuka celah kecil. Kau
takkan bisa membayangkan betapa hati-
hatinya aku membuka katup itu. Sehingga,
akhirnya seutas cahaya, setipis sulur
benang laba-laba, memancar dari celah
lentera dan jatuh tepat di mata burung
pemangsa itu.
Mata itu terbuka, begitu lebar. Amarahku
bangkit ketika melihat mata itu terbuka.
Jelas sekali kulihat -- mata biru berkabut,
dengan selaput yang mengerikan, yang
menusukkan hawa dingin di sumsum
tulangku. Namun, sama sekali tak kulihat
wajah orang tua itu: sebab seolah
dibimbing oleh naluriku, cahaya lentera
kuarahkan tepat pada bulatan mata keparat
itu.
Jadi, bukanlah yang kau sebut gila itu
sesungguhnya adalah inderaku yang
begitu tajam? Sekarang aku mendengar
suara lemah, samar-samar, berdetak dalam
tempo cepat seperti detak jam yang
terbungkus kain. Aku kenal betul suara itu.
Ialah bunyi detak jantung orang tua itu.
Kemarahanku memuncak, sebagaimana
keberanian seorang serdadu naik, karena
pukulan genderang.
Kendati demikian aku masih menahan diri.
Kutahan napasku. Kujaga lentera di
tanganku. Kujaga agar sinarnya tetap jatuh
ke matanya. Sementara detak jantung
terkutuk itu temponya semakin meningkat.
Makin lama makin cepat, dan makin keras.
Ketakutan si tua itu, pastilah luar biasa!
Suara itu makin keras, kubilang, bertambah
keras setiap saat. Kau catatkah
omonganku baik-baik? Telah kukatakan
kepadamu bahwa aku gelisah: begitulah
yang kurasakan. Dan sekarang pada jam
kematian malam itu, di tengah kebisuan
yang mencekam di rumah tua itu, dentam
aneh itu menyiksaku layaknya sebuah teror
yang tak tertanggungkan. Aku masih
menahan diri beberapa menit dan tetap tak
beraksi. Namun, dentam itu makin
memekakkan. Kupikir jantungnya pasti
segera meledak. Dan sekarang aku
merasakan kecemasan baru -- para
tetangga pasti akan mendengar bunyi itu!
Tiba sudah waktu bagi si tua! Dengan
teriakan keras, aku membuka semua katup
lentera dan merangsek masuk ke dalam
kamar. Sekali ia memekik, hanya sekali.
Dalam sekejap aku menyeretnya ke lantai
dan membekapnya dengan kasur tebalnya.
Setelah itu, senyumku mengembang,
semua pekerjaan beres. Bermenit-menit
jantung itu masih berdetak samar-samar.
Namun, tak lagi membuatku jengkel.
Suaranya takkan mampu menembus
dinding. Akhirnya bunyi itu berhenti. Si tua
mati. Aku mengangkat kasur dan
memeriksa mayatnya. Ya, ia sudah mati.
Matanya takkan menyusahkan aku lagi.
Kalau masih kau anggap gila aku,
anggapan itu tak akan berlaku lagi bila
kulukiskan apa yang kulakukan untuk
menyembunyikan mayatnya. Malam
melarut, dan aku mengebut pekerjaanku,
tanpa suara. Pertama-tama kumutilasi
mayat itu. Kupenggal kepalanya, kedua
lengannya, dan kedua kakinya.
Kemudian, kubongkar tiga bilah papan
lantai kamar itu dan kumasukkan
potongan-potongan tubuhnya ke dalam
rongga di bawah lantai kamar. Setelah itu
kukembalikan lagi papan lantai seperti
semula, begitu sepele, begitu rapi.
Sehingga, tak satupun mata -- termasuk
mata si tua itu -- yang menemukan adanya
kejanggalan. Tak ada yang perlu dicuci.
Karena, tak ada ceceran noda apa pun. Tak
ada bercak darah sekecil apa pun. Aku
sangat waspada terhadap semua itu. Bak
mandi sudah menampung semuanya. Ha!
Ha!
Jam empat pagi semua pekerjaanku selesai
sudah. Hari masih gelap seperti tengah
malam. Bersamaan dengan dentang
lonceng jam, terdengar ketukan di pintu
depan. Aku turun dengan perasaan ringan.
Apalagi, yang perlu ditakutkan kini?
Kubuka pintu, tiga orang lelaki masuk.
Mereka memperkenalkan diri dengan
sangat sopan sebagai petugas-petugas
kepolisian. Seorang tetangga mendengar
pekik si tua itu semalam. Menduga ada
tindak kejahatan, ia melapor kantor polisi.
Dan mereka (para polisi itu) ditugasi untuk
melakukan penyidikan atas kecurigaan si
tetangga.
Aku tersenyum. Apalagi, yang perlu
ditakutkan? Dengan ramah kupersilakan
mereka masuk. Pekik itu, kataku, keluar
dari mulutku di saat mimpi. Kujelaskan
kepada mereka bahwa si orang tua sedang
tidak di rumah. Lalu, kubawa mereka
melihat-lihat seisi rumah. Kupersilakan
mereka memeriksa -- memeriksa dengan
teliti. Akhirnya, kubawa ketiga orang itu ke
kamar si tua. Kuperlihatkan kepada mereka
barang-barang berharga miliknya. Semua
aman, tak tercolek. Dengan kepercayaan
diri yang melambung, aku mengusung
kursi-kursi ke dalam kamar itu. Dan
meminta mereka untuk melepas lelah di
tempat itu. Sementara aku sendiri, dalam
gelegak keberanian, karena kemenangan
yang sempurna, meletakkan kursiku tepat
di atas tempat aku menyimpan mayat si
tua.
Para petugas merasa puas. Perlakuanku
meyakinkan mereka. Aku sendiri merasa
tenang. Mereka duduk. Sementara aku
menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan
keseharian yang normal. Tapi, sebentar
kemudian aku merasa parasku memucat
dan berharap agar mereka segera pergi.
Kepalaku pening, dan aku merasakan
penging di telingaku. Namun, mereka tetap
duduk dan bercakap-cakap. Suara penging
itu makin jelas: terus-menerus dan makin
jelas. Aku bicara lebih keras untuk
mengusir perasaan itu. Namun, suara
penging itu terus saja dan makin pasti.
Sampai akhirnya aku sadar bahwa suara
penging itu bukan di dalam telingaku.
Parasku, aku yakin makin memucat.
Namun, bicaraku lebih fasih dan lebih
lantang. Suara penging itu "bangkit". Aduh,
apa yang bisa kulakukan? Kudengar suara
lemah, samar-samar, yang berdetak dalam
tempo cepat. Seperti, detak jam yang
terbungkus kain. Napasku tersengal.
Namun, para petugas itu tidak
mendengarnya. Bicaraku lebih cepat, lebih
meyakinkan. "Bebunyian" keparat itu makin
kuat. Aku bangkit dan mendebat segala
topik pembicaraan yang sepele, dalam
nada tinggi dan gerak tubuh yang kasar.
Dan bunyi itu terus menguat.
Mengapa mereka tidak mau pergi? Aku
mondar-mandir dengan langkah panjang
dan menghentak. Seolah-olah merasa
terganggu oleh pemeriksaan yang mereka
lakukan. Tapi, bunyi keparat itu terus
menguat. Ya, Tuhan! Apa yang bisa
kulakukan? Aku meradang. Aku meracau.
Aku mengutuk! Kuangkat kursi yang
kududuki dan kuhempaskan benda itu ke
lantai papan. Namun, kegaduhan yang
ditimbulkanya tertelan oleh bunyi detak
keparat yang terus menguat itu. Suara itu
makin kencang, makin kencang, makin
kencang! Para petugas, tetap melanjutkan
percakapan seperti tak terjadi apa-apa.
Mereka cuma tersenyum. Bagaimana
mungkin mereka tidak mendengar suara
itu? Demi Tuhan! Tidak! Tidak! Mereka juga
mendengar. Mereka curiga. Mereka tahu!
Mereka pasti sedang menemoohkan
ketakutanku. Kupikir begitu. Cara lain
kurasa jauh lebih baik dari siksaan seperti
ini! Cara lain apa pun lebih bisa
ditanggungkan daripada pelecehan ini! Aku
tidak kuat lagi melihat senyum pura-pura
mereka. Aku merasa bahwa aku harus
berteriak. Atau aku mampus! Dan sekarang,
bunyi itu lagi. Dengar! Makin kencang.
Makin kencang. Makin kencang!
"Jahanam!" aku memekik, "tak usah
berpura-pura lagi! Aku yang melakukan
semuanya! Bongkar saja papan ini di sini,
di sini! Di sinilah dentam jantung keparat
itu!"
